Cerita-Cerita Asing

Indonesia, sebuah negeri kaya raya. Aku sangat yakin, Indonesia diciptakan Tuhan ketika Tuhan sedang tersenyum bahagia. Dimana lagi bisa kita temui negeri seindah Indonesia, saat segala sesuatunya bisa berjalan dengan selaras. Keindahan alam dengan kekayaan hasil bumi yang begitu melimpah. Jika diumpamakan sebagai perempuan, sepertinya Indonesia layak menyandang predikat sebagai perempuan tercantik sepanjang masa. Jika dimisalkan laki-laki, tentunya Indonesia sangat pantas menerima status sebagai laki-laki terjantan sepanjang masa. Ibarat barang indah kwalitas istimewa, bagus secara bentuk kuat secara ketahanan, bukanlah sesuatu yang aneh jika banyak orang yang berebut untuk memilikinya.

Pada satu titik, aku melihat bahwa sejarah manusia di bumi ini sesungguhnya hanyalah catatan tentang segala bentuk usaha untuk menguasai dan juga mendominasi. Catatan yang seringkali terselubung dengan berbagai dalih tetapi jika kita cermati garis merahnya tetap saja hanya sebuah catatan tentang usaha untuk menguasai dan mendominasi. Lihat saja sejarah perang salib yang berselimut agama, sejarah Pocahontas dan Virginia sebagai bentuk kolonialisasi pertama. Di Indonesia dapat juga kita lihat sepak terjang Majapahit dalam mengusasai Nusantara, kemudian pada masa yang dianggap modern masih segar dalam ingatan kita sejarah tentang penjajahan di Indonesia yang dilatar belakangi oleh keinginan VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie) sebagai sebuah perusahaan dagang Belanda untuk menguasai dan mendominasi rempah-rempah dan segala kekayaan alam Indonesia. Bahkan pada abad ke-20 ini masih dapat dengan jelas kita lihat sepak terjang Amerika dengan seijin PBB, sangat leluasa melakukan invansi kepada Iraq pun juga Libya dengan alasan kedamaian dunia. Tentu saja aku tidak percaya begitu saja dengan alasan Amerika tersebut, bagiku invansi itu hanyalah bentuk usaha Amerika untuk menguasai tambang minyak yang ditutupi alasan kedamaian dan pembebasan. Aku sangat tergelitik dengan satu kalimat tentang Amerika ini “We’re gonna bomb you until you’re free”.

Kembali pada Indonesia yang gemah ripah loh jenawi toto tentrem kerto raharjo. Sangat wajar kiranya ketika banyak orang tertarik untuk mengenal Indonesia. Sayangnya keramah tamahan Bangsa Indonesia menjadi bumerang yang membahayakan Negeri ini. Keramah tamahan itu dimanfaatkan oleh bangsa asing yang ingin menguasai Indonesia. Perusahaan-perusahaan dagang berlomba untuk mengeruk keuntungan di negeri yang kaya raya ini. Sangat lucu sebenarnya bagi aku pribadi melihat hal ini, ternyata cara yang dilakukan oleh VOC dan kemudian diikuti Belanda ketika menguasai Indonesia ratusan tahun yang lalu masih saja berhasil saat diterapkan pada masa kini. Tentunya dengan modifikasi strategi dan tidak hanya perusahaan dagang yang masuk. Dapat kita lihat menjamurnya perusahaan asing yang menjadi raksasa di Indonesia. Sekadar menyebutkan sebagiannya adalah KFC, Mc Donalds, Phillips Morris, British American Tobacco, Bloomberg, Danone, Nestle, Newmont, Exxon Mobile, Caltex, Buma, Antam, Adaro, dll.

Sangat mengiris hati sebenarnya ketika melihat pada kenyataan bahwa di negeri yang sekaya ini hanya ada satu jenis industri yang bisa berdiri mandiri, Industri Kretek tepatnya. Industri nasional yang telah bertahan ratusan tahun dan menggunakan 97% bahan baku lokal untuk produksinya ternyata juga sedang kembang kempis bertahan hidup. Industri kretek nasional kita dengan segala potensinya yang ternyata jauh lebih menguntungkan dari industri tambang telah menjadi incaran pihak asing untuk dikuasai. Ada British American Tobacco yang menguasai Bentoel dan kemudian disusul oleh Phillips Morris yang saat ini menguasai Sampoerna. Belum lagi Bloomberg yang terus dengan gencar berusaha mematikan industri nasional kita ini, kemudian menggantinya dengan industri serupa yang tentunya dikuasai oleh mereka ataupun rekanan mereka. Hubungan baik antara Phillips Morris, British American Tobacco dan Bloomberg itu sesungguhnya dimotivasi oleh keinginan mereka untuk mengusai industri kretek nasional kita dengan berbagai dalih dan strategi. Lagi-lagi sejarah penguasaan dan pendominasian (sebaiknya dibaca penjajahan) oleh VOC yang ratusan tahun lalu pernah terjadi, sekarang terulang kembali.

Mengenai dunia internasional, bukanlah hal baru ketika mereka berusaha menguasai Indonesia. Tidak perlulah mengulang kembali hal-hal yang sering kita dapatkan dari bangku sekolahan tentang penjajahan di Indonesia. Itu merupakan bukti lain yang sepertinya kita semua sudah tahu.

Aku kuliah di Yogyakarta, kota yang sangat aku cintai karena ragam budayanya. Sebagai mahasiswa aku adalah orang yang senang menggunakan jasa transportasi kereta api untuk sekadar mengunjungi sahabat di luar kota. Iya, disamping karena kegemaranku dengan alat transportasi yang satu itu, alasan murah adalah alasan utama mengapa aku menggunakan jasa transportasi tersebut. Stasiun Lempuyangan adalah titik tempat aku sering memulai perjalanan meninggalkan dan akhirnya kembali lagi ke Yogyakarta. Bertemu banyak orang baru di stasiun dan mendapatkan beberapa kenalan adalah sensasi yang lain lagi. Berawal dari pembicaraan ringan di stasiun dengan seorang kawan bernama Yanto, aku mengetahui sebenarnya di Yogyakarta dulu terdapat lebih dari dua stasiun. Ada beberapa stasiun yang menghubungkan kota-kota kecil di sekitar Yogyakarta dan setasiun itu sekaligus juga menjadi jalur perekonomian rakyat. Aku membayangkan betapa indah masa itu, ketika jalanan tidak penuh sesak oleh kendaraan bermotor.

Singkat cerita, adalah campur tangan dari perusahaan asing yang dengan bantuan dana internasional memberikan sumbangan berupa pembangunan jalan beraspal. Pembangunan jalan beraspal itu tentunya memutuskan jalur rel kereta yang sudah ada. Imbas yang pasti adalah tidak beroperasinya setasiun-setasiun kecil yang sudah ada. Imbas lainnya adalah, keuntungan pabrikan kendaraan bermotor yang akhirnya dengan keleluasaan yang hampir tidak terbatas mengimport kendaraan bermotor mereka ke dalam Indonesia. Apa lagi yang ditunggu untuk memasukkan kendaraan bermotor jika jalan beraspal mulus telah tersedia dan pemerintahan telah memesan kendaraan bermotor sebagai kendaraan dinas?

Iya, memang itu adalah cerita yang telah lama lewat dan mungkin tidak lagi familiar pada beberapa telinga kita. Sedangkan  untuk bercerita sesuatu yang masih berlangsung hingga saat ini, tentang pengerukan hasil bumi di tanah Indonesia, sejujurnya aku tidak sanggup dan aku pikir tidak perlu lagi untuk aku ceritakan. Tentang bagaimana penderitaan bumi dan manusia Indonesia diakibatkan eksploitasi yang terjadi secara besar-besaran oleh industri asing terhadap kekayaan alam yang seharusnya milik bangsa Indonesia adalah sebuah rahasai umum yang jika kita mau sedikit saja berusaha akan menemukan jawabannya.

Ada sebuah cerita yang aku alami dan mungkin juga cerita semacam ini tidak hanya aku sendiri yang mengalami. Sebuah cerita tentang garam. Aku teringat dulu ketika kecil, bagaimana orang tuaku di kampung  begitu selektif ketika memilih garam. Kata mereka, banyak garam yang tidak sehat dan memicu gondok. Sekarang, jika aku ingat-ingat lagi kejadian itu, keterkejutan dengan segera menyapaku. Ternyata garam yang dipilih orang tuaku untuk konsumsi di rumah waktu itu adalah salah satu garam produksi korporasi asing. Saat ini, yang tersisa hanyalah pertanyaan miris bagiku, bagaimana bisa kita sebagai negara yang memiliki garis pantai sepanjang ini harus mengimpor garam dari luar? Bagaimana bisa kita tidak memiliki industri garam yang besar?

Pernah suatu waktu aku pergi ke pasar bersama seorang kawan untuk membeli minyak goreng. Kawan yang akrab aku panggil Marco itu dalam perjalanan pulang sedikit bercerita tentang kerinduannya dengan masakan ala kampung halamannya di Sulawesi sana. Dia bercerita tentang minyak kopra (kemudian baru aku ketahui dari Marco jika kopra adalah kelapa yang diasapi) yang kerap digunakan oleh orang di daerahnya untuk menggoreng, katanya minyak kopra itu menghasilkan cita rasa yang khas, istimewa dan tentunya nikmat. Sayangnya, dia mengeluhkan tentang minyak istimewa itu yang sudah mulai jarang di daerahnya. Dia mengatakan bahwa banyak orang kampungnya yang beralih pada minyak goreng kemasan karena mereka mendapat kabar bahwa minyak istimewa itu tidak baik untuk kesehatan. Ah, lagi-lagi produk lokal yang seharusnya menjadi kekayaan daerah kita dikalahkan oleh isu-isu kesehatan yang didalangi oleh penelitian-penelitian pihak asing yang tidak netral, begitu pikirku.

Hingga bulan terkhir di tahun 2011 ini, banyak sekali sudah aku dengar tentang isu kesehatan yang menghajar produk-produk dalam negeri kita. Garam yang akhirnya gulung tikar kemudian dikuasai asing, minyak kopra yang juga bernasib sama. Gula nasional kita yang lagi-lagi dengan dalih kesehatan harus menggunakan sistem rafinasi dalam pengolahannya, saat ini sudah mulai dikuasai asing dan tentunya merugikan petani. Beras, sebagai makanan pokok kita sebagai orang Indonesia juga tidak lepas dari ancaman asing. Beberapa kali aku mendengar isu beras kita kurang sehat karena bisa menyebabkan diabetes sehingga harus diganti dengan jenis beras organik dan beberapa jenis beras lainnya yang hanya disediakan oleh korporasi asing, sehingga kita (dengan berbagai tekanan) mengimport beras secara besar-besaran. Apatah lagi dengan tembakau dan industri kreteknya yang menjanjikan keuntungan luar biasa dan hanya tinggal satu-satunya industri nasional yang bertahan saat ini. Tentunya tembakau dihantam mati-matian oleh isu-isu kesehatan pun juga isu-isu sosial lainnya.

Lantas, ketika aku tidak percaya bahwa bantuan dana besar-besaran untuk pembangunan jalan beraspal adalah murni bantuan yang diberikan untuk meningkatkan infrastruktur kita dan mencurigai ada kepentingan industri kendaraan bermotor yang menungganginya. Ketika aku tidak percaya bahwa PBB dan Amerika yang sekonyong-konyong membombardir Iraq dan Libya adalah benar-benar murni untuk menjaga keamanan serta kedamaian dunia dan melihat itu hanya sebagai usaha untuk menguasai minyak bumi mereka. Maka, apakah saat ini aku harus percaya pada penelitian-penelitian asing (yang aku yakini tidak netral) bahwa garam, minyak kopra, gula, dan tembakau produksi dalam negeri itu merugikan kesehatan? Tentu dengan tegas aku akan menjawab dengan tegas jika aku tidak percaya. Sekali lagi, tidak percaya!

Indonesia, sebuah negeri yang kaya raya. Segala sumber daya alam berlimpah di sini. Sudah seharusnya kita sendirilah yang memiliki, mengolah dan mengembangkan sumber daya itu, bukan menjadi babu dan kacung bagi bangsa asing di negeri sendiri.

Hari ini tambang, garam dan beras sudah dikuasai asing. Apakah gula dan tembakau dengan industri kreteknya akan kita biarkan juga dikuasai oleh pihak asing? Hari ini tambang, garam dan beras sudah dikuasai asing. Mari bung rebut kembali!

Danu Saputra, Desember 2011

Suatu senja di pojok Kota Kretek.

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s