Cerita Tentang Desember

Biarkan aku bercerita tentang bulan Desember.
Tentang rumput-rumput yang kembali hijau, tentang tanah yang selalu basah.
Tentang air yang tak habis-habisnya mengalir dari langit.

Biarkan aku bercerita tentang Desember dua tahun lalu.
Kala kau meninggalkan secarik kertas di meja kerjaku.
Secarik kertas yang tak menjelaskan apa-apa. Hanya pernyataan bahwa kau pergi. Titik.
Lalu aku menangis di bawah derasnya hujan. Berteriak sampai serak. Mengisak, dan sesak.

Lalu aku ingin bercerita tentang Desember tahun lalu.
Batang hidungmu tak pernah tampak. Bahkan suaramu tak pernah kudengar.
Tak ada sedikitpun yang kausisakan dari hubungan kita.
Lalu aku berhenti menunggu. Di tengah hamparan karpet alam yang menyejukkan, aku memutuskan memulai langkah yang baru.

Kemudian Desember kali ini.
Tiba-tiba kau datang dan menungguku pulang.
Dengan segala penyesalan mengalirlah permintaan maafmu. Terungkap semua alasanmu.
Dengan segala permohonan kau mencoba kembali.
Lalu dengan segala kebahagiaan, aku menjawabmu.
Kusodorkan selembar undangan merah jambu.
Aku akan dengan senang hati menyambut uluran tanganmu di pelaminanku nanti.

Almas Karamina, Desember 2011

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s