Dear Santa

          | Your Life, Your Children’s lives
Will you live or die? decided by small group of elite

Christmas Eve

23.50

Aku melongok lewat jendela, lalu melihat ke langit. Santa belum datang. Ah, apakah cerita itu benar? bahwa Santa tak akan datang kalau kita menunggunya. Tapi aku sangat ingin bertemu dengannya. Bukan ingin meminta kado yang mahal, tapi aku ingin bertanya sesuatu kepadanya. Aku yakin dia bisa menjawab pertanyaanku yang semua orang yang aku tanyai tak bisa menjawabnya.

Teng.. teng.. teng…

Ah, sudah tengah malam rupanya. Aku masih sendiri kedinginan di ruang keluarga. Aku sempat bercerita kepada mama bahwa aku ingin bergadang malam ini untuk menunggu Santa.

“Tapi nak, Santa itu pemalu, ia tak ingin terlihat oleh siapapun saat memberi kado.”

“Aku tak ingin minta kado, Mam. Aku cuma ingin bertanya sesuatu kepadanya. Boleh ya, Mam?”

Mama menghela napas dan tersenyum. Ia tak tega melawan keteguhan hatiku. Ia mengalah dan mengambilkan kasur lipat serta selimut tebal untuk menemaniku bergadang menunggu Santa di sini, ruang keluarga. Mama menyalakan perapian untuk menjaga tubuhku tetap hangat. Aku sudah menyiapkan kaus kaki merah besar di centelan dinding luar perapian.

Aku melongok kembali ke langit.

Cling!

Ada sesuatu, aku mengamatinya dengan seksama. Ah, bukan, itu bukan kereta rusanya Santa, itu bintang jatuh. Aku lalu pejamkan mata dan mengepalkan kedua tanganku di depan dada sambil berbisik,

“Tuhan, utuslah segera Santa ke rumahku. Bilang padanya, aku menunggu.”

01.00

Srek Srek Srek…. ada suara. Tapi arahnya bukan dari perapian di depanku. Asal suara itu dari belakang. Aku pernah dengar cerita bahwa kalau pada malam natal akan ada 2 makhluk yang akan datang. Yang pertama adalah Santa yang membagikan kado dan kebahagiaan ke anak-anak. Yang kedua adalah Grinch, sang pengacau Natal, makhluk yang sangat membenci natal, sosok yang iri dengan kebahagiaan anak-anak saat natal.

Srek.. Srekk.. Sreekkk.. suara itu semakin medekat. Aku gugup, ada hawa panas membayangi punggungku. Aku ingin teriak, memanggil mama. Em.. Em.. Em… Maa…  aku tak bisa bersuara, tenggorokanku seperti tercekak sesuatu, aku beku.

PLEK! Sebuah tangan menyentuh punggungku. Aku pejamkan mata sekuat-kuatnya. Teriakannku akhirnya meledak.. Mamaaaaaa!!!!!!!!!

“Danieeel, Danieel.. ini mama.”

“….”

Aku buka mata, nyengir lebar. Fiuhh.. iya, ternyata mama.

“Mama buatkan susu hangat untuk menemanimu.”

“Syukurlah, aku kira… mama adalah Grinch yang mau menculikku”

“Ada-ada saja kamu.”

“Ini diminum.”

“Ga ah ma, nanti habis minum susu, aku pasti ngantuk dan tertidur.”

“Malah bagus kan, Daniel bisa istirahat.”

“Iiiihhh.. Mamaaaa… kan Daniel sudah bilang kalau Daniel ingin bertemu dengan Santa.”

“Iya.. iya.. maaaaf.. ya sudah, mama ke kamar ya.”

“Hush.. Hush.. buruan ah.. sana.. keburu Santa nya datang” aku mendorong-dorong pundak mama agar segera kembali ke kamar.

Aku pinggirkan susu yang dibuatkan mama biar aku tak tergoda untuk meminumnya. Aku kembali terpaku menunggu Santa.

***

“Daniel, Daniel, banguun…”

Aku mengerjap-ngerjapkan mata, silau sekali sinar ini.

“……”

Sinar matahari..?? Oh, Tuhan, aku tertidur!!

Aku lekas berdiri dan beranjak menuju kaus kaki yang aku pasang dekat perapian. Kaus kaki itu sudah berisi sebuh kado kecil berbungkus kuning berpita coklat. Aku buka kado itu,

Sebuah jam tangan power ranger berwarna hitam dan segulung kertas berpita.

Dear Daniel,

Terima kasih sudah menunggu Santa. Maaf Santa tidak membangunkanmu,karena masih banyak lagi hadiah yang harus Santa bagikan ke anak- anak yang lain. Selamat Hari Natal Daniel,semoga kasih Tuhan selalu menyertaimu.
— Santa

“Mamaaaaaaa…….. kenapa  mama tidak membangunkanku???”

“Danieeel… mama kan tidur di kamar. Mama juga ga tau saat Santa datang.”

Aku terisak, sesenggukan dalam tangis. Aku harus menunggu satu tahun lagi untuk bertemu Santa. Malam Natal tahun depan.

 

Xmas

“Danieeellll…. keluar yuk!”

Aku mengenal suara itu. Itu suara Lie, anak rumah sebelah, temanku bermain setiap hari.

Klik. Mama membukakan pintu depan.

“Selamat Natal, Tanteee..” Lie tersenyum lebar memamerkan gigi timunnya ke mama.

“Selamat Natal juga, Lie.” Mama jongkok sambil memegang pipi bakpao Lie.

“Cakep sekali kamu hari ini.”

“Hiii..Hiii…” Lie tersenyum senang dipuji mama.

“Daniel ada, tante?”

“Ada, tuh masih di kamar. Jemput dia gih, ajak keluar.”

“Iya tante.” Lie lalu melepas sepatu boot kecilnya lalu berlari menaiki tangga menuju kemarku.

Tek.. tek.. tek.. aku mendengar suara langkah Lie menaiki tangga rumahku.

“Danieelll, boleh aku masuk?”

“Heemm.. Masuklah Lie.” Aku menjawab Lie dengan malas.

“Kau kenapa? sakit? kok lemes gitu?”

“Aku ga bertemu Santa semalam, Lie.”

“Saya juga. Tapi saya dapat hadiah robot-robotan terbaru gundam dari Santa.”

“Bukan itu maksudku, Lie. Aku bukan ingin meminta hadiah ke Santa. Aku ingin bertanya sesuatu padanya. Tapi semalam aku tertidur, dan pagi-pagi saat aku bangun, kaus kakiku sudah terisi kado dan surat kecil dari Santa. Aku harus menunggu natal tahun depan untuk bertemu dengannya”

Lie terdiam, dia memegang pundakku. “Tenang, Daniel. Santa kan baik, kau tak perlu menunggu tahun depan untuk bertemu dengannya.”

“Maksudmu?”

“Kau bisa menemuinya di sana!” tangan Lie menunjuk ke arah bangunan besar di balik jendela.

“Winter Mall?”

“Yup, setiap hari Natal. Santa duduk di sana dengan karung hadiahnya. Membagi kebahagiaan untuk anak-anak seperti kita.”

“Fiuhhh…. Lieee… itu kan bukan Santa yang sesungguhnya, dia pun ga akan bisa jawab pertanyaanku.”

“Coba saja dulu. Udah, ayok, sekarang saatnya bersenang-senang. Ini hari Natal. Ayooo.. Semangaaattt!!!” Lie menarik tanganku, mengarahkanku ke kamar mandi.

Lie mengalungikan handuk yang ada di depan kamar mandi di dalam kamarku,

“Sekarang mandi, aku menunggu di bawah.”

“Iyaaa… Baiklaaah…”

****

We wish you marry Christmas..

We wish you marry Christmas..

We wish you marry Christmas..

And Happy New Year..

Sepanjang bulan Desember, lagu ini terdengar di mana-mana, termasuk di Winter Mall di mana aku, mama, Lie dan tante Debora mamanya Lie berada sekarang.

“Itu Santaaa!!”  Lie menunjuk pria besar berjubah merah dan berjenggot palsu warna putih lebat yang sedang duduk di kursi besar sambil memangku anak kecil. Banyak anak kecil lain antri di depannya untuk mendapatkan hadiah darinya.

“Ayo ke sana, Dan!” Lie menarik tanganku antusias dan berlari ke arah pria besar itu.

Kami berdiri menyambung antrian panjang yang sudah ada, Lie di depanku dan aku di belakangnya. Mama dan Tante Debora membiarkan kami berdua mengantri, sementara mereka pergi ke arah Alefer, salah satu toko di sini yang menjual perlengkapan Natal di bulan Desember ini.

 “Hai, jagoan. Kau ingin kado apa dari Santa?” Pria besar itu menyapa Lie dengan hangat.

“Aku ingin mobil tamiya. Adakah Santa?”

“Tentu saja ada. Ini buatmu, jagoan.” Pria besar itu mengambil salah satu kotak dari dalam karungnya dan memberikannya pada Lie.

Lie tersenyum bahagia dan memeluk pria besar itu.

“Kini giliranmu,” Lie mengedipkan satu matanya padaku lalu berlalu ke sudut untuk menungguku.

Ya, kini giliranku. Aku melangkah sedikit demi sedikit ke arah pria besar itu.

“Kenapa nak? Apa aku membuatmu takut?”

“Apa kamu benar Santa?”

“Ho.. Ho.. Ho… Ho… “ Pria besar itu tertawa ala Santa seperti di film, menanggapi pertayaanku.

“Tentu saja, apa kau tak lihat hadiah-hadiah di sampingku ini?”

“Iya, aku lihat. Tapi, bukankah Santa menaiki rusa terbang dan hanya ada di malam hari. Lalu di manakah Rusa-rusamu sekarang berada, lalu kenapa kamu sudah di sini di siang hari begini?”

“……”

Pria besar itu tak menjawab keraguanku, ia hanya terlihat bingung menerima pertanyaanku.

“Ya mungkin kau benar. Aku bukanlah Santa yang sesungguhnya. Tapi lihatlah, aku punya banyak hadiah untuk kau pilih. Ayo, apa yang kau inginkan?”

Aku diam, aku memang sama sekali sedang tidak menginginkan hadiah apapun Natal ini. Yang aku ingin hanyalah bertemu dengan Santa yang asli.

“Bisakah kau pertemukan aku dengan Santa yang asli?”

“…….”

“Permintaanmu agak sulit, anakku. Ehm.. kemarilah, aku ceritakan sesuatu. Sewaktu aku seumuranmu dulu, aku pun sama denganmu, aku ingin bertemu Santa yang asli. Tapi sampai aku sebesar ini, aku pun belum pernah berhasil bertemu dengannya. Dan setelah aku dewasa, aku baru tahu bahwa ternyata sebenarnya Santa itu hanyalah dongeng belaka. “

“Kau salah, Santa benar ada. Semalam dia memberi kado dan menulis surat untukku. Mungkin Santa sedang sibuk waktu kau kecil.”

“Ehm.. iya, mungkin. Santa sedang sibuk.”

“Begini saja, karena kau sudah sampai di sini, kau harus mendapatkan hadiah dariku. Aku sudah siapkan sesuatu yang spesial untuk anak sepertimu.”

Pria besar itu lalu mengambil satu kotak kado berwarna merah ukuran sedang berbalut pita putih. Aku mengucapkan terima kasih, lalu berniat beranjak pergi menyusul Lie di sudut.

“Hei anakku.” Pria besar itu menahanku sebentar di pangkuannya.

“Ya?”

“Bila kau bertemu Santa yang asli nanti, sampaikan Selamat Natal dariku. Dan sampaikan juga bahwa aku senang menjadi bagian darinya.”

“Tentu saja.”  Aku tersenyum dan memeluk lama pria besar itu.

Aku meloncat dari pangkuan pria besar itu dan berjalan menuju sudut di mana Lie berada. Sebelum sampai di tempat Lie, aku berpaling melihat pria besar itu lagi. Matanya berbinar saat melihat anak-anak, kasihnya begitu tulus terlihat dan aku rasakan. Dia orang baik, tapi dia bukan Santa.

Snow Globe

Rumahku sudah meriah dengan berbagai hiasan natal. Mama memang pendekor ruangan terbaik di dunia. Ada pohon natal dengan lampu kelap kelip di dekat perapian, ada pula boneka pinata yang digantung di atap rumah kami. Tadinya ada banyak, namun seiring para kerabat yang datang ke rumah kami, beberapa boneka itu sudah dipecahkan oleh para tamu untuk diambil permen dan hadiah yang ada di dalamnya. Di sini, di Meksiko, ini sudah merupakan tradisi bagi kami.

“Nanti malam Daniel buat kandang natal ya sama mama.”

“Oke mam!”

Oya, selain kado, lonceng, pohon natal, boneka pinata. Saat natalpun aku dan mama seru menyiapkan kandang natal. Kadang Natal adalah miniatur kandang tempat Yesus dilahirkan. Biasanya kita selalu membuatnya, hanya beberapa kali Natal kami membeli jadi dari toko.

Aku berjalan mendekat menuju pohon natal, dan duduk di samping perapian. Aku buka kotak merah dari pria besar di Mall tadi.

Snow Globe.

“Wah, bagusnya.. Daniel dapat dari mana?” mama yang berdiri di belakangku ikut antusias saat aku membuka kado.

“ini diberi pria besar mirip Santa di mall tadi, mam.”

“Itu memang Santa dong, Daniel.”

“Bukan mam, dia ga punya rusa terbang dan dia datang di siang hari. Jadi dia bukan Santa. Dia pun mengaku kok kalau dia bukan Santa.”

Mama hanya tersenyum. Mungkin mama tahu bahwa aku sangat ingin bertemu dengan Santa yang asli. Mama tak pernah bilang kalau Santa Clause itu sebenarnya hanya dongeng, seperti yang orang tua lain dan pria besar itu bilang. Mama hanya menjawab dengan senyuman saat aku bercerita ingin bertemu Santa yang asli. Maka dari itu, aku selalu percaya bahwa Santa itu sebenarnya ada.

Aku letakkan snow globe persis di bawah kaus kaki merah yang aku gantungkan semalam. Aku tambahkan secarik kertas di bawahnya,

Dear Santa,
Aku masih menunggumu. Aku ingin bertanya sesuatu pada Santa. Aku pikir hanya Santa yang bisa menjawab pertanyaanku.

— Daniel

Mungkin Lie benar, Santa kan baik. Mungkin saja aku tak perlu menunggu tahun depan untuk bertemu dengannya. Aku hanya berusaha dan berharap semoga Santa datang lagi ke rumahku malam ini.

Dear Santa

Keesokan harinya, setelah aku bangun pagi aku langsung menuju snow globe dan surat yang aku tulis kemarin. Ternyata masih utuh dan di posisi yang sama. Berarti Santa ga datang ke sini lagi tadi malam. Mungkin dia sedang sibuk.

“Daniel, sudah kamu siapkan ranselmu, nak? Nanti siang kita sudah harus berangkat ke San Antonio.“ 

 “Iya, Mam.”

Malam nanti aku dan mama akan berkunjung ke rumah eyang di San Antonio, keluarga besar kami berkumpul di sana. Dan rencannya kami akan melakukan misa natal di Gereja St. Mark’s Episcopal.

Bagaimana kalau nanti saat Santa datang, aku masih di Sant Antonio? Aku tidak bisa bertemu dengan Santa nanti.

Aku kembali ke kamarku, mengambil kertas dan pena punya mama. Aku ingin meninggalkan surat untuk Santa.

Dear Santa,
Santa yang baik, aku sangat ingin bertemu denganmu. Namun siang ini mama mengajakku ke San Antonio, jadi aku tak akan ada di rumah bila kau datang nanti malam.Santa, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Aku sudah menanyakannya ke orang-orang termasuk ke mamaku, tapi semuanya tidak bisa menjawab.

Santa, kau tahu di mana papaku sekarang?
Apakah kau pernah bertemu dengannya?

Namanya John Marshal, seharusnya dia berusia 35 tahun sekarang. Dia seorang tentara angkatan darat Amerika Serikat. 4 tahun lalu, dia dan teman-temannya ditugaskan oleh Presiden untuk ke Afganistan. Salah satu negara di Timur Tengah, aku pun tak tahu di mana negara itu. Kata mamaku, ada perang di sana dan papa ditugaskan untuk misi perdamaian. Papa pergi saat aku masih berumur 1 tahun dan sampai sekarang dia belum pulang.

Aku sertakan foto papa untukmu. Mungkin kau pernah bertemu papaku saat berkeliling dunia membagikan hadiah natal dengan kereta rusamu. Kau pasti tahu kan Afgahistan itu di mana. Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan padanya bahwa aku kangeeeeeen sekali, tolong suruh papa cepat pulang ya, kami semua merindukan papa. Aku ingin digendong sama papa dan ditemani jalan-jalan seperti anak-anak lain. Aku sering melihat mama menangis di malam hari, kasihan dia, dia pasti juga sangat merindukan papa. Papa cepat pulang ya. We’re missing you so bad, papa.

*PS : Oya Santa, snow globe ini untuk papa, tolong sampaikan ya. Santa juga dapat salam dari kembaranmu di Mall, dia bilang Selamat Natal untuk Santa. Dia senang menjadi bagian darimu.

Love You Santa,

Daniel

Aku melipat surat itu, kemudian berdoa semoga Santa membacanya. Aku berlari menuju ke perapian dan menjepitkan surat itu serta foto papa di kaus kaki besarku di sana.  Tuhan yang baik, ijinkanlah Santa mampir lagi ke rumahku. Aku ada pesan untuknya. Penting.

***

Natal 2 tahun kemudian mama baru memberitahuku bahwa sebenarnya papa sudah tewas dalam perang itu dan jenazahnya hancur tak tersisa saat helikopter Chinook yang membawa papa ditembak jatuh oleh pemberontak di Afghanistan timur.

Saat misa natal malam harinya, aku larut dalam tangis dan doa. Aku menyeru dalam hati pada Tuhan. “Tuhan, bisakah Kau hentikan perang sekarang? Aku tak mau anak-anak lain kehilangan papanya seperti aku.”


Candra Aji, Desember 2011

Disclaimer:

Perang Afganistan (2001-sekarang) dimulai pada Oktober 2001. Setelah serangan WTC 11 September, Amerika Serikatmemulai kampanye Perang Melawan Terorisme mereka di Afganistan, dengan tujuan menggulingkan kekuasaan Taliban, yang dituduh melindungi al-Qaeda, serta untuk menangkap Osama bin Laden. Aliansi Utara Afganistan menyediakan mayoritas pasukan, dengan dukungan dari Amerika Serikat dan negara-negara NATO antara lain Britania Raya, Perancis,Belanda, dan Australia. Nama kode yang diberikan oleh Amerika Serikat untuk konflik ini adalah Operasi Kebebasan Abadi (Operation Enduring Freedom)

John Marshal adalah tokoh rekaan penulis yang diibaratkan sebagai salah satu dari lebih dari 4.400 anggota militer Amerika yang telah tewas sejak perang Afganistan Irak dimulai. 60 Milyar Dolar Dana AS Habis sia-sia di Irak dan Afghanistan. Tak hanya warga dunia yang mengutuk Agresi Amerika di Timur Tengah, keluarga para tentara Amerika sendiripun melakukan hal yang sama. Mereka kehilangan orang-orang yang sangat mereka cintai. Suami, Ayah, Kakak, Adik. Para korban tentara Amerika yang tewas karena arogansi elite petinggi Amerika.

Perang tak akan menyudahi derita atas keluarga yang telah tiada. Ia hanya akan menambah duka kita atas korban yang semakin banyak. Raise your hand guys, hold each other, and shout it loud : “STOP WAR NOW!”

source :  Potret, 60 Milyar Dolar, 4.400 lebih

2 thoughts on “Dear Santa

    • wah, mbak mba sasa, makasih dah mampir lagi😀
      Asumsinya awal sih dari temen yg udah pernah ke Amrik. Dari ceritanya, anak2 kecil di sana sudah pinter-pinter. gambar, nulis maupun cerita.

      tapi tetep untuk anak usia 5 tahun, masih kecepetan ya untuk bisa nulis panjang? ok2, makasih masukannya mbak Sasa😀

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s