Sebait Doa

Surga itu kondisi ketika hatiku dan hatimu tak berjarak lagi. (Danu Saputra)

Neraka adalah genggaman erat di tanganku, namun hatimu tertinggal di masa lalu. (Almas Karamina)

~

Mereka yang kamu anggap teman itu. Tidak pernah bisa merasakan bagaimana kehilanganmu. Apakah itu teman? (Danu Saputra)

Apakah kau tahu, bagaimana rasa kehilangan itu? Tiadanya pengungkapan, justru seringkali akibat perasaan yang terlalu dalam. Dan kau mungkin tak akan pernah tahu. (Almas Karamina) Continue reading

Advertisements

Kabar dari Kampung Kami

Aku tinggal di mana kau harus berjalan kaki setidaknya lima belas kilometer jauhnya untuk melihat jalan mulus teraspal. Di perjalanan itu kau, mau tak mau, harus menyebrang sungai setinggi dada airnya, juga merelakan kaki telanjangmu gatal dihampiri rumput liar sepanjang jalan tanah liat setapak yang membelah kebun-kebun lada. Kadang kau akan bertemu anjing-anjing liar yang tersesat di dalam kebun hingga kelaparan, kau harus bersiap, untuk lari atau sembunyi di atas pohon lamtoro, tempat merambatnya lada. Itu belum seberapa, kakekku bilang sewaktu ia seusiaku, beruang yang kerap menghampiri. Sayang, kini tak lagi bisa kau temui beruang hutan di sini. Continue reading

Dari Anggi Buat Danu

Pertemuan pertamaku denganmu, kusangka sedang terjebak dalam pertemuan MLM, dengan kau sebagai bintang tamu yang siap membual dan memperdagangkan mimpi. Ternyata, malam itu berakhir lancar, tanpa presentasi MLM dan aku pulang dengan perut sakit, rahang pegal akibat terlalu banyak tertawa mendengar celotehmu. Tapi tetap saja buatku kau terlalu ramai. Sedang aku butuh hening. Dalam hati aku berharap, mengenalmu tidak lantas membuat hidupku jadi gaduh. Discovery Cafe, jadi saksi kau masuk dalam hidupku.

  Continue reading

‘Kado’ Ultah Buat Danu

Berlin, 11 : 11 p.m.

Empat Puluh Sembilan menit lagi menuju usia barumu, 25 tahun.

Seperempat abad sudah kini kau punya usia. Congratulatioonnn!!!! #ayeaye!

Hai, gimana rasanya menjadi tua, Nu? Ah, pasti rasanya biasa aja kan, nggak ada yang berubah. Cuma makin diingatkan aja akan jatah (waktu). It’s running faster, isn’t it?

Continue reading

Ditinggalkan Itu Tidaklah Menyakitkan

Aku duduk di sudut ruangan di lantai dua dekat dengan jendela. Dua gelas coklat panas ada di atas meja. Ini tempat favorit kita, melihat jalan di luar halaman cafe, menikmati pemandangan kendaraan yang lalu lalang sambil menyesap minuman kesukaan kita, coklat panas.

Temui aku di tempat biasa jangan kau terlambat waktuku tak banyak..

Continue reading

Akhir 31 di Lantai 31

Layar monitor PC-ku masih menyala. Secangkir kopi, bukan kopi hitam, menemani malamku. Baru saja senja berlalu dari pandanganku. Ya, ini senja terakhir di tahun 2009. Kalender di meja kerjaku masih memajang kalender 2009. Aku belum punya kalender tahun 2010, padahal 2010 hanya tersisa beberapa jam lagi.

Kulirik jam dinding di sudut ruang. Masih pukul 22.25 WIB. Tugas aku belum selesai dan masih lama menuju pukul 24.00 WIB. Aku kembali menekuni dokumen dengan PC-ku. Continue reading

Mengingat Pulang

Ketika mendengar kata pulang aku selalu teringat akan pergi dan rumah. Tiga kata yang menurutku berkaitan erat. Ketika aku masih sekolah dasar, orang tuaku selalu bertanya “Pulang jam berapa?” setiap aku pergi untuk bermain. Aku sendiri selalu menjawab, “nanti….” sambil teriak dan berlari pergi ke luar rumah. Pada kenyataanya aku hampir selalu pulang ketika senja sebelum maghrib, ketika aku sudah letih bermain dan teman-teman sebayaku juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Saat ini, ketika aku sudah kuliah semester sangat akhir, aku mengidentifikasikan pulang sebagai suatu kegiatan untuk kembali ke rumah, setelah pergi tentu saja.

Karena darah Jawa yang mengalir di tubuhku atau karena sampai saat ini aku lebih banyak menghabiskan umur di tanah Jawa, aku lebih suka menggunakan kata “mulih” (Bahasa Jawa yang berarti pulang). Menurutku “mulih” mewakili banyak hal dalam kaitannya pergi dan kembali ke rumah. Continue reading