Kubikel Cinta

Salah Paham
“Tak terik menyengat seperti siang, Tak dingin menyergap seperti malam.
Cinta seharusnya menghangatkan, persis seperti matahari di senja hari.”

Gue melihat ke balik jendela. Gersang dan tandus. Tak ada pohon ataupun ilalang di sana. Sepanjang mata memandang, gue cuma menemukan pasir dan matahari yang terik. Ga usah di efek sephia, photo yang gue jepret sudah jadi ber-shepia. Yap, ini adalah pengalaman pertama gue menginjakkan kaki di negeri 1001 malam, Jazirah Arab.

“Onta!! Onta!!” Dika, asisten gue, teriak heboh tiba-tiba, persis saat ada orang arab tinggi besar berjambang rindang melewati seat kami, hendak balik dari kamar mandi ke arah depan.

Si Arab itu berhenti dan memandang tajam ke arah Dika, partner kerja gue yang malang tersebut. Everybody knows that mostly Arabian understand Bahasa Indonesia dan Mungkin dia merasa ‘terpanggil’ saat Dika teriak ‘onta’ barusan.

“Hei Indonesia, bilang apa kamu tadi?” kata si Arab dengan nada tinggi. Dika kaget. Gue maki dia ‘monyet!!!’ –dengan lirih– . Untung Dika langsung paham situasi. Seraya menjawab dengan terbata-bata, jari telunjuknya menunjuk ke jalanan. O – N – T – A. ONTA, Habibie. ONTA. Continue reading

Advertisements

Dari Anggi Buat Danu

Pertemuan pertamaku denganmu, kusangka sedang terjebak dalam pertemuan MLM, dengan kau sebagai bintang tamu yang siap membual dan memperdagangkan mimpi. Ternyata, malam itu berakhir lancar, tanpa presentasi MLM dan aku pulang dengan perut sakit, rahang pegal akibat terlalu banyak tertawa mendengar celotehmu. Tapi tetap saja buatku kau terlalu ramai. Sedang aku butuh hening. Dalam hati aku berharap, mengenalmu tidak lantas membuat hidupku jadi gaduh. Discovery Cafe, jadi saksi kau masuk dalam hidupku.

  Continue reading

‘Kado’ Ultah Buat Danu

Berlin, 11 : 11 p.m.

Empat Puluh Sembilan menit lagi menuju usia barumu, 25 tahun.

Seperempat abad sudah kini kau punya usia. Congratulatioonnn!!!! #ayeaye!

Hai, gimana rasanya menjadi tua, Nu? Ah, pasti rasanya biasa aja kan, nggak ada yang berubah. Cuma makin diingatkan aja akan jatah (waktu). It’s running faster, isn’t it?

Continue reading

Akhir 31 di Lantai 31

Layar monitor PC-ku masih menyala. Secangkir kopi, bukan kopi hitam, menemani malamku. Baru saja senja berlalu dari pandanganku. Ya, ini senja terakhir di tahun 2009. Kalender di meja kerjaku masih memajang kalender 2009. Aku belum punya kalender tahun 2010, padahal 2010 hanya tersisa beberapa jam lagi.

Kulirik jam dinding di sudut ruang. Masih pukul 22.25 WIB. Tugas aku belum selesai dan masih lama menuju pukul 24.00 WIB. Aku kembali menekuni dokumen dengan PC-ku. Continue reading

Jalan Pulang

Kita bertemu lagi. Sudah empat tahun sejak pertemuan kita yang terakhir. Kita bertemu di tempat yang sama, tempat dahulu kita memiliki ritual sakral setiap minggu. Dua orang yang bukan siapa-siapa, berdua, menikmati secangkir kopi panas, dan mendengarkan ceritamu. Kau masi mempesona seperti dulu. Empat tahun berpisah, kau tampak semakin matang sekarang.

Continue reading