Hari Ini Kita Lupa

Sebuah jam digital di meja kecil sebelah tempat tidur menunjukkan angka enam. Hari sudah pagi, namun ruangan itu masih gelap. Lampu tidak menyala. Hanya beberapa garis-garis sinar cahaya yang menembus lubang-lubang tirai jendela. Biasanya jendela itu terbuka, tapi tidak untuk hari ini.

Laki-laki yang hanya mengenakan singlet dan celana boxer itu duduk di pinggir ranjang. Sebatang rokok di tangan kirinya. Sesekali diisapnya dalam-dalam, kemudian diembuskan pelan asapnya. Asapnya mengepul menambah pengap ruangan itu.

“Selamat ulang tahun Ndre. Apa kamu ingat ini hari ulang tahunmu? Tentu saja tidak! Kamu sudah lupa. Kamu sudah mati. Aku pun akan menyusulmu mati. Sebentar lagi..”

Ditariknya tirai hingga terlepas dari pengaitnya. Seketika ruangan kamar itu menjadi terang oleh cahaya matahari. Belasan foto-foto besar tertempel di dindingnya. Puncak Garuda Merapi, Jayawijaya, Raja Ampat dan foto-foto eksotis atraksi budaya di tanah air lainnya memenuhi ruangan itu. Dibukanya jendela besar di ruangan itu. Udara pengap kamar itu pun seakan berebutan membebaskan diri keluar.

Laki-laki yang hanya mengenakan singlet dan celana boxer itu sudah berdiri pinggir jendela. Sementara di bawah mobil-mobil lalu-lalang di jalan.

“Ini lantai 12, sebentar lagi aku..mati..”

Diisapnya rokok yang tinggal setengah itu dalam-dalam. Kali ini lebih lama dari biasanya. Mungkin untuk yang terakhir kali, barangkali begitu yang ada di pikirannya.

“Sekarang waktunya..” katanya bersamaan dengan dikeluarkannya kepulan asap rokok dari hidung dan mulutnya.

Kriiing..kriing..kring..

“Sial..Sebentar lagi aku mati dan ada telepon bordering..”

Kriiiing..kring..kring

Mungkin untuk yang terakhir kali, barangkali begitu yang ada di pikirannya. Dia berbalik dan buru-buru menuju telepon yang menggantung di dekat pintu. Hampir terjatuh ketika ia tersandung pinggiran karpet. Ruangan itu berantakan. Buku dan majalah-majalah berserakan di atas karpetnya. Majalah-majalah petualangan.

“Setelah ini aku akan membereskannya. Ah tapi buat apa? Sebentar lagi aku mati..”

Laki-laki yang hanya mengenakan singlet dan celana boxer itu sudah berdiri dengan telepon yang dijepit di antara kuping kanan dan pundaknya. Kedua tangannya sibuk menuliskan sesuatu pada selembar kertas.

“Halo..bukan..saya Roy..Andrea sudah mati..saya juga sebentar lagi mati..besok jam 10..iya..selamat pagi..”. Kemudian ditutup teleponnya.

“Ndre, adventure magazine sialan itu baru saja menelponku. Bukankah itu impianmu menjelajahi dunia bersama majalah itu? Tapi majalah itu juga yang membunuhmu. Kamu terobsesi berpetualang. Mau tak mau aku pun mengikutimu. Aku pun belajar fotografi karenamu. Semata-mata karena tak ingin jauh darimu. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Nyatanya memang iya, kamu mati, keracunan di kawah Kelud. Persetan dengan majalah petualangan, sudah kubilang kamu mati, mereka masih memanggilmu untuk interview besok pagi.”

***

“Ndre, kamu tahu sekarang aku sedang ada di mana? Aku ada di Kenya. Afrika! Ini semua karena hari itu aku lupa berniat loncat dari apartemen. Mungkin untuk yang terakhir kali, aku akan datang ke interview kerjamu di majalah keparat ini dulu, begitu yang ada di pikirku saat itu.”

***

nb: saya terpikir menulis ini saat mendengarkan lagunya @haloanton, pacarnya @amalia_achmad berjudul Hari Ini Kita Lupa, backsound: http://soundcloud.com/hallo-lia/hallo13-hari-ini-kita-lupa

Suryawan Wahyu Prasetyo, Februari 2012

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s