Manusia Buatan

Pasca Operasi
Bias warna jingga menelusup kisi-kisi jendela kamarku. Aku mengerjap-ngerjapkan mata menahan silau matahari. Di samping ranjangku tertempel sebuat postnote dari ibu.

Get well soon, my love
See you tomorrow 


Love you,
Mom

Pilihan
” Mrs.Eliz, please sign in here.”

Suster menunjuk sudut surat persetujuan operasi yang harus aku tanda tangani. Aku memandang ibu, dia megangguk. Aku ikut saja.

Aku dibawa ke satu ruang khusus yang serba putih. Dengan mengenakan pakaian steril, aku dimasukkan ke  sebuah tabung besar yang ada di tengah ruangan. Sinar biru memindaiku dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Dua puluh menit badanku tidak boleh bergerak, aku sanggup. Meski begitu pikiranku tetap saja bergerak, berlari kencang meninggalkan tubuhku, menuju masa lalu.

“Are you okey, sweetheart?” Aku sampai pada penggalan waktu di mana ibu menemaniku, saat sadar dari pingsan. Setelah dadaku sesak tiba-tiba dan aku terkapar di tengah lapangan, untuk pertama kalinya.

***

Dalam keadaan setengah sadar, aku sudah berada di ruang operasi. Rupanya obat bius yang disuntikkan padaku sudah mulai bekerja. Mataku terpejam, aku mencoba bicara pada Tuhan.

“ Tuhan, tolong temani aku sebentar.“

Vonis
Ibu memaksaku untuk ke dokter setelah aku pingsan untuk yang kedua kali, saat di kelas.

Aku tak sedang kelelahan, akupun sudah sarapan pagi harinya. Suhu badanku normal, akupun tak sedang mual. Hanya merasa sakit luar biasa di kepala, ketika aku sedang menyimak presentasi materi biologi dari Guruku.

Seperti bola sepak, aku dan ibu digiring dari satu dokter ke dokter lain. Kami pun menjadi sering berkunjung ke laboratorium. Dari dokter umum ke dokter spesialis penyakit dalam, dari laboratorium lalu kembali lagi ke dokter penyakit dalam. Di sana aku pertama berkenalan dengannya, kelainanku. Autoimun.

Google
Autoimun, Ragaku lemas oleh deretan fakta yang terpampang di layar monitor terkait dengan satu kata ini, yang di sebuah situs kesehatan dideskripsikan sebagai kelainan di mana imun atau sistem kekebalan tubuh dalam diri yang seharusnya bertugas melawan bibit penyakit dari luar tubuh malah menyerang jaringan tubuh sendiri.

Sialnya, sampai saat ini medis belum bisa menyembuhan kelainanku ini. Dan tubuhku akan semakin rusak sejalan dengan waktu.

New Life
Doorr!!!

Suara sorak sorai sangat meriah, aku ayunkan kaki secepat mungkin. 100 meter, aku capai dengan cepat. Aku bahkan bahkan finish di urutan pertama. Berlari, akhirnya aku bisa melakukannya lagi.

Aku sudah sehat sekarang. Tak ada lagi kelainan dalam ragaku. Aku di tubuh yang baru, namun dengan ingatan yang lama.

Aku adalah hasil kloning.

Terserah apa kata para pemuka agama atau para aktivis HAM. Aku bukan penganut sekte ‘hitam’, nuranikupun bilang ini adalah perbuatan lancang. Tapi aku juga ingin hidup seutuhnya seperti manusia lain, hidup yang hanya bisa aku dapatkan bila aku berganti raga. Raga yang normal.

Tuhan, maukah Engkau memaafkan aku?

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s