Demi Sebuah Memori

23.00

Aku tak juga bisa tidur. Pertengkaran dengan pacarku 3 jam lalu masih terus terbayang dan tengiang-ngiang. Dia berjanji menikahiku tahun ini, tapi ibunya belum juga bisa menerima masa lalu keluargaku yang kelam. Malah tadi dia membahasnya lagi, yang membuatku naik pitam, dan akhirnya aku memutuskan untuk selesai saja hubungan kami.

Continue reading

Advertisements

Satu minggu sudah hari lahirmu berlalu.

Aku tak juga punya sesuatu untuk kutuliskan sebagai hadiah ulang tahun.

Bukan karena tak ada yang ingin kusampaikan, tapi justru karena terlalu banyak yang ingin aku katakan.

 

Apa kabarmu di sana?

Rindukah engkau berduduk-duduk di sebuah panggung tak terurus di taman budaya?

Rindukah berdesak-desakkan bersama ratusan orang dan sesekali mengumpat karena mereka tak beradab?

Continue reading

About Life

You don’t have to understand. You just have to have faith in destiny – sara (serendipity)

Benar adanya, tentang hidup. Kita ga harus mengerti tentangnya, yang penting adalah kita harus punya iman dalam menjalani takdir hidup. Sepahit apapun itu, semanis apapun itu, pastikan kaki kita tetap berpijak pada bumi. Tetap hadirkan nurani dalam setiap elegi. Tak melambung terlalu tinggi, saat kita mendapatkan kesenangan yang bertubi-tubi.

Benar adanya, tentang mu. Selintas lalu, saat dulu yang terekam dalam ingatan, memutar kembali dalam kenangan. Eh bukan, aku tak suka kenangan. Continue reading

Perempuan Yang Sedang Menuju Ke Barat

Seorang perempuan menantang angin laut yang menampar keras-keras wajahnya. Ujung kerudungnya terbang dibawa angin kesana-kemari, ia tampak tak peduli. Rupa-rupanya ia sedang berniat. Pikirannya jauh melampaui pandangannya, jauh melampaui garis lurus yang membelah langit dan laut.

Aku menunggu di belakangnya. Siapa tahu tiba-tiba ia menoleh sebentar, agar bisa ia tahu aku masih duduk-duduk saja di situ, di belakangnya. Tapi tidak. Ia sedang benar-benar berniat.

Aku melihat pengalaman hidup yang ia bawa tumpah ruah, tapi “Ini belum cukup,” begitu katanya.

“Mau ke mana lagi, kau?” tanyaku. Berharap segera mendapat jawaban.

Aku melihat orang-orang yang hidupnya telah ia sentuh, langsung dan tak langsung, bertatap muka atau hanya lewat tulisan-tulisannya yang melayang-layang di dunia maya. “Aku akan bertemu lebih banyak orang lagi,” begitu katanya, “akan kualami sendiri cerita-cerita yang mungkin mereka alami.” Continue reading

Ponti, Sebuah Perayaan Kemenangan

Ponti, sebuah nama. Tak sesederhana kau mengucapkannya. Tak sesederhana kau memanggilnya. Pada setiap panggilannya, ada benang merah masa lalu yang terpilin panjang. Padanya, sebuah kota di garis katulistiwa. Padanya, sebuah pintu menuju jalur kenangan. Padanya, sebongkah prasasti untuk mengabadikan masa kejayaan. Padanya, selembar undangan reuni, persabatan jiwa-jiwa pengembara yang tak akan habis masanya. Padanya, sebuah harapan akan cinta. Continue reading

Karamina

Namaku Karamina. Cantik ya? Ibu bilang, diambil dari nama teman lamanya yang ia sudah lama tak jumpa. Sebentar mereka kenal, berteman, dan tidak terlalu akrab sebenarnya tapi Ibu menyukai temannya bernama Karamina itu sampai-sampai ketika aku lahir dinamainya aku “Karamina”. Aku tidak keberatan dengan nama secantik itu, dan dari cerita-cerita Ibu yang meski tidak sering selalu seru untuk didengar, aku juga menyukai Karamina, teman lama Ibu itu.

Kami, aku dan pemilik asli nama ‘Karamina’ itu, pernah dua kali bertemu tapi aku tidak ingat. Ibu bilang waktu itu aku masih kecil sekali. Karamina, teman lama Ibu itu, tinggal jauh di pulau lain. Mereka, Ibu dan temannya Karamina, kenal bertahun-tahun yang lalu ketika Ibu kuliah di pulau itu. Karamina begitu mudah masuk ke semua pergaulan, kata Ibu. Temannya banyak, kata Ibu. Ia beruntung bisa menjadi salah satu teman Karamina, kata Ibu. Mungkin karena sifatnya yang ramah pada semua orang tanpa membeda-bedakan, mungkin bicaranya yang mengalir dan akrab, mungkin tertawanya yang menyenangkan. Continue reading