Lelaki yang Membenci Hari Ulang Tahun

16 Januari tahun sekian

Lelaki itu terguyur hujan di halaman

Dengan celana pendek dan kaos singlet, tanpa alas kaki

Wajahnya marah, seakan mampu mengisap berliter-liter darah

Air hujan perlahan menenangkannya

Ia terisak lalu berlutut menghadap langit

***

16 Januari bertahun-tahun kemudian

Lelaki yang sama berjalan ke luar rumah

Pakaiannya licin, berdasi

Sepatu mengkilap dengan tas di pundak

Ia pergi mencari sesuap nasi

Wajahnya tertekuk tak rapi

***

16 Januari belasan tahun yang lalu

Anak laki-laki itu menangis tersedu-sedu

Hanya isaknya yang tertinggal, teriakannya habis termakan lelah

Ia terduduk di sudut ruangan, wajahnya berlumuran krim biru dan merah

Tangannya membiru, tubuhnya membeku

Hatinya remuk-redam, otaknya kaku

Kejadian hari itu berulang-ulang muncul di kepalanya, meski telah 3 jam berlalu

Sebuah ketidaksengajaan yang dilakukannya, berbuah murka sang tetua

Tak sempat lagi menjelaskan, anak yang belum genap baligh itu terlanjur menjadi sasaran kemarahan

Sakit di luar dan di dalam

Hanya mampu terdiam

***

16 Januari kali ini

Aku ingin menghampirinya

Aku ingin memberikan pelukan yang paling erat padanya

Aku hanya ingin berkata, selalu ada harapan dalam setiap kegelisahan

Selalu ada warna baru dalam setiap lara

Sudah cukup derita yang kau dera

Siapkan dirimu menyambut kebahagiaan

Genggam tanganku jika kau merasa perlu

Jangan sampai terlambat di pestamu sendiri

***

Selamat ulang tahun, Suryawan Wahyu Prasetyo🙂

 

Almas Karamina, Januari 2012

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s