Ibu, Kamu Datang Begitu Terlambat

Aku mengenal ibu-ibu yang dengan bangga hati memamerkan anak-anak mereka; melalui foto-foto yang mereka tunjukkan, melalui obrolan panjang pada pertemuan-pertemuan, melalui setiap kesempatan dan cara yang memungkinkan.

“Anakku sudah bisa merangkak, lho…”

“Wah, anakku kemarin mbikin banjir rumah, kran air dibiarkan terbuka… Haha… “

“Anakku pintar, dia bisa meniru artis di televisi.. “

Perihal-perihal enteng seperti merangkak, membiarkan kran air terbuka, atau meniru artis di televisi menjadi sangat penting bagi ibu-ibu yang membanggakan anak-anak mereka itu. Biasanya, agar tak dianggap kurang ajar, kubalas mereka dengan ‘ah’ dan ‘oh’. Padahal yang kuingin katakan sebenar-benarnya adalah ‘aku tak peduli’. Lalu pokok pembicaraan selalu bergeser padaku.

“Kapan kamu menyusul?”

“Kamu ngga kepingin punya anak?”

“Sudah ada calon?”

Setelah habis tenagaku, kuberikan seluruhnya untuk mendengarkan cerita mereka tentang anak-anak yang tak ingin kukenal itu, tega-teganya mereka memberiku tuduhan yang tersamar dalam pertanyaan-pertanyaan. Selalu kujawab dengan senyuman seadanya, kupastikan mereka mengerti aku menyiratkan keengganan untuk sampai pada bahasan itu.

Ya, aku mengenal ibu-ibu yang memamerkan anak-anak mereka. Aku juga mengenal ibu-ibu yang menyembunyikan anak-anak mereka.

Ibu-ibu ini menyimpan kebenaran dan seolah-olah lupa. Mereka berlaku seperti gadis-gadis yang bebas. Tak ada kewajiban, tak ada tanggung jawab, tak ada pengakuan. Tak pernah ada foto anak yang dipamerkan, tak pernah ada obrolan panjang mengenai pencapaian-pencapaian anak pada pertemuan-pertemuan. Melalui setiap kesempatan dan cara yang memungkinkan, mereka tidak akan mengaku sebagai seorang ibu dari seorang anak.

Mereka tidak berbohong, memang, hanya tak menceritakan keseluruhan kebenaran.

Salah satu dari mereka adalah Ibuku.

Apa salahku sehingga Ibuku seakan malu mengakui keberadaanku? Sebagai seorang anak, aku anak yang baik, aku anak yang pintar, aku anak yang bisa dibanggakan. Apa salahku?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar terus menerus mengejarku seumur hidup. Mengikuti Ibuku, pelan-pelan aku mulai tak mengakui diriku sendiri. Aku malu pada diriku sendiri. Aku bukan anak yang baik, aku tak pernah jadi anak yang pintar, tak ada yang bisa dibanggakan dariku. Aku adalah kesalahan.

“Dulu, umur kamu baru empat dan kamu sudah masuk sekolah… Kamu sudah bisa mbaca sedikit… Eyang Putri yang tiap hari mengantarmu ke taman kanak-kanak… “

Ibu yang duduk di hadapanku ini mengabur, ceritanya mengabur, meninggalkan gambaran buram dan suara memberat tak jelas. Sudah terlambat, Ibu. Semua sudah terlambat.

“Ibu, aku akan menggugurkan kandungan ini” kataku padanya. Ia diam.

“Ibu, kamu datang begitu terlambat” kataku lagi padanya. Ia menghilang dalam diam.

November, 2012

Amalia Achmad

3 thoughts on “Ibu, Kamu Datang Begitu Terlambat

  1. Membaca cerpen ini, aku jadi inget kemarin membaca koran tetang KTD ( Kehamilan Tidak Diinginkan) dan tahu ga bahwa makin tahun makin meningkat kasusnya, 2012 adalah puncak di DIY. jumlah pastinya aku lupa.

    abortion. think twice deh, karena dampak “pasca aborsi”-nya lah yg berkepanjangan. salah satunya adalah Pada perempuan yang tidak menginginkan anak, KTD dapat mengakibatkan stress dan depresi. Hal ini beresiko terhadap hubungan ibu dan anak dimana keduanya merasa tidak terhubung secara emosional.

    utk lengkapnya, kita bisa membaca ini http://goo.gl/3G7Dk

    semoga ke depannya ga makin banyak, amin.

    nice story, amal😀

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s