Demi Sebuah Memori

23.00

Aku tak juga bisa tidur. Pertengkaran dengan pacarku 3 jam lalu masih terus terbayang dan tengiang-ngiang. Dia berjanji menikahiku tahun ini, tapi ibunya belum juga bisa menerima masa lalu keluargaku yang kelam. Malah tadi dia membahasnya lagi, yang membuatku naik pitam, dan akhirnya aku memutuskan untuk selesai saja hubungan kami.

Continue reading

Advertisements

Ibu, Kamu Datang Begitu Terlambat

Aku mengenal ibu-ibu yang dengan bangga hati memamerkan anak-anak mereka; melalui foto-foto yang mereka tunjukkan, melalui obrolan panjang pada pertemuan-pertemuan, melalui setiap kesempatan dan cara yang memungkinkan.

“Anakku sudah bisa merangkak, lho…”

“Wah, anakku kemarin mbikin banjir rumah, kran air dibiarkan terbuka… Haha… “

“Anakku pintar, dia bisa meniru artis di televisi.. “

Perihal-perihal enteng seperti merangkak, membiarkan kran air terbuka, atau meniru artis di televisi menjadi sangat penting bagi ibu-ibu yang membanggakan anak-anak mereka itu. Continue reading

Membaca “Menunggu Pulang” Karya Suryawan Wahyu Prasetyo: Rumah Dengan Banyak Pintu

Image

Semua orang punya definisi tentang “rumah” yang berbeda satu sama lain. Rumah bisa jadi adalah bangunan dengan pintu, jendela dan atap, yang kita tinggali. Rumah kemudian bisa diartikan menjadi bentuk-bentuk yang lebih abstrak; keluarga biologis, teman-teman yang memiliki kesamaan minat, hati seseorang, kenang-kenangan, harapan tentang masa depan. Seperti yang terangkum dalam buku kumpulan cerpen “Menunggu Pulang” karya Suryawan Wahyu Prasetyo atau yang akrab disapa Yuya. Terdapat 18 judul cerita dalam buku ini dan tiap cerita memaknai bentuk rumah, tujuan seseorang untuk pulang, yang berbeda satu sama lain.

Seperti yang dikatakan oleh Yuya, sang penulis, dalam pengantar buku ini bahwa baginya menulis adalah mendokumentasikan, seperti itulah rasanya membaca cerita-cerita dalam buku ini. Tiap cerita terasa begitu dekat, seperti sedang melihat-lihat album foto seseorang, mengintip sebagian dari sejarah hidupnya. Continue reading

Kelelawar Berterbangan di Atas Kepalaku

Kecil, kamu sedang apa? Aku senang, akhirnya kamu pulang. Malam ini aku sedang memandangi rumahmu dari sini. Jauh, sangat jauh. Kecil, sangat kecil. Meskipun begitu aku sudah merasa beruntung, tidak tiap hari aku bisa melihat rumahmu dari kejauhan seperti ini.

***

5 Maret 2012

Sudah empat bulan sejak kepergianmu, dan aku belum mendapatkan kabar apapun tentangmu.  Kecil, kamu tahu? Hari ini aku sedang menunggu senja di atas bukit ini. Bukan langit yang memerah yang ingin kulihat, bukan matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat yang ingin kupandang, aku hanya ingin menunggu waktu senja kemudian memandang ke arah timur.

Sebuah bintang berwarna merah pucat di langit timur, tepatnya di antara konstelasi Leo. Sebenarnya bukan bintang, melainkan sebuah planet, Mars. Hanya saja hari ini Mars terlihat sangat jelas, berpendar seperti bintang. Kamu tahu Kecil? Orang-orang menyebutnya bintang Kejora. Entahlah, aku pun tak tahu asal muasalnya. Continue reading