Membaca “Menunggu Pulang” Karya Suryawan Wahyu Prasetyo: Rumah Dengan Banyak Pintu

Image

Semua orang punya definisi tentang “rumah” yang berbeda satu sama lain. Rumah bisa jadi adalah bangunan dengan pintu, jendela dan atap, yang kita tinggali. Rumah kemudian bisa diartikan menjadi bentuk-bentuk yang lebih abstrak; keluarga biologis, teman-teman yang memiliki kesamaan minat, hati seseorang, kenang-kenangan, harapan tentang masa depan. Seperti yang terangkum dalam buku kumpulan cerpen “Menunggu Pulang” karya Suryawan Wahyu Prasetyo atau yang akrab disapa Yuya. Terdapat 18 judul cerita dalam buku ini dan tiap cerita memaknai bentuk rumah, tujuan seseorang untuk pulang, yang berbeda satu sama lain.

Seperti yang dikatakan oleh Yuya, sang penulis, dalam pengantar buku ini bahwa baginya menulis adalah mendokumentasikan, seperti itulah rasanya membaca cerita-cerita dalam buku ini. Tiap cerita terasa begitu dekat, seperti sedang melihat-lihat album foto seseorang, mengintip sebagian dari sejarah hidupnya.

Yuya menulis kisah-kisah haru biru dengan segala kompleksitas hubungan ‘benci-tapi-cinta’ yang seseorang miliki dengan keluarga. “Abimanyu” adalah cerita mengenai hubungan dalam keluarga modern yang dikemas dalam metafora kisah pewayangan. Sesungguhnya Yuya tengah menceritakan kembali teori psikologi klasik Sigmund Freud yang disebut Oedipus Complex dalam cerita ini. Lalu ada juga cerita sederhana namun begitu hangat “Bambu Runcing” mengenai sepasang kakak dan adik serta hubungan mereka dengan sang ibu. Kisah sepasang kakak dan adik serta hubungan mereka dengan orang tua kembali hadir di “Pesan Terakhir”. Kali ini hubungan antar anggota keluarga ini diceritakan secara kontemporer, merekam bagaimana manusia terhubung lewat jaring-jaring sosial tak kasat mata di internet. Tipikal keluarga di Indonesia yang tak terlalu leluasa mengekspresikan rasa cinta, baik lewat kontak fisik maupun kata-kata, juga coba diketengahkan oleh Yuya dalam “Asmaradana”. Cerita yang kental dengan budaya Jawa ini semacam nostalgia yang indah.

Beberapa cerita terasa begitu pahit, menggunakan tokoh utama perempuan dalam dunia yang telah terhegemoni dengan nilai-nilai tertentu mengenai perempuan. Seperti dalam “Aku Anak Bintang” yang mengambil latar rumah sakit jiwa, “Pada Sebuah Koridor Panjang” bergaya penceritaan alur balik, kemudian “Fatima” mengenai Tenaga Kerja Wanita, lalu ada “Agustus” dengan cuplikan akurat sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Dalam kisah-kisah tersebut, meski mendukung anggapan awam bahwa perempuan adalah makhluk lemah, namun Yuya memberikan kekuatan pada tiap tokoh perempuannya; kekuatan khas perempuan dalam menghadapi perkara-perkara hidup yang mungkin tak dimiliki oleh lelaki.

Yuya sungguh piawai mengisahkan kompleksitas hubungan antar manusia. Cerita-cerita cinta dibungkus dalam tema-tema penuh warna. Seperti “Sedingin Es”, kisah cinta tak sampai antara dua rival dalam olahraga ice skating. Cinta tak sampai dan rivalitas dalam dunia olahraga juga diangkat dalam “Memenangkan Medali”. Tema dan sudut pandang seperti ini jarang diambil oleh cerpenis Indonesia, sehingga tentu memperkaya buku ini.

Dalam kisah cinta, hal-hal sepele seperti duduk berdua menyaksikan senja turun atau mengamati pasangan yang sedang tertidur bisa menjadi peristiwa paling khidmat. Ini dikisahkan Yuya dengan begitu manis dalam “Berdua di Suatu Senja” dan “Curhat Saat Kau Lelap”.

Buku kumpulan cerita “Menunggu Pulang” ini merangkum cerita-cerita tentang cinta, kerinduan, patah hati, harapan, kesedihan, dan mimpi dengan satu benang merah yaitu keinginan untuk pulang. Tentu setiap orang boleh memilih ‘rumah’ tujuan mereka pulang dan cerita-cerita dalam buku ini mewakili pilihan-pilihan itu. Ditulis dengan luwes dan menarik, tiap cerita punya daya untuk menghanyutkan pembacanya. Seperti seorang teman menunggu pulang yang punya banyak kisah untuk diceritakan, seperti itulah buku ini. Seperti rumah dengan banyak pintu untuk dipilih sebagai jalan pulang, seperti itulah buku ini. Selamat membaca!

Amalia Achmad

@amalia_achmad

2 thoughts on “Membaca “Menunggu Pulang” Karya Suryawan Wahyu Prasetyo: Rumah Dengan Banyak Pintu

  1. just finished reading that book tadi pagi. and my favourite goes to “Kita Yang Tak Sama’. Hahahahaha, kurang tebal sih, yaaaa😦
    menunggu buku selanjutnya..🙂

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s