Menunggu

Hujan di awal bulan Desember. Dan aku melihat kamu tertegun di bawah derasnya. Seperti melupakan sekitar, tak peduli apa-apa. Aku tahu, kamu sedang menyembunyikan air mata.

“Kamu… mau pulang?” aku bertanya hati-hati, pada pembicaraan kita yang terakhir. Kamu lama diam sebelum akhirnya dengan teguh menjawab, “Aku pulang ke mana? Di sini rumahku.”

Dentang lonceng gereja itu terdengar seperti setiap waktu-waktu tertentu. Walau ditingkahi suara hujan yang menabrak tanah, sayup sampai juga ke rumah kecil kita. Kamu menutupi wajahmu dan bahumu keras terguncang. Di bawah hujan, aku tahu kamu sedang menyembunyikan air mata.

“Kamu… ngga kangen Ayah? Ibu? Mbak Theresia? Mas Petrus?”
Kamu tersenyum. Rasanya pahit melihatmu tersenyum seperti itu.
“Kamu juga… ngga kangen Papa? Mama? Aliyah?”
Aku tersenyum. Rasanya pahit, tersenyum seperti ini.
Tentu kita kangen. Tentu kangen sekali. Pertanyaan yang tidak perlu di jawab.

Seperti tahun-tahun yang lewat. Setiap Desember, seperti ini. Selalu, aku menunggu kamu menyelesaikan tangisan di bawah hujan yang deras.

….

Dan aku menunggumu menyembunyikan air mata di bawah hujan yang deras, sampai hilang semua.

Amalia Achmad
Yogyakarta, 8 Desember 2011

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s