Demi Sebuah Memori

23.00

Aku tak juga bisa tidur. Pertengkaran dengan pacarku 3 jam lalu masih terus terbayang dan tengiang-ngiang. Dia berjanji menikahiku tahun ini, tapi ibunya belum juga bisa menerima masa lalu keluargaku yang kelam. Malah tadi dia membahasnya lagi, yang membuatku naik pitam, dan akhirnya aku memutuskan untuk selesai saja hubungan kami.

Bagaimana bisa kami menikah. Bisa saja pacarku bilang dia tidak mempermasalahkannya. Tapi ibunya, bertemu denganku saja jijik. Selalu menatapku dengan pandangan merendahkan. Tidak bisa sedikit pun berpura-pura ramah padaku.

Aku bukan mengeluhkan pacarku. Aku tahu dia berusaha, dia sayang padaku. Tapi dia tidak mungkin mengabaikan ibunya kan. Aku pun tidak akan mau menikah tanpa persetujuan orangtuanya. Jadi, daripada kami selalu salng menyakiti, aku minta penyelesaian segera. Akhiri hubungan sekarang juga.

Dan sekarang aku nelangsa. Merana. Rasanya sepi dan sendiri. Dan di saat-saat seperti ini, aku selalu ingat Damar. Oke, kita bisa menyebutnya sebagai mantan. Entahlah. Yang jelas 4 tahun lalu dia adalah bagian dari hidupku. Pria yang terlalu baik dan terlalu menerimaku. Dulu aku masih naif. Aku tak tega melihatnya selalu sabar dan tidak pernah mengeluhkan keadaan keluargaku yang berantakan. Orang yang akhirnya membantuku mengambil keputusan untuk ‘menitipkan’ mama di rumah sakit jiwa sampai keadaannya cukup stabil. Orang yang selalu menemaniku mengunjungi papa di penjara. Bahkan yang membuatku meninggalkannya adalah ketika ia mengajakku untuk naik pelaminan.

Menikah dengan Damar pastilah surga dunia buatku. Aku sangat sadar. Keluarganya pun selalu baik, mereka tahu keadaanku dan selalu memberiku dukungan moral. Tapi buat Damar dan keluarganya? Aku akan menjadi cacat sejarah. Aku tidak mungkin tega menjerumuskan keluarga mereka. Kehidupan sosial mereka tak mungkin sama lagi kalau aku masuk. Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan Damar. Dan itu adalah pertama kali dalam tiga tahun, aku melihat Damar marah. Sangat marah. Hingga aku berjanji tidak akan menghubunginya lagi.

Terakhir aku melihatnya satu tahun yang lalu. Di sebuah restoran bersama teman-temannya. Dia masih sama, masih dengan senyum menenangkannya ketika bercengkrama. Tawa yang ramah, mata yang teduh. Rasanya aku ingin mendekat, memeluk, dan mencari kehangatan di sana. Di dalam dekapannya, dunia selalu ramah.

Dan sekarang. Hati dan pikiranku hanya dia. Aku tak tahu dia di mana. Apakah nomor ponselnya masih sama. Apakah dia akan baik jika aku menghubunginya. Apakah…..

00.20

Aku hanya bisa mondar-mandir gelisah di kamar kost yang sempit ini.

00.30

00.45

01.00

Aku mengambil tas, keluar, dan memberhentikan taksi.

01.15

Aku menekan beberapa tombol di ponselku.

Tuuut…

Tuuut…

Tuuut…

“Halo?”

It’s a quarter after one, I’m all alone and I need you now..

Said I wouldn’t call but I lost all control and I need you now..

And I don’t know how I can do without..

I just need you now…

 ~

Happy B’day, Dear Yuya..

I love all of our moment, and this Lady Antebellum’s song is one of them.

Keep writing, keep publishing.

~

Almas Karamina, Januari 2013

3 thoughts on “Demi Sebuah Memori

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s