I Love You

Buku Memori
“Selamat pagi. Kamu siapa?”
“Hai Ditya, aku Dendy. Nih, coba kamu buka diary ini di halaman 4.”

Namanya Ditya. Dia adalah tunanganku dan InsyaAllah calon istriku. Setiap hari aku menemuinya, namun setiap hari pula ia lupa denganku. Dia menderita Anterograde Amnesia. Cara bodohnya, itu adalah penyakit lupa. Namun kalau Dokter bilang, itu adalah suatu bentuk amnesia di mana peristiwa atau kejadian baru yang ada dalam ingatan jangka pendek tidak ditransfer ke ingatan jangka panjang yang permanen. Otak hanya mampu mengingat dalam jangka waktu tertentu, setelah jangka waktu tertentu itu habis, maka otak akan kembali ke ingatan semula. Dan pagi ini adalah pagi ke-39 dia bertanya identitasku.


“Nama : Dendy Sebastian | TTL : Jakarta, 07 Oktober 1981 | Alamat : Perum Cilandak, RT.05 RW.09 | Hobi : Melukis | Status : Belum Menikah | Hubungan dengan Ditya : Tunangan.”

Ditya melihatku seksama.

“Wah, ternyata kamu tunangan aku. Hidung mancung, muka oriental, badan tegap. Ganteng ya kamu.” Ditya nyegir.

“Tentu dong. Ditya kan pinter cari lelaki.” dia tergelak kemudian.

Ditya mengamati sekeliling kamarnya. Ada banyak tempelan warna-warni di dinding kamarnya. Ada banyak foto, tulisan, kutipan. Selain itu juga ada beberapa display barang-barang kesayangan Ditya, dengan narasi di setiap barang yang di pajang. Ada pula TV dan dvd player beserta satu rak koleksi dvd kenangan Ditya dengan orang-orang dekatnya termasuk denganku. Kalau aku sedang bersamanya, aku biasanya membantu menjelaskan segala pernak-pernik ini ke Ditya.

 “Ini adalah acara pertunangan kita,” Aku menunjuk satu foto dari acara pertunangan kami.

“Lihat, kamu nampak cantik sekali dengan gaun warna putih tulang.”

“Waktu itu, kamu berkali-kali menelpon aku menanyakan apakah rombongan sudah berangkat atau belum. Maklum koordinasi rombongan tempatku waktu itu ada sedikit hambatan. Aku juga komplain berkali-kali ke bapak waktu itu, kenapa lelet sekali rombongannya.”

Begitulah setiap hari. Aku berkenalan dengan ditya dan menjadi tourguide wisata memori untuknya. Hari ini aku bercerita tentang serunya pekerjaanku, esok harinya cerita itu seperti tak pernah terdengar olehnya. Buat dia, Setiap hari adalah hari baru. Buatku, setiap hari adalah satu hari kesempatan untuk membuat dia bahagia atau justru sebaliknya. 

“Aku ga mau tidur.” Suatu pagi, saat membuka halaman yang ditulis Dokter pribadinya, ditya berujar begitu saja.

Aku hanya tersenyum memandangnya.

“Kata Dokter, ingatanku hilang saat aku tidur. Aku ga mau semua kenangan yang aku dapat hari ini hilang. Aku ga mau kamu setiap hari mengulang-ulang cerita yang sama. Tentang aku, kamu dan keluargaku. Kamu pasti bosan melakukakannya setiap hari.”

Aku bukan bosan. Belum mungkin. Ah, aku sendiri tak tahu apa yang aku rasakan. Mengunjungimu dan memulai hari baru untukmu. Buatku ini bukanlah beban namun seperti sudah jadi kebiasaan.

“Aku takkan menyerah, kami takkan menyerah. Aku dan Keluargamu, kami percaya ini hanya sementara. Kamu akan sembuh, sayang.” Mataku agak berkaca saat mengatakannya, tapi aku sembunyikan segera dari Ditya.

Langit Jingga
Langit jingga semakin gelap di ufuk barat. Aku lihat jam tangan Alba silver hadiah dari dendy. 20 menit sudah lewat dari jam 5. Seharusnya aku sudah setengah perjalanan menuju rumah dan menikmati muka-muka lelah para pekerja di busyway transjakarta.

Hai langit jingga, jangan pulang dulu ya. Aku akan menjemputmu dengan cinta. InsyaAllah tak sampai jam 5, aku sudah berlabuh di dermaga jati.

Aku baca sms darinya sekali lagi, memastikan bahwa aku tidak salah membaca waktu dia ‘berlabuh’. Ah, aku tidak salah. Mungkin dia sedang terjebak macet.

15 menit kemudian Dendy belum juga datang, kabar darinya pun belum ada. Aku coba telpon dia.

Anda terhubung dengan….  Shiiiiiittttt.!! Ponselnya mati. Barang 10 menit lagi lah aku menunggunya. Mungkin seperti dulu, dia ada meeting dadakan di kantornya dan ga sempat mengabari.

 Pukul 17.59, Mobil silver dengan logo 4 lingkaran mendekatiku. Lelaki berusia  27 tahun turun menghampiriku.

 “Ditya, aku minta maaf telat lagi menepati janji. Direktur ngadain meeting direksi dadakan tadi.”

 Aku pasang wajah kecut padanya, lalu menggandengnya masuk mobil. “Ayo kita pulang, Den. Aku capek.”

                                                                ***

 “Ditya, kamu masih marah padaku?” jemari tangan kirinya menggenggam lembut punggung tangan kananku. Suaranya pelan.

 Aku melihat sekilas ke Dendy, lalu membuang muka ke jalanan. Aku lelah seperti ini.

”Kalau sekali dua kali, aku maklum, Den. Tapi ini sudah berulang kali terjadi. Kalau kamu memang sedang sibuk, kamu ga perlu memaksakan diri menjemputku. Aku bisa pulang sendiri, aku  bukan perempuan manja yang harus kamu antar jemput.” Aku menjawab dengan nada tinggi.

Dendy Sebastian namanya, pria romantis perfeksionis yang berhasil meluruhkanku. Setelah 3 tahun hatiku tertutup luka, dia berhasil meyakinkanku bahwa masih ada lelaki yang bisa dipercaya. Dia adalah cakrawala baru untukku, setelah aku terjerembab hebat dalam luka akibat perselingkuhan mantan pacarku.

Dendy tak menyerah. Matanya memelas padaku, tangan kanannya memegang kemudi,  jemari tangan kirinya masih memegang lembut punggung tangan kananku.

“Sayaaannngggg… aku minta maaf, aku menyes…..”

BRUAAAAAKKKKKKKKKK!!!!!!!!!!

Leave or Live It?

” manusia adalah makhluk sempurna,
untuk menyempurnakan yang tak sempurna “

“Bila saatnya nanti tiba dan ditya masih tetap sama. Apakah kamu masih akan melanjutkan hubungan ini, Den?”

Ito, sahabat karibku dari kecil. Orang tuanya adalah kawan kecil dari ayahku. Memang wajar kecemasan Ito. Sekarang adalah 2 bulan menjelang tanggal pernikahanku dengan ditya. Dan dia masih tak ada progress yang berarti.

“Aku mencintai Ditya sepenuh hatiku. Namun aku ga munafik, aku juga ingin kehidupan normal. Aku belum tahu, To. Aku… ” Ada jeda yang tertahan.

Benci pada diri sendiri, amarah yang tak kunjung berhenti. Selalu itu yang aku rasakan setiap kali mengingat kecelakaan itu.

”Akulah yang menyebabkan Ditya menjadi seperti ini. Seharusnya waktu itu aku biarkan dia pulang sendiri, atau seharusnya aku ijin meninggalkan meeting sehingga aku tidak terlambat menjemputnya, atau seharusnya….”

“Stop.. Sudah.. Berhentilah menyalahkan diri sendiri.  Tak ada yang bisa kamu ubah dan tak kan ada yang akan berubah. Ini sudah digariskan Tuhan, Den. Ikhlaskanlah.”

Aku menghela nafas panjang. Mencoba melakukan kata terakhir yang Ito ucapkan tadi. Rasanya sudah ribuan kali aku mencobanya, namun sekalipun aku belum pernah merasakannya, ikhlas.

Allahuakbar Allaaaahuakbar… Adzan maghrib berkumandang lantang, merasuk lembut ke relung jiwaku. Langit senja ini masih sama, persis seperti senja saat kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang mungkin akan meninggalkan penyesalan seumur hidup untukku.

Tuhan, apa rencanamu selanjutnya?

The Day
 Ditya
“Siap ya, tahaaaan. Satuuu… duaa…. tiga!!”
“ok, nice. Yuk sekali lagi ya..”

Aku memakai gaun putih tulang. Kami sedang berada di puncak, Bogor untuk sesi foto pre wedding. Dendy bilang, hari pernikahan kami sebentar lagi dan sekarang kami sedang menyiapkan segala sesuatunya, termasuk foto pre wedding.

Tak hanya foto, kami juga membuat video dokumenter tentang semua proses yang berlangsung. Dendy bilang, ini agar aku nanti mudah mereview kembali setiap detail dari ingatan indah ini setiap pagi. Aku menurut saja, Dendy pasti lebih paham aku daripada aku sendiri.

 Dendy
Take one.. Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Yak kali ini, kita sedang ada di Brenda, salah satu butik di bandung. Di sini Dendy dan Ditya sedang melakukan proses fitting baju pengantin. Tuh, lihat ekspresi Ditya, senang sekali ya. Suara Ito sangat jelas, gesturenya oke. Dia sudah berlatih jauh sebelum hari ini.

“Pokoknya, nanti aku yang merekam perjalanan kalian ya, Den!” suatu waktu, Ito mengajukan diri menjadi bagian dari pernikahan kami. Aku pun mengiyakannya. Dan iya, Ito memang berbakat kok.

“Sayaaaaang, gaunnya bagus model yang mana? Dengan atau tanpa balero?” Ditya setengah berteriak saat bertanya padaku yang ada di pojok butik, terpaut beberapa meter darinya. Dia semangat sekali.

Tak ayal belasan pengunjung butik pun berpaling padanya. Aku cuma tersenyum. Aku berani bertaruh, antusiasme Ditya mampu membuat semua lajang ingin segera menikah. Matanya memancarkan bahagia yang luar biasa.

Aku yang berdiri agak jauh darinya, lalu mendekat padanya dan berbisik pelan “Dengan balero lebih menarik, sayang.”

Damai sekali rasanya. Melihat Ditya sangat menyenangkan. Dia sangat bahagia. Aku? Yup, tentu akupun begitu, bahagia luar biasa.

Dua minggu sebelum hari ini, aku shalat Istiqarah setiap malam. Aku memohon pada Allah untuk dipilihkan jalan terbaik untuk jodohku. Tak lama kemudian hatikupun mantap untuk memilih Ditya sebagai calon istriku, InsyaAllah.

Ito
“Den, pegangin dulu bentar. Sekarang jatah kamu yang rekam aku. Nih, pegang yang bener ya.”

 ACTIOON!!

 Hai Double Diiii. Dendy dan Ditya.
Selamat ya, guys!! Happy Marriieeed!!

Wish the best for you two, yes! Semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawaddah dan Warrahmah. Amin.

Kalian luar biasa!

Ehm..

Oya, satu hal lagi. Kalian harus tahu, kalian berdua sudah berhasil membuat kami para lajang. Iri setengah mati.

-KLIK-

dua bulan setelah pernikahan kami..

 “Selamat pagi Dendy Sebastian, suamiku tercinta.” Ditya bisa memanggil nama lengkapku, persis setelah dia bangun tidur.  

” See? God is working in misterious ways. Ga ada yang ga mungkin kalau kita yakin. ”

                                                                                                Candra Aji, Januari 2012

3 thoughts on “I Love You

  1. entah kenapa saat membaca ringkasannya q tw bhwa ini tulisannya chandra aji,,,
    dan saat melihat posted tulisan ini,,,sepertinya tulisan ini sebuah hadiah untukQ,,,
    karena tepat 26 januari 2012 q dan psnganQ 5th pacran,,,
    dan 2 minggu dri sekrng insyallah kami akan melangsungkan pernikahan,,,,,
    makasih bwt mis kijil yang membuatQ ngefans akan tulisan anda,,,^_^

    • Hallo mbak Hana. Wah, Terima kasih kunjungan dan corat-coretnya di #kmtg.
      Waaahh.. Happy 5th Anniversary, yes! Lalu, 2 minggu lagi married? Widiw, Keren. Sama kaya Ito di cerita ini, saya pun iri setengah mati dg anda
      Semoga diberi kelancaran ya weddingnya, InsyaAllah Sakinah, Mawaddah dan Warrahmah. Amin.

      Makasih @bocahkijil sudah ngajak mbak Hana mampir ke #kmtg. Mbak Hana, jangan bosan blogwalking ke sini, yes..😀

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s