Ketika Kamu Membiarkan Kematian

Semasa kecil, aku selalu suka bermain dengan apa saja yang menarik bagiku. Jikalau tak sampai tanganku menggapainya, cukuplah mataku yang akan bermain. Tembok kamar, tempat tidur, buku-buku ayah dan majalah-majalah ibu hampir setiap hari kuajak bermain. Anak-anak kecil sebayaku, hampir selalu menjadi bahan permainanku – walau itu lebih banyak terjadi dalam dunia fantaso yang kuciptakan sendiri – dan mataku akan berbinar kegirangan saat itu. Sering kudengar kata nakal terlontar untukku, namun tak pernah kuhiraukan. Aku selalu menyadari kata sayang, restu dan maaf jauh lebih sering hadir untukku.

 ***

Namaku Mourde Anggoro. Ayahku Simian Sumanjaya, lelaki yang selalu serius. Mempersiapkan segala sesuatu – hingga menjadi sempurna dalam asumsinya – agar nantinya dapat menjalani hidup dan melewati masalah dengan baik-baik saja. Suatu saat aku pernah menganggap ayahku tidak benar-benar hidup karena dia begitu sibuk dengan persiapan hidupnya, seakan-akan dia akan hidup nanti, di masa depan yang entah kapan. Ibuku Canine Anggraeni, perempuan yang tegas dan saklek namun begitu mengabdikan diri untuk keluarga. Banyak hal yang aku pelajari dari ibuku, terutama dalam hal mengolah perasaan. Menjadi seseorang yang sangat mencintai diri sendiri adalah satu hal yang aku warisi darinya.

***

19 Februari 1994 pukul 9 pagi, ayah menyuruhku tinggal di rumah sementara ia dan ibu bergegas meninggalkan rumah. Kata Bibik – pembantu yang tinggal di rumahku –  ayah dan ibu ke rumah bersalin, sebentar lagi adikku akan lahir katanya. Aku dimintanya untuk mendoakan ibuku agar baik-baik saja ketika melahirkan nanti. Sejujurnya aku bertanya; kenapa aku harus mendoakan ibuku? Bukankah akupun telah dilahirkannya dan dia baik-baik saja. Apa yang perlu dikhawatirkan?

Akhir-akhir ini aku semakin sering berfantasi ria sendiri. Kerap kali aku bertanya mengapa perut ibuku bisa sebesar itu? Bagaimana bisa? Bagaimana jika perutkupun menjadi sebesar itu? Pertanyaan-pertanyaan yang aku jawab sendiri dengan bayangan-bayangan lucu yang sekaligus juga menjadi hiburan bagiku. Adik yang berada di dalam perut ibuku sebentar lagi akan lahir. Akupun mulai membayangkan bentuk adikku itu nantinya. Bentuk yang kubuat sekena dan semau-mauku sendiri. Setidaknya sebelum adikku lahir, dia sudah sangat menarik bagiku dan tentu aku harap dia akan tetap menarik setelah aku melihanya, nanti.

***

Hari ini, tepat saat usiaku 4 tahun 5 bulan, adikku lahir. Aku mendapat teman bermain baru – mainan baru lebih tepatnya –. Seketika perasaan gembira membuncah di hatiku. Aku akan mendapat teman bermain baru yang – aku rasa – sangat menarik.

***

Mawkis Jayacihna, sedang tertidur pulas di tempat tidurnya. Aku masih setia di sampingnya, memandang dan sesekali tertawa melihat gerakan-gerakan kecilnya yang sangat lucu bagiku. Benar, dia sangat menarik bagiku. Mainan yang aku panggil adik ini benar-benar mampu membuatku kehilangan selera untuk menghabiskan waktu di luar rumah. Dia benar-benar mampu menyerap habis seluruh perhatian dan rasa tertarikku. Sesekali kupegang tangannya yang mungil. Kukatakan berkali-kali kalau aku kakaknya, entah ia mendengar dan memahami atau tidak, aku hanya memuaskan rasa inginku sendiri.

Ibu sangat senang melihatku bermain dengan Mawkis, yang kemudian hari lebih sering aku panggil Ade’ Aya. Sesekali Aya menangis karena ulahku dan ibu selalu saja memperingatkanku untuk tidak mengganggu adikku itu. Seperti yang selama ini aku dapatkan, peringatan yang disertai pengertian dan pemakluman. Dan aku selalu saja tetap melakukan hal-hal yang kuingini.

Sepulangnya ayah bekerja, tidak seperti biasanya dia akan terlebih dahulu menyapa kami berdua, kucium tangannya dan ia akan memelukku juga mencium pipiku lalu mencium Aya. Selepas itu baru ia masuk kamar ditemani ibu dan keluar setelah berganti pakaian dan rambut sedikit basah dengan aroma badan khas sabun mandinya. Tidak begitu banyak bicara, ia akan kembali melakukan hal-hal yang tidak aku mengerti dan jelas tidak menarik perhatianku.

Aku cukup sabar menanti adikku dapat berjalan dan berlari. Aku cukup sabar menanti kesenangan baru bersama adikku. Kujabat tangan mungil adikku dan dengan lirih kukatakan padanya, “cepatlah dapat berlari, karena kamu harus mengejar langkahku atau aku yang akan mengejar langkahmu”.

***

Saat ini, bulan Juni di tahin 2012. Aku rasa kamu tidak sebegitu bodohnya untuk bisa menghitung sendiri berapa usiaku saat ini. Aku tidak suka melihatmu diam saja dan hanya menunggu untuk kucekoki cerita tentang segala sesuatunya.

Apalagi yang kamu tunggu dari cerita-ceritaku? Kamu ingin tahu bagaimana kehidupanku? Kehidupan keluargaku? Sudahlah, jangan terlalu menyibukkan diri dengan segala urusan orang lain. Kamu hanyalah pembaca. Apa pedulimu denganku? Mau apa kamu setelah mengetahui cerita-ceritaku, cerita-cerita keluargaku? Paling hanya diam saja bukan? Iya, kamu hanyalah pembaca, aku pencerita di sini. Jangan menuntutku untuk bercerita macam-macam lagi. Cukuplah kamu tahu orang-orang di keluargaku, kemudian sibukkanlah diri untuk membentuk keluargamu sendiri.

***

Tak ada lagi cerita-cerita tentangku, ibu, bapak, dan adikku. Hanya ada aku, Mourde yang sepi sendiri di kamar yang dulu dindingnya menjadi bahan permainanku. Hanya ada aku, Mourde yang perlahan mengambil belati dari dalam tas punggung lusuh. Hanya ada aku, Mourde yang dengan pasti menikam diri sendiri hingga mati, menyusul keluarga yang entah di mana. Sedangkan kamu, hanya berdiam diri menyaksikan pembunuhan di dalam cerita ini. Pembaca yang kemudian menyinyiri cerita dari pencerita yang sudah mati. Benar-benar manusiawi, kamu.

 *** innalillahi ***

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s