Kelelawar Berterbangan di Atas Kepalaku

Kecil, kamu sedang apa? Aku senang, akhirnya kamu pulang. Malam ini aku sedang memandangi rumahmu dari sini. Jauh, sangat jauh. Kecil, sangat kecil. Meskipun begitu aku sudah merasa beruntung, tidak tiap hari aku bisa melihat rumahmu dari kejauhan seperti ini.

***

5 Maret 2012

Sudah empat bulan sejak kepergianmu, dan aku belum mendapatkan kabar apapun tentangmu.  Kecil, kamu tahu? Hari ini aku sedang menunggu senja di atas bukit ini. Bukan langit yang memerah yang ingin kulihat, bukan matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat yang ingin kupandang, aku hanya ingin menunggu waktu senja kemudian memandang ke arah timur.

Sebuah bintang berwarna merah pucat di langit timur, tepatnya di antara konstelasi Leo. Sebenarnya bukan bintang, melainkan sebuah planet, Mars. Hanya saja hari ini Mars terlihat sangat jelas, berpendar seperti bintang. Kamu tahu Kecil? Orang-orang menyebutnya bintang Kejora. Entahlah, aku pun tak tahu asal muasalnya.

Sudah jauh-jauh hari kubaca berita, malam ini Mars bisa dilihat dengan jelas dari bumi karena sedang perada di titik oposisi. Jaraknya 100,7 juta km dari bumi. Aku pun tak berharap terlalu banyak, bagaimanapun Mars tak akan terlihat sebesar melon atau semangka. Tetap saja Mars hanyalah sebuah titik berwarna merah pucat di langit timur. Untungnya langit malam ini cerah, tidak mendung, karena besok mungkin Mars tak akan sejelas ini. Kalau aku melewatkan malam ini, aku harus menunggu hingga 14 April 2014 untuk melihat Mars sejelas ini lagi.

Kecil, tidak sia-sia semalaman aku terjaga, berdiri  di atas puncak bukit ini. Mars begitu indah dengan pendar merahnya di ufuk timur. Sementara di langit barat, sebentuk bintang bersinar tak kalah indahnya, Merkurius. Kemudian disusul pijar Venus dan Jupiter yang juga di ufuk barat hingga pukul sembilan malam. Selanjutnya Saturnus pun tak mau kalah ingin juga menampakkan diri. Tapi Mars tetap juara dari parade planet-planet ini, bertahan hingga terbitnya fajar. Aku berdiri di atas bukit ini semalaman melihat bintang yang berpendar merah pucat, sementara kelelawar-kelelawar berterbangan dengan matanya yang menyala di atas kepalaku.

***

6 Agustus 2012

Kecil, akhirnya kamu sudah sampai rumah. Aku melonjak kegirangan karenanya. Perjalanan macam apa yang membutuhkan waktu sembilan bulan.  Kamu tahu Kecil? Tujuh menit yang baru saja kualami ini adalah tujuh menit paling menggelisahkan dalam hidupku. Kalau bagiku saja sudah sedemikian mengerikannya, apalagi bagimu. Teror tujuh menit  begitu para ilmuwan itu menyebutnya. Jika tujuh menit ini gagal, maka sia-sialah 98 minggu perjalananmu.

Aku ingat hari itu 25 November 2011. Di atas bukit ini aku melihatmu untuk terakhir kali. Malam itu juga kamu akan terbang jauh ke benua Amerika, dan besoknya perjalanan jauh itu akan dimulai dari Cape Canaveral Florida. Kita berdua berdiri di atas bukit, sementara kelelawar-kelelawar berterbangan dengan matanya yang menyala di atas kepala kita. Bukit yang sama ketika pertama kali aku menemukanmu dulu.

Di sebuah Minggu sore, tanggal 23 januari 2011. Orang-orang berbondong-bondong datang ke tempat ini. Banyak di antara mereka yang nekat mendaki bukit ini, Gunung Suru yang terletak di Berbah, Sleman. Mereka bersusah payah bukannya  tanpa tujuan. Mereka ingin melihat dengan jelas keanehan yang terjadi di bawah sana.

Jauh di bawah bukit ini, pada petak-petak sawah itu, sebagian besar tanaman padi yang hampir panen rebah. Entah bagaimana caranya, padi-padi yang rebah itu membentuk lingkaran dengan pola yang teratur di dalamnya. Diameter lingkaran itu kurang lebih 60 meter.

“Crop circle itu lelucon, itu bikinan manusia, bukan karena pendaratan UFO!” demikian jawab seorang ilmuwan dari BATAN pada sebuah wawancara televisi. Aku tersenyum lega.

Aku sempat cemas ketika seorang dosen fisika UNDIP yang datang meneliti pola teratur di sawah itu bilang ada unsur nikel pada batang-batang padi itu. Dia juga menemukan kadar nitrogen empat kali lipat lebih besar daripada kondisi sewajarnya. Bahkan seseorang yang jauh-jauh terbang ke Indonesia, seseorang dari BLT Research Team  Cambridge, USA, juga mengatakan bahwa crop circle itu bukan buatan manusia secara mekanik. Aku cemas, Kecil.

Untungnya ada beberapa mahasiswa tolol yang mengaku menjadi pelaku dari pembuatan crop circle itu pada sebuah website, dan BATAN pun mengamininya. Maka selesailah penyelidikan tentang crop circle di Berbah, Sleman. Aku bernapas lega karenanya. Kamu aman, Kecil.

Sepuluh bulan sejak pendaratanmu itu, kita menghabiskan malam bersama. Di atas bukit ini, setiap malam kita memandang rumahmu yang perpendar merah pucat, sementara kelelawar-kelelawar berterbangan dengan matanya yang menyala di atas kepala kita.

Hari ini aku mengikuti pendaratanmu melalui livestreaming yang disediakan NASA. Tujuh menit penuh teror seperti yang sebelumnya kubilang. Saat roket Atlas V 541 yang membawamu mulai memasuki atmosfer Mars, aku tidak bisa membayangkan seperti apa goncangan yang kamu alami. Yang jelas gesekan antara lapisan atmosfer dan diding roketmu sangat besar, dengan kecepatan 21.240 km per jam. Tapi syukurlah tujuh menit itu bisa dilalui, dan kulihat robot Curiocity yang membawamu bisa turun sampai Kawah Gale Mars.

***

Kecil, aku masih berdiri di atas bukit ini memandangi rumahmu yang berpendar merah pucat di langit timur, sementara kelelawar-kelelawar berterbangan dengan matanya yang menyala di atas kepalaku. Seperti yang kau ceritakan padaku, kelelawar-kelelawar dengan radar gelombang ultrasonik itu adalah alatmu untuk mengawasi bumi. Ada kamera pada matanya yang selalu menyala. Apa kau melihatku Kecil? Aku sedang melambaikan tangan padamu.

 

Yogyakarta, 21 September 2012

Suryawan Wahyu Prasetyo

nb. cerpen ini ditulis gara-gara semalam mention saya dibalas oleh @galaxy_alien, dan demi apa saya follow alien😀

3 thoughts on “Kelelawar Berterbangan di Atas Kepalaku

  1. mungkin saja justru kita inilah alien, yang “mengusir” dinosaurus dari Bumi. Dan meteor2 itu adalah kendaraan kita. hahahaha

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s