Rindu KAMU

“Jadi.. Apa yang terjadi setahun ini? Bahagia lo di sana?”

Aku baru saja menghempaskan diri di tempat tidur kamarnya, tempat dulu aku sering menginap jika aku bertengkar dengan ayahku, atau aku pulang terlambat hingga tak dibolehkan masuk ke rumah. Bantal yang kini di pangkuanku adalah saksi untuk tiap air mata yang mengalir pelan-pelan saat dia kira aku sedang tidur.

“Ini buat lo.. Semoga muat ye,” aku menyerahkan satu kantong berisikan dress batik yang kubawa dari Jogja kepada sahabat didepanku.

Andini namaku. 24 tahun, dan baru saja menyelesaikan kuliahku di pendidikan profesi di salah satu universitas di Jogja. Riana namanya, dan persahabatanku dengannya sudah terjalin sejak kami sekelas di SMP lalu berlanjut hingga 13 tahun kemudian. Sampai aku dan dia sama-sama lulus perguruan tinggi. Persahabatan dengan pasang-surut tentu saja. Walau ketika kuliah hingga sekarang kami jarang berkomunikasi, tapi dia selalu tahu tentangku. Entahlah, dia selalu berhasil membaca apapun tentangku, tanpa aku harus cerita apa-apa. Sepertinya kali ini pun dia berhasil membaca sesuatu.

“Pertanyaan gue dijawab kali Jeng.. Apa hasil pelarian setahun lo?”

“Hasilnya? Gue uda lulus donk sekarang. Kembali jadi pengangguran. Gak bisa lagi ngeles kalo gue ini pengangguran berkedok mahasiswa. Hahahaha.. Lo donk apa kabar?” aku mulai merebahkan diri di kasur empuk di kamar Riana.

Kamar ini, tempat aku dan dia dulu sering curhat semalam suntuk. Aku mendengarkan cerita tentang pria-pria gebetannya. Dia bolak-balik mencari tahu tentang kisahku, tapi tidak pernah kujawab. Anehnya, pada akhirnya dia selalu berhasil tahu apa yang sedang kusimpan di hati.

“Dih.. Selalu deh lo..“ Riana mulai menghidupkan komputer di depannya. Membuka situs yang paling hits saat ini, twitter.

“Udah bukan masanya kan, gue nyari tahu tentang lo dari twitter? Susah ya anak muda jaman sekarang. Lebih milih cerita di twitter daripada sahabat di dunia nyata, dih..” Sial! Ucapannya telak.

“Trus sekarang ngapain lo balik kemari? Katanya kemaren pengen menetap di Jogja. Katanya gak mau balik kemari lagi,“ dia terus memberondongku sambil tertawa kecil.

“Uhm.. Seenak-enaknya di Jogja, ternyata gue tetap butuh pulang. Rumah gue, keluarga gue di sini. Dan gue baru sadar, gue kan gak perlu lari ya dari rumah gue sendiri. Justru harusnya gue pulang ke rumah tiap gue penat sama dunia di luar sana.”

“Siap curhat buu?” Riana membalikkan badannya, dan beranjak pindah, duduk di hadapanku.

“Kapan sih gue bisa curhat? Percuma lo kenal gue 13 tahun. Hahahaha.. Gue cuma akan cerita sesuatu aja kali yaa..“

“Silakan.. Lagian ini kejadian luar biasa sampe lo mau cerita,“ dia masih tersenyum. Aku tahu dia sebenarnya ingin meledekku habis-habisan.

“Na, pernah gak sih lo ngerasa kosong?“

“Heh? Maksud lo? Kosong gimana ni? Kosong karena ngerasa sendirian? Pulang ke rumah trus rumah kosong? Sering kaleee..”

“Yeee…. bukan donk.. Perasaan di mana lo kuliah, ketawa sama teman, hang out ke sana ke mari, punya banyak teman, tapi ketika hari berakhir & lo balik ke kamar lo ini, lo tetap aja ngerasa kosong. Tetap ngerasa kesespian. Tetap gak bahagia.”

“Uhm.. Gak pernah sih.. Emang kenapa?” Riana menjawab sambil mengambilkan segelas air buatku di kulkas yang ada di sudut kamarnya.

“Nih, lo minum dulu.”

“Ih..bersyukur deh lo gak pernah ngerasain kayak gitu. Setahun di Jogja, gue hampir selalu ngerasain itu. Punya banyak teman, main, bersenang-senang, tapi tetap aja gue ngerasa kosong. Kayak kehilangan sesuatu. Tapi gue gak tau apa yang hilang.”

“Hati lo tu yang kosong. Hahahaha.. Jangan bilang lo ngerasain itu sejak putus. Gue tabok kalo iya.”

“Sialan lo.. Ya gak banget lah ya kalo cuma masalah putus cinta doank. Udah lewat masanya juga,“ aku mencoba membela diri.

“Trus kenapa coba?”

“ Yaitu, gue juga awalnya bingung. Gue kenapa sih? Kurang apa? Kok udah ngapa-ngapain tetap ngerasa kosong. Duit cukup, makan enak, temen gue baik-baik. Entah kurang apalagi. Tapi tetap aja gitu balik ke kamar, gue ngerasa kosong. Ngerasa ada yang kurang. Galau gak jelas.” Ini pertama kalinya aku berbicara seterbuka ini pada Riana.

“Oh pantes ya isi tweet lo galau muluuuu.. Fakta toh? Hahahaha..”

“Ledekin aja gue terus. Gak jadi cerita ni gue!“ kataku sambil rebahan di tempat tidurnya, dan mulai memainkan ponselku.

“Sensi deh lo balik-balik dari Jogja. Bercanda kaliii.. Lanjut donk!”

“Setahun gue ke Jogja, buat lari dari masalah di rumah. Setahun gue baru sadar, kalo kabur ke Jogja gak menyelesaikan masalah apapun. Entah buat apa gue lari jauh-jauh ke sana. Masalahnya tetap ada. Masalahnya ya diri gue sendiri. Yang gak tau apa yang gue mau dan bikin ribet di mana-mana.“

“Oh.. Kalo soal ribet dan rumit, lo emang juara sih. Gue juga dulu sering jadi korban,” Riana masih saja meledekku. Biarlah kali ini dia puas.

“Akhirnya lo ktemu gak yang bikin lo ngerasa kosong?” Riana melanjutkan. Kali ini dia sampai ke poin penting yang harusnya sudah aku ceritakan dari tadi.

“Ketemu..”

Aku terdiam sejenak..Mengingat kembali apa yang aku lalui berbulan-bulan ke belakang.

***

Setahun. Jogja berhati nyaman itu ternyata tak cukup nyaman buatku. Putus cinta, hectic dengan jadwal kuliah yang menggila di akhir semester, dikhianati orang yang aku sebut sahabat, menghadapi senyum-senyum palsu dengan senyum palsu juga. Dosa? Ah, jangan tanya seberapa banyak dosa yang kulakukan. Mungkin tinggi dosaku sekarang sudah sama tinggi dengan Gunung Himalaya. Aku menikmati tinggal di kota ini ketika aku masih sendiri saja di sini. Tapi tidak ketika semakin banyak orang yang masuk, atau sekedar singgah dan lalu-lalang di hidupku. Semua yang berlebihan itu tidak baik. Tidak pernah baik. Bahkan terlalu banyak tertawa pun tidak baik. Aku jadi ingat kata-kata seorang temanku saat aku masih di SMA dulu. Dulu, aku dan Riana selalu jadi biang heboh di kelas. Riana sering membuat lelucon-lelucon yang membuatku tertawa terbahak-bahak setiap hari. Tapi teman yang duduk di belakangku tak pernah ikut tertawa. Dia paling hanya tersenyum, dan geleng-geleng kepala melihat ulahku dan Riana. Suatu hari aku bertanya padanya.

“Rara kok gak pernah si keliatan ketawa? Ketawa itu bikin awet muda lhoo..” kataku sambil merebut buku yang sedang dibaca Rara, teman sekelasku yang terkenal pintar, dan sangat alim.

“Aku pernah baca, terlalu banyak tertawa itu mematikan hati. Apalagi tertawa sampai terbahak-bahak. Ra gak nyindir lhoo..” katanya sambil tersenyum, mengambil kembali buku yang kurebut darinya dan kembali membaca.

Ucapannya saat itu cukup membuatku tertohok, tapi ya hanya saat itu saja. Setelah hari itu, aku dan Riana kembali menjadi biang heboh dan kami masih sangat suka tertawa keras. Terlalu banyak tertawa, hingga sampai aku tinggal di Jogja. Mungkin akumulasi banyak tertawa dari masa SMA itu benar-benar mematikan hatiku, sampai aku selalu merasa kosong walau selalu tertawa. Kadang aku tertawa hanya untuk mengisi rasa kosong yang aku sendiri tak tahu penyebabnya. Tapi tertawa malah semakin membuatku merasa kosong. Belakangan aku malah sering menertawakan diri sendiri. Tertawa miris pada diri sendiri. Aku tetap tidak bahagia. Aku tetap merasa kosong.

Senyaman-nyamannya tinggal di kota berhati nyaman, tetap saja tempat paling nyaman adalah rumah. Dan setelah setahun, aku belajar satu hal. Bahwa bergantung pada manusia lain adalah salah besar. Karena ketika akhirnya orang tempat kamu bergantung pergi, yang tinggal hanya rasa kecewa berlebih. Aku bersenang-senang ke sana ke mari, tapi aku tetap tidak merasakan bahagia yang aku harapkan. Aku tetap merasa kosong. Hatiku mati. Hingga suatu hari, di suatu malam di mana aku mengurung diri di kamar, dengan lampu yang sengaja aku matikan padahal saat itu sudah malam. Dengan sebatang rokok menthol di tangan kananku yang sudah habis separuh. Aku mendapat telepon dari ibuku. Setelah sebulan lebih aku tidak menelepon ke rumah. Saat itu hal pertama yang ditanyakan ibuku adalah,

“Nak.. Kamu sudah salat isya? Lagi apa?”

Deg!! Jantungku langsung berdetak cepat. Sudah lama sejak terakhir aku rutin melaksanakan salat. Aku terlalu menikmati dunia hingga sering lupa kewajiban pada Sang Pemilik Hidup. Terlalu banyak bermain hingga kadang melupakan saja waktu salat lewat, dan aku akhirnya tidak mengerjakan salat.

“Uhmm.. Mau makan Bu.. Aku udah salat kok barusan. Ibu lagi apa? Ayah mana?” Ucapku. Tentu saja berbohong.

“Ayah masih di kantor. Kamu rutin tadarus kan? Jangan lupa.. Kamu itu belum pernah khatam Al-Qur’an sejak lulus TPA dulu,“ ibuku melanjutkan.

“Masih kok Bu.. Ini sedikit lagi khatam,” ucapku, lagi-lagi berbohong. Aku bahkan sudah lupa di mana aku meletakkan Al-Qur’an. Aku langsung mematikan rokok yang sebenarnya sayang untuk dimatikan. Itu rokok terakhirku. Sebungkus telah kuhasbiskan hanya dalam beberapa jam saja.

“Kamu di sana gak macem-macem kan? Salatnya jangan ditinggal lho. Kita ini manusia, ya cuma bisa berharap sama Tuhan, Nak. Apalagi kamu bilang kuliahnya susah. Kalo gak mohon pertolongan sama Tuhan, sama siapa lagi biar jalan kamu itu dilancarkan? Cuma sama Tuhan, Nak.. Sama Allah,” ibuku berucap panjang lebar. Aku mendengarkan setengah hati. Tapi satu tetes hangat mengalir di pipiku.

“Iya, Bu..” aku berusaha menahan sesak yang siap melesak bersama air mata yang mulai mengambang.

“Ya sudah.. Baik-baik di sana ya Din.. Jangan lupa salat, tadarusnya. Kalau kamu nganggur, daripada bengong, banyakin dzikir ya Nak..”

“Iya Bu,” hanya itu yang bisa kujawab. Aku tak mau ibuku tahu aku sedang menangis.

***

“Woi.. Malah bengong! Trus, apa yang ternyata bikin lo ngerasa kosong?“ Tepukan tangan Riana di pundakku mengagetkanku, membuyarkan lamunanku.

“Eh sori, sori.. Apa lo bilang?”

“Yang bikin lo ngerasa kosong tu apa Buu?” Riana mengulangi pertanyaannya.

“Gue ngerasa kosong, ternyata karena setahun kemaren, gue jauh banget dari Tuhan..”

“Maksud lo??? Ihh.. Gak beres deh lo..” Riana menunjukkan ekspresi terkejut

“Ya gitu dee.. Sok anak gaul gitu dee.. Salat aja berantakan. Kalo pas ingat aja. Tadarus? Boro-boro. Qur’an gue aja gak tau ada di mana. Oh ya, gue sempat jadi perokok aktif juga. Dosa? Mending lo gak usah tau deh, Na..” aku berbicara panjang lebar, tak peduli Riana yang bengong di depanku.

“Lo perlu di ruqyah deeeh,” katanya sambil menoyor kepalaku pelan.

“Gue rasa juga iya. Tapi pada akhirnya gue sadar kok. Ketika gue jauh dari Tuhan, ada yang hilang di hati gue. Rasanya lebih hilang dari sekedar ditinggal mantan. Bener-bener kosong. Kalo ada yang bilang Tuhan itu ada di hati kita, ya itu bener. Ketika lo mulai jauh dari Tuhan, sebaik apapun hidup lo, tetap aja lo ngerasa ada yang gak beres. Gue bener-bener ngerasain itu. Rasa kosong yang nyata di hati. Dan rasanya, bener-bener gak enak banget deh.Ternyata gue rindu sama Tuhan. Sampe rasanya kosong banget pas gak nemuin Dia di hati gue.”

“Trus?”

“Yaaa..akhirnya gue sadar aja kalo gue musti balik lagi dekat sama Tuhan. Dulu gue pernah, dan udah setahun gue benar-benar gak pernah lagi bener-bener beribadah. Jadi deh gue mulai salat rutin dan tepat waktu, nyoba-nyoba puasa sunah. Gue bahkan beli Al-Qur’an baru dan mulai tadarus tiap hari. Booook… Lama gak baca Qur’an ternyata bikin gue sempat gak bisa bacanya di awal-awal. Hahahaha.. Parah ya gue?”

“Iya, dan gue baru tau lo separah itu di sana..” Riana berbicara pelan.

“Iya.. Keenakan sama kebebasan yang gak pernah gue dapat di sini. Sampe lupa sama yang punya hidup gue.“

“Sekarang gimana?”

“Gue mulai ngerasain hati gue hidup lagi Na!! Gila ya.. Tuhan itu Maha Keren banget! Ibaratnya gue deketin semeter, Dia langsung balik deketin gue satu kilometer. Gue jalan menuju Dia, Dia lari menuju gue. Dan gue sempat lupa sama Sang Pencipta Maha Keren itu.. Malu gue. Lupa sama Tuhan cuma karena manusia yang menyita habis waktu gue.”

“Jangan pernah lagi lo lupain Tuhan. Tuhan itu gak butuh lo. Lo siapa sih? Kalo diliat dari tempat-Nya sana, lo itu gak keliatan. Tapi lo butuh Tuhan. Lebih butuh daripada lo butuh orang-orang yang cuma ada pas lo senang doank. Lo butuh Tuhan, karena mau lo bilang hidup lo, lo sendiri yang ngatur, tetap aja takdir lo ada di tangan Tuhan.”

Kali ini Riana siap dengan tausiah-nya. Aku pun sudah siap mendengarkan. Padahal biasanya, tiap dia mulai berceramah, aku akan langsung mengalihkan ke topik lain.

“Iya, Na.. Gue gak pernah ngerasa kosong lagi sekarang. Even saat gue lagi benar-benar sedang sendirian,” aku tersenyum membalas ucapannya.

“Dan, sekarang gue juga tau harus menetap di mana. Di sini. Di kota ini. Di rumah gue. Bukan di kota berhati nyaman yang ternyata sama sekali gak nyaman buat gue itu,” lanjutku kemudian.

“Wooo.. Jadi lo bakal menetap di sini lagi??” kali ini Riana terlihat antusias.

“Yoi.. Dekat sama rumah sahabat itu emang udah paling benar, Na..” kataku sambil tertawa.

“Alhamdulillah.. Ada gunanya lo setahun merantau. Balik-balik langsung jadi waras!! Hahahahaha..” Riana mengucapkan kalimat terakhirnya sambil memelukku..

***

Anggi Zoraya, Oktober 2011

3 thoughts on “Rindu KAMU

  1. pertama, sy membaca tulisan ini karena nama pena penulis hampir sama dgn nama istri saya.. hahaha..
    kedua, sy membaca tulisan ini karena di judul diatas KAMU nya ditulis dengan huruf besar semua, pasti ada makna lain.
    ketiga, sy membaca sampai selesai tulisan ini karena ternyata ceritanya banyak kita jumpai, dan sering kita jumpai pada diri setiap orang. saya jg termasuk pernah seperti itu
    keempat, sy membaca tulisan ini karena endingnya si tokoh utama menyadari sebuah kebenaran haqiqi yang hanya muncul dari terdalam fitah seorang manusia. good job.

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s