Menyambung Garis

Kamu berjalan dua langkah di depanku. Tanganmu terayun pelan mengikuti gerak tubuhmu. Dulu, aku bisa dengan bebas menangkap tangan itu, menyimpannya erat dalam genggamanku. Lalu wajahmu akan merah padam memandangku ragu-ragu, malu-malu, takut-takut, sebelum menarik tanganmu kembali. Sebentar saja memang, tapi bisa kurasakan telapak tangan yang putih itu, seperti porselain.

Kamu masih ragu-ragu, malu-malu, takut-takut memandangku. Seperti saat ini, dua langkah di depanku, kamu berbalik. Kedua bola mata berwarna coklat itu mengirimkan sihir. Aku terpaku. Jangan sampai kamu tersenyum, bisa saja aku mati mendadak karenanya. Sudah, sudah, jangan tersenyum. Tapi kamu tersenyum. Bibirmu merah muda tanpa pewarna melengkung di bawah hidungmu yang bangir. Kamu secantik boneka.

Sepoi, angin menghembus kerudungmu yang panjang. Aku terpaku.

“Ini mungkin pertemuan terakhir… “ suaramu lirih dan kutangkap getaran yang coba kamu sembunyikan. “… maukah kamu memegang tanganku?”

Kali ini, aku yang ragu-ragu, malu-malu, takut-takut menyambut uluran tanganmu. Dengan khidmat, kurasakan tiap celah-celah kulit pada garis-garis halus di telapak dan punggung tanganmu. Seperti memegang sesuatu yang begitu kudus, kuperlakukan tangan itu dengan hati-hati. Dan memang kamu, seorang syarifah1, perempuan yang diyakini memiliki garis keturunan langsung dari Nabi Muhammad saw., memang kamu adalah sebenar-benarnya kudus. Pun kamu bukan seorang syarifah, kamu tetaplah kudus oleh karena tingkah dan perilaku yang begitu terjaga. Kudapati bulu mata hitam, lentik dan panjang, milikmu mengerjap. Sesuatu tak jadi jatuh dari kedua matamu. Aku terpaku.

Tak seperti yang sudah-sudah, kamu biarkan saja tanganmu lama-lama dalam genggamanku. Lalu kita berjalan dengan kedua tangan tertaut. Kuresapi benar saat-saat ini, saat-saat yang menurutmu mungkin menjadi pertemuan terakhir kita.

“Kamu perempuan yang mulia, Sahira.” Ucapan pertamaku setelah sekian lama tak bisa kutemukan sepatah kata apapun yang harusnya kusampaikan saat ini, selagi waktu masih berpihak padaku. Kamu, Sahira, menghentikan langkah.

“Ini kemuliaan warisan. Silakan kamu ambil…”

“Tanpa berbagi garis keturunan yang sama dengan Nabi, kamu tetap perempuan yang mulia, Sahira.”

“Ini penjara… “

“Meski tak bisa kamu terima, aku mengerti, Sahira. Jangan sampai putus garis itu. Aku bukan dzurriyah2… kita tidak kufu3

“Yang kamu anggap bisa memelihara kemuliaanku, menyambung garis keturunan suci, seorang dzurriyah itu, memiliki dua isteri sebelum aku.”

Aku diam saja. Mengutuk dalam hati kemalanganmu.

“Keturunan tetaplah keturunan, tidak bisa serta merta dibatalkan. Aku akan membawa ini sampai mati tak peduli dengan siapa aku menikah nanti.”

Aku masih diam.

Kamu menatapku tajam. Kubayangkan di kepalamu silih berganti ‘barangkali’ datang dan pergi. Barangkali kamu bersedia dikucilkan keluarga, barangkali kamu tega menyakiti hati orangtua, barangkali ada masa depan untuk kita berdua, barangkali ini bukan pertemuan terakhir, barangkali saja.

Ada banyak kata-kata yang harusnya kusampaikan. Maafkan aku, penakut ini. Penakut yang tidak mau menjadi alasan bencana yang mungkin menimpa kamu dan keluargamu jika aku tetap memaksa. Penakut yang setengah mati mencinta tapi tak punya usaha menunjukkannya. Penakut yang tidak bisa mendobrak penjaramu. Penakut yang percaya bahwa tradisi meski sedemikian kolotnya adalah sakral dan harus dihormati. Penakut yang cuma bisa sebatas nakal mencuri tanganmu diam-diam dari waktu ke waktu. Tidak lebih dari itulah aku. Seorang penakut.

Kamu melepas tautan tangan kita lalu berjalan dua langkah di depanku. Punggung itu masih sama seperti punggung yang pertama kali kulihat beberapa tahun lewat dalam sebuah pertemuan para pejuang hak-hak perempuan; punggung yang tertutup lebar kerudung. Bertahun-tahun kamu memperjuangkan kesamaan hak, menolak diskriminasi tradisi yang mengabsahkan kepincangan antar ras, etnik, dan gender. Bertahun-tahun, Sahira, dan bahkan kamu pun tidak bisa menghindarinya. Waktumu sudah datang untuk kembali patuh. Waktuku sudah datang untuk pergi menjauh.

“Berdoalah untukku, Dhimas…”

Untuk kamu yang kini berjalan dua langkah di depanku, tak perlu kamu minta, aku selalu berdoa agar malaikat menjaga jalanmu.

Catatan:

1syarifah: perempuan mulia; sebutan bagi perempuan keturunan Nabi Muhammad saw.

2dzurriyah: anak dan keturunan Nabi Muhammad saw. sampai akhir zaman

3kufu: (dalam pernikahan) tidak sepadan

Amalia Achmad

5 thoughts on “Menyambung Garis

  1. tapi kalau perempuan suci di garis keturunan nabi Muhammad, terus nyodorin tangannya duluan mmm gmn yah hehehe. perpanjang lagi doong ceritanya, biar makin seruu.😀

    • Ahahaaa, kayaknya di pergaulan sehari2 sama aja dehh.
      Kan keturunan Arab di Indonesia itu ada 2 aliran, satu yang (katanya) langsung dari Nabi Muhammad, satu keturunan Arab biasa. Bisa diliat dari nama belakangnya, tapi aku juga gak apal sihh. Cuma inget Assegaf sama Al Habsy dehh kalo gak salah yang keturunan nabi.
      Lha di sehari2 mahh kan ya sama aja kayak kita2 umat jelata juga. Bajunya ya sama. :))

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s