Sesuatu Yang Baru

Seingatku, sudah lama aku berhenti mempercayai sesuatu terlalu lama. Satu-satunya yang tetap adalah bagaimana aku menjalani hidup ini; berpindah-pindah dari satu hal ke hal lainnya. Dari satu tempat tinggal ke tempat tinggal lainnya, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, dari satu kenalan ke kenalan lainnya.

Ibuku mempercayai Ayah terlalu lama, dua puluh tujuh tahun, untuk apa? Aku menyimpan pengkhianatan Ayah sejak usiaku yang ke-tujuh, dua puluh tahun lamanya. Ayah dengan tanpa beban mengajak aku bertemu seorang wanita dan anak kecil dua tahun di bawah usiaku lalu memperkenalkan mereka sebagai ‘ini mama dan adik tapi jangan bilang-bilang Ibu ya’. Aku mengerti, Ibu memilih untuk pura-pura tidak mengerti.

Ayahku mempercayai pekerjaan dan teman-temannya terlalu lama, berpuluh-puluh tahun menjadi rekanan bisnis, untuk apa? Untuk dikhianati oleh teman-temannya sendiri ketika mendekati usia pensiun, lima tahun yang lalu. Orang-orang yang Ayah sebut ‘teman-teman’ itu mendepak Ayah keluar dari bisnis yang dirintis bersama sejak mereka masih muda. Membiarkan Ayah terlunta kehilangan pegangan hidupnya. Sekali-kali, Ayah masih dengan dungu menyanggupi ajakan berkumpul bersama pengkhianat-pengkhianat itu. Aku mengerti, Ayah memilih untuk pura-pura tidak mengerti.

Aku tak bisa, tentu saja, menyalahkan kedua orang tuaku atas ketidak-mampuanku mempertahankan sesuatu terlalu lama. Aku tidak suka kota tempatku dilahirkan, tidak suka sekolah tempatku mendapatkan gelar sarjana, tidak suka orang-orang yang memanggilku dengan sebutan ‘teman’. Aku tidak suka tanpa alasan. Maka aku memilih pergi.

Lalu di tempat baru, aku tidak suka kamar sempit yang aku sewa murah, tidak suka pekerjaan menghitung uang orang yang tak kukenal, tidak suka rekan kerja yang berkali-kali mengajakku pergi minum kopi setelah ngantor. Aku tidak suka tanpa alasan. Maka aku memilih pergi.

Berulang berkali-kali. Maka berkali-kali aku memilih pergi.

Ini kota ke-tujuh, pekerjaan ke-duabelas, dan kenalan-kenalan yang tidak sempat kuhitung benar jumlahnya dalam empat tahun terakhir hidupku. Sudah enam bulan lebih, masa kontrak kerjaku berakhir, tapi aku belum mau pergi. Karena dia. Tapi memang dia saja tidak cukup.

Aku sedang berkemas, aku sudah siap untuk pergi ketika berita buruk itu datang.  Salah satu kenalanku meninggal, masih teramat muda. Aku mengenalnya lewat kenalan yang lain. Dan kami hanya sekali dua bertemu. Pada pemakamannya ratusan pelayat mengantar. Termasuk aku. Aku tertegun. Siapa yang akan mengantarku nanti ketika waktuku tiba kecuali kedua orangtuaku? Siapa yang mengenalku cukup baik sehingga mereka bersedia meluangkan waktu untukku?

“Hei… “ suara berat itu mengembalikan pikiranku. Pemakaman mulai sepi, hanya tinggal sanak saudara dan keluarga. Ia, pemilik suara berat itu, menyentuh punggungku pelan. Ini pertama kalinya ia menyentuhku. Ini pertama kalinya seseorang selain Ayah dan Ibuku menyentuhku dengan kesungguhan. Ah tidak, mungkin yang lebih tepat adalah ini pertama kalinya aku membiarkan seseorang menyentuhku cukup lama sehingga bisa kurasakan kesungguhan di dalamnya. Dan aku merasa kenyamanan yang mengalir pelan-pelan. Sesuatu yang baru. 

“Kamu siap untuk pulang?” tanyanya.

“Ke mana?” pertanyaan yang sebenarnya kutujukan pada diriku sendiri. Ke mana harusnya aku pulang?  Dia tidak menjawab. Aku melihat senyumnya dan ada sesuatu yang baru di sana. Sesuatu yang baru itu adalah keinginan untuk tinggal lama-lama, dengannya. Aku akan menyetujui perpanjangan kontrak kerjaku, aku akan menghabiskan lebih banyak waktu dengan kenalan-kenalanku, aku akan tinggal lama-lama di sini, dengannya.

Dia mengambil tanganku. “Kamu sudah siap untuk pulang, denganku?”, katanya. Aku mengangguk, lega. Aku siap untuk sesuatu yang baru. Aku siap mempercayai kamu, aku siap mempercayai diriku sendiri.

Inilah sesuatu yang baru untukku.

Amalia Achmad, Januari 2012

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s