Mengingat Pulang

Ketika mendengar kata pulang aku selalu teringat akan pergi dan rumah. Tiga kata yang menurutku berkaitan erat. Ketika aku masih sekolah dasar, orang tuaku selalu bertanya “Pulang jam berapa?” setiap aku pergi untuk bermain. Aku sendiri selalu menjawab, “nanti….” sambil teriak dan berlari pergi ke luar rumah. Pada kenyataanya aku hampir selalu pulang ketika senja sebelum maghrib, ketika aku sudah letih bermain dan teman-teman sebayaku juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Saat ini, ketika aku sudah kuliah semester sangat akhir, aku mengidentifikasikan pulang sebagai suatu kegiatan untuk kembali ke rumah, setelah pergi tentu saja.

Karena darah Jawa yang mengalir di tubuhku atau karena sampai saat ini aku lebih banyak menghabiskan umur di tanah Jawa, aku lebih suka menggunakan kata “mulih” (Bahasa Jawa yang berarti pulang). Menurutku “mulih” mewakili banyak hal dalam kaitannya pergi dan kembali ke rumah.

Mendengar “mulih” aku membayangkan suatu kondisi untuk memulihkan kembali energi yang telah terkuras. Bagiku, satu-satunya tempat yang bisa untuk memulihkan kondisi batin dan fisik adalah rumah. Lantas seperti apakah rumah itu? Ah, semua orang tentu mempunyai jawabannya masing-masing.

Aku pikir, kita semua tentu bisa saja mengklaim suatu bangunan sebagai bentuk fisik menjadi rumah, tempat kita kembali, beristirahat dan memulihkan kembali kondisi. Tempat tinggalku bersama keluarga, kamar kost, bahkan jalanan pernah menjadi rumahku.

Ada seorang temanku yang memiliki kegemaran jalan-jalan, bahasa kerennya backpacker-an. Aku sendiri menyebutnya pengembara. Suatu waktu secara tidak sengaja aku bertemu dengannya di Jogja, kota tempatku kuliah. Waktu itu kutanya padanya, apa tidak rindu pulang ke rumah? Lantas dia mengatakan kalau di mana kaki dipijak, di situlah rumahnya. Aku diam saja waktu itu, tidak mengamini juga tidak menyanggah pendapatnya. Waktu itu aku sedang sangat rindu untuk pulang ke kediaman orang tuaku.

Bagiku, pulang atau “mulih” itu tidak hanya kembali untuk memulihkan kondisi tetapi juga untuk mengingat kembali asal muasal kita. Dengan “mulih” kita tidak menjadi “kacang yang lupa akan kulitnya”. Itulah mengapa aku sangat menghargai mereka yang mudik, pulang kampung. Kegiatan yang kerap kita temui di Indonesia pada akhir Bulan Ramadhan. Setelah pergi meninggalkan daerah asal, mencari penghidupan baru di tempat yang juga baru, mereka rela capek berdesak-desakan, mengalami kemacetan lalu lintas, mengeluarkan biaya mahal, hanya untuk pulang. Membawa berbagai hasil dari penghidupan baru menuju kampung halaman, napak tilas perjalanan hidup, mengingat kembali asal mereka.

Beberapa ajaran mengatakan manusia pertama adalah adam, diciptakan di langit lantas diturunkan ke bumi. Aku mengamini hal itu seperti aku mengamini bahwa ada kehidupan kekal setelah kehidupan di dunia ini. Ketika aku mengamini adam diciptakan di langit, maka secara tidak langsung aku mengamini jika kita sebagai manusia sesungguhnya adalah makhluk langit yang sedang pergi ke bumi. Suatu saat nanti, kita semua pasti akan “mulih” ke rumah, ke langit. Jika langit itu adalah rumah bagi manusia, maka adalah suatu hal yang wajar ketika di langit kehidupan menjadi kekal. Bagaimana tidak, bukankah di rumah energi kita tidak ada habis-habisnya? Sedangkan energi itu sendiri adalah sumber kehidupan.

Temanku yang kusebut pengembara tadi, mungkin karena di manapun dia berada di sanalah rumahnya, maka dia tidak pernah kehabisan energi untuk terus mengembara, bepergian dari rumah ke rumah. Aku tidak sempat bertanya padanya tentang langit, apakah itu juga menjadi rumahnya? Biarlah, toh jika nanti kami bertemu di langit, maka bisa dipastikan langit juga menjadi rumahnya. Jika tidak, mungkin dia sedang berada di rumahnya yang lain atau aku yang tersesat dan tidak bisa pulang ke langit. Hei, atau mungkin langit kami berbeda?

Perihal pulang ke langit, aku sendiri selalu bisa berkaca pada rombongan para pemudik yang tadi kuceritakan. Kehidupan di dunia adalah tempat mencari kehidupan baru, mengumpulkan bekal untuk di bawa pulang ke langit, seperti itulah gambaran kasarnya. Lantas, bagaimana cara pulang? Menurutku, setiap orang bisa memilih jalan pulangnya masing-masing. Satu hal yang pasti, kita semua harus melewati gerbang kematian untuk pulang. Melepaskan semua atribut duniawi, termasuk raga yang kita miliki saat ini. Seperti para pemudik yang melepaskan atribut mereka dan hanya menjadi orang kampung asal.

Dulu ketika aku hendak pergi bermain, orang tuaku sering bertanya “Kapan pulang?” dan kujawab dengan “nanti…”. Sekarangpun ketika pertanyaan yang hampir mirip kupertanyakan pada diriku sendiri “Kapan pulang? Kapan mati?” aku hampir selalu menjawab dengan “nanti…”. Sepertinya memang aku terlalu senang bermain, melupakan pulang, melupakan kematian. Iya, itu aku. Lantas, bagaimana denganmu? Kapan pulang?

Danu Saputra, September 2011

17 thoughts on “Mengingat Pulang

  1. Ini semacam semi-fiksi semi-nonfiksi ya..? *halah* Kalo aku baca, ini malah jadi semacam kaya renungan, mungkin emang dirimu mau bikinnya seperti itu ya? hehe.

    Ceritanya cukup bisa bikin merenung, tapi ada beberapa bagian yang kayaknya perlu diperhatikan lagi.. Masalah EYD dan aliran kalimat, soalnya ada beberapa kalimat yang terasa kurang nyambung dengan kalimat sebelumnya. *halah lagi*

    Btw, maaf ya, bukannya mau sok tau atau gimana.. huhu.. hanya menyampaikan opini saja.. *sungkem*

    • Silahkan mas KIP diartikan sendiri, fiksi atau non bebas buat pembaca.

      Makasih mas, opini mas KIP tanda apresisasi, saya justru senang. Jangan bosan berkunjung ke KMTG ya😀

  2. I think I’m lost,,ga tau mau plng naik apa,lewat jalan mana,tapi aq yakin cepat atau lambat pasti akan pulang… Tunggu aq yah kawan🙂

  3. (dulu) Aq sering t’sesat d ujung dunia bernama sunyi skarng d tengah keramaian Aq malah t’kungkung. Aq jg ingin pulang, no maden!

  4. pernah berbincang soal “mulih”…
    ketika mengembara sbg mahasiswa pernahkah kita ditanya oleh seseorg?
    “pulang yuk?”
    “pulang kemana?”
    “ke kos”
    “kos kamu anggap pulang?”
    “terkadang”
    Ketika nggombal dengan pacar
    “kamu ingin aku jadi apamu”
    “aku ingin kamu jadi tempatmu berpulang, aku berharap kamu dapat menjadi rumah bagiku”
    #oooohghhh
    ketika melancong ke negeri orang
    “tak pernah terucap kata pulang lagi, belum ada yg dipulangi…”
    “selepas jam kantor,mau kemana, gak pulang ke mess?”
    “gak…. aku mau balik ke mess..”
    “loh?? bedanya”
    “pikir sendiri”

    • Jemak, mun wah sarjana😀
      Jadi inget, klo disusun Bahasa Sasak ke Bahasa Jawa terus Bahasa Indonesia:
      Uleq = Mulih = Pulang.
      Tulak = Bali = Pulang.
      ternyata bahasa daerah di Indonesia itu kaya makna sekali. Semakin cinta Indonesia.

  5. Setelah baca ini… jadi teringat Ibu klo telp pasti tanyanya kapan plng dari tugas dan kapan pulang k rumah ? heeeemmmm… Aku selalu merindukan rumah dan akan selalu pulang😉

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s