Membaca “Menunggu Pulang” Karya Suryawan Wahyu Prasetyo: Rumah Dengan Banyak Pintu

Image

Semua orang punya definisi tentang “rumah” yang berbeda satu sama lain. Rumah bisa jadi adalah bangunan dengan pintu, jendela dan atap, yang kita tinggali. Rumah kemudian bisa diartikan menjadi bentuk-bentuk yang lebih abstrak; keluarga biologis, teman-teman yang memiliki kesamaan minat, hati seseorang, kenang-kenangan, harapan tentang masa depan. Seperti yang terangkum dalam buku kumpulan cerpen “Menunggu Pulang” karya Suryawan Wahyu Prasetyo atau yang akrab disapa Yuya. Terdapat 18 judul cerita dalam buku ini dan tiap cerita memaknai bentuk rumah, tujuan seseorang untuk pulang, yang berbeda satu sama lain.

Seperti yang dikatakan oleh Yuya, sang penulis, dalam pengantar buku ini bahwa baginya menulis adalah mendokumentasikan, seperti itulah rasanya membaca cerita-cerita dalam buku ini. Tiap cerita terasa begitu dekat, seperti sedang melihat-lihat album foto seseorang, mengintip sebagian dari sejarah hidupnya. Continue reading

Advertisements

Cerita-Cerita Asing

Indonesia, sebuah negeri kaya raya. Aku sangat yakin, Indonesia diciptakan Tuhan ketika Tuhan sedang tersenyum bahagia. Dimana lagi bisa kita temui negeri seindah Indonesia, saat segala sesuatunya bisa berjalan dengan selaras. Keindahan alam dengan kekayaan hasil bumi yang begitu melimpah. Jika diumpamakan sebagai perempuan, sepertinya Indonesia layak menyandang predikat sebagai perempuan tercantik sepanjang masa. Jika dimisalkan laki-laki, tentunya Indonesia sangat pantas menerima status sebagai laki-laki terjantan sepanjang masa. Ibarat barang indah kwalitas istimewa, bagus secara bentuk kuat secara ketahanan, bukanlah sesuatu yang aneh jika banyak orang yang berebut untuk memilikinya. Continue reading

Mengingat Pulang

Ketika mendengar kata pulang aku selalu teringat akan pergi dan rumah. Tiga kata yang menurutku berkaitan erat. Ketika aku masih sekolah dasar, orang tuaku selalu bertanya “Pulang jam berapa?” setiap aku pergi untuk bermain. Aku sendiri selalu menjawab, “nanti….” sambil teriak dan berlari pergi ke luar rumah. Pada kenyataanya aku hampir selalu pulang ketika senja sebelum maghrib, ketika aku sudah letih bermain dan teman-teman sebayaku juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Saat ini, ketika aku sudah kuliah semester sangat akhir, aku mengidentifikasikan pulang sebagai suatu kegiatan untuk kembali ke rumah, setelah pergi tentu saja.

Karena darah Jawa yang mengalir di tubuhku atau karena sampai saat ini aku lebih banyak menghabiskan umur di tanah Jawa, aku lebih suka menggunakan kata “mulih” (Bahasa Jawa yang berarti pulang). Menurutku “mulih” mewakili banyak hal dalam kaitannya pergi dan kembali ke rumah. Continue reading