Kubikel Cinta

Salah Paham
“Tak terik menyengat seperti siang, Tak dingin menyergap seperti malam.
Cinta seharusnya menghangatkan, persis seperti matahari di senja hari.”

Gue melihat ke balik jendela. Gersang dan tandus. Tak ada pohon ataupun ilalang di sana. Sepanjang mata memandang, gue cuma menemukan pasir dan matahari yang terik. Ga usah di efek sephia, photo yang gue jepret sudah jadi ber-shepia. Yap, ini adalah pengalaman pertama gue menginjakkan kaki di negeri 1001 malam, Jazirah Arab.

“Onta!! Onta!!” Dika, asisten gue, teriak heboh tiba-tiba, persis saat ada orang arab tinggi besar berjambang rindang melewati seat kami, hendak balik dari kamar mandi ke arah depan.

Si Arab itu berhenti dan memandang tajam ke arah Dika, partner kerja gue yang malang tersebut. Everybody knows that mostly Arabian understand Bahasa Indonesia dan Mungkin dia merasa ‘terpanggil’ saat Dika teriak ‘onta’ barusan.

“Hei Indonesia, bilang apa kamu tadi?” kata si Arab dengan nada tinggi. Dika kaget. Gue maki dia ‘monyet!!!’ –dengan lirih– . Untung Dika langsung paham situasi. Seraya menjawab dengan terbata-bata, jari telunjuknya menunjuk ke jalanan. O – N – T – A. ONTA, Habibie. ONTA. Continue reading

Advertisements