Arjuna Cleopatra

Bioskop Tua

“Aku ingin hari ini tak ada.

Aku ingin satu tanggal ini disembunyikan saja dariku.”

Mentari pagi sudah mengintip dari sela-sela jendela bilik kamarku. Ah, sudah pagi ternyata.  Eh, tapi semalaman mataku sama sekali tak terpejam. Aku ga bisa tidur, padahal esok hari ini jadwal kerjaku sangat menggila. Ya, Selalu seperti ini. Setiap tanggal ini, pikiranku berkelana ke mana-mana, diapun kompak mengajak mataku untuk terjaga. Menjadikan memori-memori yang telah lalu, terputar kembali laksana bioskop tua.

Di subuh hari, beberapa orang memulai hari. Banyak orang masih terbuai mimpi. namun aku, masih sendiri dengan kenangan dingin jauh hari.

Yu,  nanti jangan lupa bawa file promo event bula ini ya? Bos mau lihat. Memori 10 jam yang lalu membawa aku kembali ke masa yang sebenarnya.

Bulan ini adalah bulan sibuk pekerjaanku. Banyak event yang harus aku kerjakan kerjakan, dan bagian kerjaku cukup lumayan. Okelah, tak ada pilihan kecuali membuang semua kenangan. Aku harus keluar, menghadapi masa sekarang. Menantang lantang sesuatu yang semua orang bilang kenyataan.

***

Tak ada yang beda di kantorku hari ini. Semua masih sama. File pekerjaan sekarang ada di tas, file proposal calon pekerjaan tetap menunggu di pojok ruangan. Hawa di ruangkupun masih tetap sama, lembab tak ramah.

“Yu, ayo, kita dipanggil si Bos tuh.”

“Iye, gue tahu. Ni udah gue siapin semuanya. Udah, tenang aja lu.”

Untunglah flasdiskku sudah ketemu. Sempat panik banget aku seharian kemarin. Gimana ga, semua file pekerjaan  bersemayam di sana. Proposal pengajuan next event, kumpulan laporan pertanggungjawaban Jogja Java Carnival kemarin sampai beberapa arsip bulan lalu yang belum sempat aku burning di dvd.

“Selamat pagi, Wahyu. Sudah kamu siapkan berkas yang saya minta?”


Kota Sejuta Budaya
Orang menyebutnya berbeda-beda. Jogja, Yogjo, Ngayogjokarto, Jogjakarta, Yogyakarta. Lain lidah, lain pengucapan.  Tapi dari semua yang keluar dari mulut orang-orang. Semua tahu kota yang dimaksud. Ya, Kota ini memang istimewa.

Istimewa negrinya, istimewa orangnya. Itu kalau kata JHF (Jogja HipHop Foundation).

Ini adalah Kota ketigaku setelah Magelang dan Semarang. Aku hidup, bertemu orang baru, bertatap muka baru, berdiskusi dengan ide baru, atau bahkan mengenal cinta baru. Kota ini memang kota budaya, banyak barang lama di sini, keraton salah satunya. Namun bagiku, kota ini selalu baru, terbarukan. Dia selalu bergerak, dinamis seiring perkembangan kekinian.

Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta. Dinas yang membarukan semua kenangan. Mengemas yang antik menjadi nyentrik dan menarik.  Memicu yang telah lalu. Memberikan kesegaran untuk mereka yang sedang bosan dengan hedonisme dunia.

Dengan pin ‘Ayo ke JOGJA’ menempel di dada kanan, aku siap melayani sampai jam 8 malam. Divisi TIC (Tourism Information Center), memperkenalkan Jogja kepada dunia. Mengarahkan pelancong ke arah yang sama, Jogja yang berhati nyaman. Di sinilah aku berkarya.

“Selamat Siang, mas. Apakah, Gelar Resital Tari 2012 “Warnaku-Warnaku” masih berlangsung?” serombongan piknik siswa SMP membuka hariku di tanggal 16 ini.

 

Penyiasat Sepi
20 menit lagi, gumamku dalam hati. Aku ga suka angka genap, kecuali angka 8.  Bagiku, angka 8 adalah manifestasi dari kesetaraan, keserasian dan keindahan. Dibolak-balik tetap sama, itulah 8. Dan kebetulan, jam 8 malam adalah jam yang selalu aku tunggu-tunggu.  Jam pulang kerja, jam bersua dengan kesenangan yang sesungguhnya.

“Yu, ntar malem anterin gue ke Mirota Batik ya. Gue mau beli oleh-oleh buat orang rumah nie.”

“Iyee”

“Eh, tapi  hari ini kan ulang tahun lu. Lu ga ada acara sama temen-temen lu?”

“Gue malah berharap hari ini ga pernah ada. Gue ga mau menjadi tua, umpetin gih tanggal 16 ini dari gue.”

“Yee…. emangnya lu Peterpan, ga bisa tua. Udah deh, cukup galaunya. Nanti gue tunggu di tempat biasa ya. Ga pakai telat.”

“Iyee.”

Mirota Batik penuh sesak, maklum musim liburan. Sodok sana, sodok sini. Dia semangat sekali. Dia menggandeng aku yang di belakang, menyusuri lorong berjubel kerumunan orang yang lalu-lalang. Yup, sekali lagi aku terselamatkan dari kesepian malam ini. Kali ini, dialah penyelamatku. Dengan dia, waktu cepat berlalu. Meski tanggal ini tak bisa hilang, setidaknya aku bisa mengalihkannya tanpa beban.

Cleopatra
Apa ini?

Seperti sebuah kotak kecil yang menganjal di saku jaket kananku. Kotak kecil berwarna coklat muda motif batik, dengan dibalut pita kontras berwarna coklat tua tersaji apik di tanganku.

Dear ‘Arjuna’ ,
Hei Kamuuu, Selamat Ulang Tahuun!! Yee.. makin tua😀
Oya, maaf ya Yu, tak ada doa di sini. Doaku untukmu sangat panjang jadi ga mungkin aku tulis di sini. Namun tentu saja aku sudah menyampaikannya pada Tuhan, sejak menit pertama melewati hari ini.

Jadi, untuk yang di sini. Ehm, aku ingin kau tahu :
Dunia sangat beruntung memilikimu, bahkan mungkin kau tidak menyadarinya.
Dan Aku. Buatku Jogjaku takkan sempurna tanpamu.

Peluk Hangat,
‘Cleopatra’

***

Selamat ulang tahun,  Suryawan Wahyu Prasetyo😀

Candra Aji, Januari 2012  

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s