Tak Tepat Waktu

Jogja

“Kamu tahu kopi joss?”

“Apa itu?”

“Kopi arang khas Jogja, kopi dengan arang membara di dalamnya”

“Enak?”

“Saya nggak bisa bilang tapi kamu harus coba, ayo ikut saya.”

Itu awal kita jalan. Saat aku baru pertama menginjakkan kaki di Bumi Kota Pendidikan ini. Saat sebagai perantauan senior, kamu bersemangat sekali mengenalkanku pada kota ini.

Kamu mengajakku berkeliling dari aneka kuliner, mengunjungi berbagai macam situs-situs budaya dan sejarah di Jogja sampai sudut-sudut Jogja yang tak banyak orang tahu.  Sejak saat itu hatiku terpaut pada kota ini.

“Kamu kan untuk kuliah di sini. Lulus harus cepet tapi wawasan tentang Jogja juga nggak boleh bantet. “

 

A Guy

“You don’t know what future bring, it’s just pop into life.”

Terik mentari pagi membayang hangat menyentuh kulitku. Jam tanganku masih menunjukkan jam 06.30 saat aku memasuki gerbang kampus ini. Dari penampilannya, dia nggak jauh beda dengan SMA ku dulu. Bangunan lama, dengan arsitektur khas jaman kolonial Belanda. Tiang-tiang besar, cat tembok putih dipadu dengan kusen cokelat tua, serta pintu dan jendela besar yang mengesankan kemegahan bangunan itu sendiri. Yang berbeda hanyalah kunci pintu yang sudah diganti dengan model masa kini.

“Maba, ya?”

Seorang lelaki berambut ikal dengan potongan agak gondrong menyapaku pagi itu. Suasana memang masih sepi. Aku menyengajakan untuk datang lebih awal dari jadwal yang ditetapkan untuk lebih mengenal dulu tempatku akan menghabiskan waktu empat tahun ke depan ini.

“Iya, kamu?”

“Sama. Muka gue nggak kelihatan seperti mahasiswa tingkat 4 kan?”

“Hehe… Nggak sih, lebih ke mahasiswa tingkat 7 malah.”

“Heh, tingkat 7? sialan.. calon DO dong gue?!!”

Raka namanya, anak Jakarta. Dua tahun lalu berstatus sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan Advertising Ibukota. Keluar kerja dan masuk kuliah adalah keberuntungan buat dia, Setelah kondisi keuangan keluarganya membaik pasca usaha keluarganya bangkrut diterpa gelombang krismon 1998 lalu.

“Hidup itu misteri. Saat kesempatan ada, Ambilah. Karena ia tak akan selamanya tersedia.”

Dari pertemuan awal di kampus pagi itu, cerita di antara kami mengalir begitu saja. Raka seorang yang spontan, apa adanya. Nggak jaim walaupun baru kenal. Prinsip dia, selama dia tidak melanggar hukum, pede aja. Sejak saat itu, Raka jadi sahabat karibku.

 

Atap Jogja

“Capek, mas.”

“Ayo, sebentar lagi sampai.”

“Masih berapa lantai lagi, sih?”

“Tinggal dua lagi.”

“Huu.. uh..”

Mas mengajakku ke tempat yang ia sebut sebagai “atap jogja”. Karena di sini kita bisa melihat kelap-kelip suasana malam Jogja  tanpa perlu ke Bukit Bintang, Patuk, Gunung Kidul.

Tempat ini sebenarnya adalah sebuah tempat makan yang bernama “Sky Dining”. Karena memang tempat ini hanya buka di malam hari. menu yang disediakan sebenarnya biasa, tak ada yang istimewa dan banyak ditemui di tempat lain. Cuma buat mas, tempat ini adalah sudut surga bagi dia, seorang penganut Place-than-Taste. Namun buatku, ini adalah tempat makan pembakar lemak. Masa mau makan harus ngos-ngosan dulu menaiki lima lantai. oh great!

“Atap Jogja” ini lokasinya persis di timur jembatan layang lempuyangan, yang ujungnya menuju ke bebek goreng Cak Koting dan ujung yang lainnya di Phuket, restoran Thailand. Bila kita sampai di lantai paling atas tempat ini, kita juga bisa melihat suasana hilir mudik kereta yang saling bertemu di stasiun kedua Jogja, Lempuyangan.

“Aku belum pernah naik kereta. Gimana sih rasanya?”

Dahi mas mengernyit, alisnya pun ikut naik. “seriusan kamu?”

Aku mengangguk.

“Kasihan ya,” dia menimpali sambil menggeleng-gelengkan kepala dan juga tatapan ngejek.

“Huuuhh.. nyebelin!”

“Besok deh kapan-kapan kita…. ”

“Kita apa?”

“Naik kereta.. ”

“Seriusan?? asiiikkkk!!”

“Iya, kita naik ke atapnya, biar gratis. ha..ha..ha…”

“Ihhhh… Setreeessss!!!!” Aku melempar tissuu ke arahnya.

Kami tergelak dalam tawa malam itu. Untaian cerita demi cerita melebur jadi satu dalam kehangatan. Sampai tak terasa langit mendung menurunkan butir-butir air hujan dan memaksa kami berteduh. Mas menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam. Aku membalas genggamannya. Ada sesuatu yang menggelayut di hatiku, aku tak tahu persis apa itu.

 

Inside the moment

“Love is never planned. That’s explained why love is never been boring.”

Bajunya basah oleh jejak hujan yang barusan mengguyur tiba-tiba. Saya spontan mengenakan jaket parasit yang saya tenteng kepadanya. Siapa saja berhamburan menyelamatkan diri, termasuk kami.

“Hebat ya hujan, bisa membuyarkan kehangatan para manusia.”

“Padahal cuma air kan?”

“Iya, padahal cuma air”

“Aku nggak takut”, dia melepaskan jaket saya dan berlari kecil ke tengah lalu berkacak pinggang ke arah saya. “Kamu takut hujan, mas?”

Sudah gila ini anak. Dia sontak jadi pusat perhatian para pengunjung di sini. Dan tantangannya tadi membuat semua mata juga tertuju pada saya.

Cih, hujan air ini. Oke!

Ok fine. Dengan mengangkat tangan dan menarik alis ke arah pengunjung yang lain –menjawab bahwa saya nggak takut- , saya langkahkan kaki satu demi satu, menyusul anak gila ini.

Plok.. plok.. plok…

Terdengar  tepuk tangan. Sepasang, dua pasang lalu semua pengunjung melakukan hal yang sama. Saya menganggukkan kepala dan tersenyum. Saya tidak berniat menari india, jadi ngapain malu.

“G-i-l-a   k-a-m-u,  d-e-k!” teriak saya gelagepan di bawah hujan deras yang mengguyur.

“Emang aku gila, Lalu kenapa mas ikut-ikutan?”

“….Katanya orang waras butuh kegilaan untuk bisa tetap ‘waras’ , makanya saya memilih menemanimu.”

Di tengah guntur yang sesekali menggema, sayup-sayup lagu Thunder dari Boys Like Girl terdengar.

 

Your voice was the soundtrack of my summer

Do you know you’re unlike any other?

You’ll always be my thunder, and I said

Your eyes are the brightest of all the colors

I don’t wanna ever love another

You’ll always be my thunder

So bring on the rain

And bring on the thunder 

 

Ternyata Home band cafe menangkap moment ini dan mengiringi kegilaan kami. Kami berdua pun larut dalam kegembiraan.

Tak disangka, satu-satu pasangan menyusul kami, berkerumun di tengah rooftop cafe. Seiring ritme lagu yang makin menghentak, kami semua larut dalam tari. Menikmati kegilaan bersama-sama. Horayyy!!

 

I love you, dont you know that ??!

“Cinta menjadi tak pasti saat ia urung diucapkan.”

Grafik cinta itu tak dapat diukur dengan deret hitung atau deret ukur. Ia bisa bermutasi menjadi berkali-kali lipat dalam hitungan menit. Berkembang melebihi kecepatan persebaran sel kanker atau mungkin menyebar sejajar dengan kecepatan cahaya.

Well, apapun analoginya, buat saya cinta tetap tak bisa ditemukan nilai pasti tentangnya. Tapi paling ga, kita bisa dong melihat progress-nya, dari indikasi-indikasi yang telah terjadi.

“Kamu jatuh cinta sama dia.”

Sahabat wanita adalah tempat diskusi yang tepat saat kita got a jumping feeling with a girl. Walaupun nggak bisa dijadikan pedoman seutuhnya, paling nggak dia bisa membuka sisi-sisi wanita yang lelaki nggak ngerti.

Kesimpulan jatuh cinta mengerucut di akhir sesi diskusi sore itu. Dari indikasi bagaimana saya memikirkannya, dari cara saya memperlakukannya, dari bagaimana semangatnya saya menceritakan how time flies on me and her, lately.

“Lo harus bilang ke dia. Harus!”

Saya melongo, memikirkan caranya. Dan kapan melakukannya.

 * * *

Sejak diskusi sore itu pun, hari-hari saya diwarnai repeating question yang menari-nari di kepala saya.

Apa sih susahnya bilang? Just takes a couple minutes and done. RIGHT???

Tapi ternyata beragam spekulasi ‘mengerikan’ lebih menguasai pikiran saya, seperti :

Iya kalau dia juga seperasaan sama saya, klo ga?

Iya kalau diterima, kalau ditolak?

Kalau diterima, apakah iya akan happy ending gitu aja? kayaknya nggak mungkin se-simple itu?

Kalau ditolak, gimana nasib persahabatan kami selanjutnya? Pasti nggak akan pernah sama lagi. Mungkin kita berdua akan memilih jadi orang asing sama sekali satu sama lain.

Mas, Besok ke “atap jogja” yuk, sudah lama kita nggak ke sana. Aku mau cerita kabar gembira nih sama mas. 

Handphone saya bergetar. Satu pesan singkat masuk. dari adek. Time’s up!

 

 Here We Go (Wrong)

” If heart is a package. Is it a fragile one? Can it be taken by a wrong hand? Can It always be delivered on time?”

Saya menunggu di rooftop dengan secangkir coklat panas di dekapan. Jari saya memutar-mutar di bibir cangkir. Dengan jam tangan di meja yang sengaja saya letakkan di meja, sudah lewat beberapa menit dari waktu janjian.

Hari ini adek tak biasanya memilih untuk bertemu di tempat, padahal biasanya dia minta saya jemput dan kita jalan bareng ke mana-mana, termasuk terakhir kali kita menghabiskan waktu di sini.

Sembari menunggu, saya menimbang-nimbang. Apakah ini saat yang tepat untuk bilang perasaan saya padanya. Gimana saya bilangnya. Dan segala kemungkinan yang terjadi setelahnya. Saya masih limbung, tak pasti dalam langkah. Dan di sela ketidakpastian itu, adek datang dari sudut tangga.

“Massss!!!!”

“Heiii!!! Naik apa kamu?”

“Hehe… sama Raka, Mas. Ini kabar gembiraku untukmu, mas. Kenalin pacarku.”

Di belakang adek ada lelaki seumuran adek menyusul. Dengan langkah tegap dan senyum mengembang. Dia menjabat tangan saya.

“Raka.”

Candra Aji, April 2013

One thought on “Tak Tepat Waktu

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s