Catatan Kiriman

Maafku atas waktu yang tak bisa ku kejar sebulan ini. Bukan karena dia terlalu cepat berlari. tapi aku akui, itu karena aku terlalu sulit mengikuti. Aku tahu, Harimu telah berlalu, tapi ijinkan aku menyelipkan rindu susulan untukmu.

Ada orang-orang yang membuat kita berpikir bahwa lebih baik sendirian daripada bersama dengan mereka. Aku tak pernah menyangka pikiran ini pun hinggap padamu. Dari sosok yang selalu aku kagumi dalam berkawan. Sahabatmu tersebar di mana-mana, bahkan di sudut yang tak pernah aku sangka sekalipun. Kau tahu, aku kagum padamu sejak dulu. Dari pemikiranmu itu, aku merasa punya kawan sepemahaman.

Ada orang yang menyia-nyiakan cinta yang begitu besarnya. Sementara fakir tersebar di mana-mana. Kali ini saya berdoa untuk karma. Manusia adalah makhluk unik. Itulah definisiku tentang mereka. Walau mereka nampak serupa di luar, jauh di dalam jiwa, mereka bisa menjelma menjadi miliaran bahkan triliunan pribadi yang sama sekali berbeda. Apalagi soal cinta, rasa yang sejak dulu sangat senang mempermainkan jiwa. Satu hati yang mengharap, belum tentu tersambut dengan hangat. Bisa meleset, bisa terpental. Ada pula yang rela memendam cinta, demi menjaga hubungan sahabat yang riskan rapuh oleh cinta. Mungkin mereka salah dua dari yang kau sebut dengan fakir cinta. Semoga karmamu tak menyentuh mereka yang telah jujur pada rasa, dan mereka yang rela berkorban demi cinta yang sesungguhnya.

Aku merasakan kesegaran dalam udara yang basah. Pada genangan-genangan yang terinjak, pada tanah-tanah licin yang terjejak. Aku suka hujan, sama seperti aku suka matahari pagi. Aku suka bau tanah basah, sama seperti aku suka senja yang memerah. Namun hujan terasa lain. Sejuknya bisa mendamaikan jiwa laraku. Suaranya bisa terdengar berirama dalam nada alam. Dan basah airnya mampu meluruhkan segala kekesalan. Sama sepertimu, Kau adalah hujan untuk kami. Menyatukan kami dalam satu rasa tanpa jeda. Kebersamaan yang tak biasa.

Aku hanya ingin menyentuhkan tangan pada wajah lelahmu. Mencium kepala yang kauletakkan begitu saja di meja seraya memejamkan mata. Hanya ingin memelukmu kala kau tak mampu lagi menyebarkan energi. Hanya ingin kau tahu bahwa kau akan selalu punya aku. Aku merasakannya, dan aku pikir mereka pun satu suara denganku. Kau, termuda namun seperti kakak tertua bagi kami.

Hati tak berkaki, maka ia tak mampu menghampiri. Suatu saat nanti. mungkin lama, mungkin sebentar. Urusan hati tak bisa kita berspekulasi. Biarlah ia mengalir dengan sendiri. Menemukan adalah jauh lebih indah dari memilih. Karena temuan teriring takdir, suatu kebetulan yang sudah dipersiapkan Tuhan. Sedang pilihan kadang hanyalah emosi yang tak kekal, tampak ajaib namun hanya beberapa menit. Bersabarlah, waktu itu akan datang. Suatu saat nanti. Mungkin lama, mungkin sebentar.

Lihatlah aku seolah-olah kau melihatnya, peluk aku seolah-olah kau memeluknya. Aku akan menikmati seolah-olah selamanya. Kau layak mendapatkan yang sempurna. Yang selalu ada untukmu, kamu sebenarnya.

Djogdjakarta. Di antara Djogdja dan Djakarta, seringkali terselip rindu yang terburu-buru. Aku pernah merasakannya. Dan percayalah, bertarung dengan jarak itu tak semudah cerita drama penuh romansa. Banyak yang terjungkal kemudian karena salah terka. Mereka meremehkan jarak yang ternyata bisa menciptakan ribuan keadaan yang berbeda setelahnya. Namun begitu, saat kamu siap, saat hati sudah sangat erat tertambat. Kala kamu yakin, niscaya tak ada yang tak mungkin. Tuhan akan menjamin cintamu padanya, begitu sebaliknya.

Hidup hanyalah tentang mengukir kenangan. Hei, hidup juga tentang menyongsong harapan. Kita hidup di masa lalu, masa kini dan masa depan. Harapku kita akan tetap bersama di ketiga masa itu. Di sudut dunia nyata saat fisik ini masih bisa bersua, dan di pojok dunia maya saat kita masing-masing sudah menjelalajah di belahan dunia yang berbeda. Jadi kalau boleh, aku ingin menambahkan harapan di belakang kenangan yang terukir.

Ponti Almas Karamina. Ya, namamu cantik sekali. Seperti perangai yang kamu miliki. Kocak gelak tawamu yang mengalir secara alami. Cepat ritme kamu bercerita, yang buatku adalah satu keajaiban nyata, seperti tak pernah habis bahan untuk membuat setiap pertemuan selalu bermakna.

Masa lalu, masa kini, masa nanti. Percayalah, kamu senantiasa hadir dalam sanubari setiap manusia yang tersinggahi olehmu. Jejak yang tertinggal, bahkan mungkin sang waktu pun takkan sanggup menghapusnya.

Selamat Ulang Tahun, Ponti. Semoga segala harapmu bersambut hangat oleh takdir. Amin.

side story ada di sini

 

Candra Aji, April 2012

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s