Membaui Kenangan

Tak ada yang kebetulan di dunia ini, jika bukan kita yang merencanakan, mungkin Tuhan yang punya rencana.

Pelan aku mendorong pintu kaca. Ragu-ragu. Bukan karena cemas apakah tempat ini masih menerima pengunjung atau tidak, sudah pasti tulisan “Open” yang digantung di pintu berarti memang tempat ini masih buka meskipun hari mulai gelap. “MEI LIM TAILOR” tempat ini sudah berganti nama. Apakah aku salah rumah? Sedikit cemas, namun aku tak sempat lagi untuk berpikir, kemeja putihku sudah basah karena hujan. Dulu tempat ini bernama “KOH LIM TAILOR”, tempat menjahit langgananku yang ada di kawasan pecinan. Letaknya di ujung lorong panjang. Untuk sampai ke sini aku harus jalan kaki melewati toko-toko, serta jajaran rumah makan dengan asap mengepul yang baunya menggugah selera. Sesekali aku harus berteduh di pinggiran toko-toko itu karena hujan yang deras tadi.

Ada sesuatu yang berbeda ketika memasuki ruangan ini. Aroma teh hijau. Aku membaui sebuah kenangan.

“Daniel, lama ndak ke sini..” seorang laki-laki menghampiriku dan menjabat tanganku erat.

Namanya Hua Lim. Aku biasa memanggilnya Koh Lim seperti tulisan yang terpampang di depan rukonya. Sudah lama sekali kami tidak bersua. Hari ini aku datang dengan dua bungkusan. Satu bungkusan berisi kain panjang untuk sebuah jas dan sebuah bungkusan amplop berisi undangan pernikahan.

Binar kegembiraan terlihat dari dua matanya yang segaris itu. Dengan tulus ia memberikan selamat kepadaku. Aku senang bisa membagi kebahagiaan ini kepada kenalan lamaku itu. Ternyata kedatanganku tidaklah sia-sia, dia pun berbagi cerita bahagia padaku. “MEI LIM TAILOR” tulisan yang terpampang di depan itu baru enam bulan ini terpasang. Baru setengah tahun ini Koh Lim menikah, sayang dia tidak sempat mengundangku karena memang hanya teruntuk keluarga dekatnya saja. Mei..

Belum sempat aku mengembarakan pikiranku ke masa lalu, sosok itu tiba-tiba sudah ada di hadapanku. Seorang wanita dengan terusan panjang bermotif bunga dangan kancing china membawakan teh untukku. Aku terkejut, begitu pun dia, aku yakin itu. tangannya gemetar saat menuangkan teh ke cangkir di depanku. Kamu tidak berubah Mei, masih dengan Elizabeth Arden’s Green Tea-mu.

 

***

“Menikahlah denganku..”

Kamu menggeleng, kemudian menangis. Ternyata perjalanan cinta tiga tahun kita tidak berakhir pada sesuatu. Aku gagal meyakinkanmu untuk bisa hidup bahagia denganku.

“Aku cinta kamu, Mei..”

“Aku juga cinta kamu, Niel..tapi aku lebih cinta pada Mami..”

“Setiap orang berhak atas kebahagiaannya sendiri Mei..”

Lagi-lagi kamu hanya menggeleng. Aku pun tak pernah lagi melihat wajahmu sejak saat itu. Aku gagal membagi bahagiaku bersamamu. Kamu memilih untuk tidak bahagia Mei. Atau mungkin aku yang salah mengerti dengan konsep bahagia. Bagiku bahagia adalah menjalani apa yang aku suka, meraih apa yang aku impikan. Namun kamu tidak Mei, kamu memilih menjalani apa yang Mami kamu impikan, mempertahankan kemurnian darah Tionghoa di keluargamu. Tentu aku tidak bisa menjadi bagian dari impian itu, karena darah jawa mengalir dalam tubuhku. Tapi, entahlah mungkin kamu bahagia dengan pilihan itu Mei.

***

“Dicopot saja kemejanya kalau basah daripada masuk angin..” seru Koh Lim dari ruang tamu yang hanya berbatas kaca tembus pandang dari tempatku berada.

Kikuk aku melepas kemeja putihku. Lima tahun yang lalu kita pernah sedekat ini. Pelan kurasakan jari-jarimu menyusuri punggungku dengan meteran gulung itu. Sengaja kudorong tubuhku ke belakang, biar semakin dekat denganmu, biar kudengar degup jantung yang terpacu itu, biar kuhirup lagi aroma kenangan itu dalam-dalam, mungkin ini untuk yang terakhir kali. Aku kangen kamu, Mei. Bisa saja aku nekat membalikkan badan, kemudian memelukmu atau bahkan menciummu. Namun itu tak kulakukan. Aku masih waras. Aku tak mau merusak kebahagiaanmu sekarang, mengacaukan kehidupanmu yang baru.

Sedih adalah ketika aku kehilangan orang yang kusayang, namun akan lebih sedih lagi jika melihat orang yang disayang kehilangan kebahagiaan. Jujur aku masih sangat ingin memilikimu Mei, namun tidak ada yang lebih kuinginkan selain melihatmu bahagia. Meski aku bukan bagian dari kebahagiaan itu.

Suryawan Wahyu Prasetyo, Januari 2012

5 thoughts on “Membaui Kenangan

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s