God is a Director

| Kenapa Allah ciptain kita beda-beda, kalau Ia hanya ingin disembah dengan satu cara  — cin(T)a

Betwen Line
”Heyy…”
”Ha-a-a-ai!” Suara Frisa di ujung sana terbata-bata.
”…”
”….”
“Frisa? Kok diem?”
”Iya, Eldo. Frisa’s speaking . Postcard-mu barusan sampai, sudah saya buka,” jantung gue berdebar kencang tiba-tiba.
Your request, It’s really surprising me.”
”No need to rush, Frisa. ” gue mencoba menenangkannya, takut dia gegabah berkeputusan.
 “Saya ga bisa, Do. Maaf.” Percuma, dia default gegabah. Menurut gue.

Mukena
Saya mengenal Tuhan pertama kali saat saya diajak bunda ke masjid di belakang rumah. Senja hari, matahari masih lamat-lamat kembali ke peraduan. Adzan Maghrib berkumandang, saya menuju ke sana dengan mengenakan mukena putih bergambar kartun dengan membawa sajadah kecil.

“Bunda, kita mau ke mana?”
“Kita hendak bekunjung nak, ke Rumah Allah,” saya masih kecil, namun saya ingat betul sorot mata Bunda, damai.
“Allah itu siapa, Bun?”
“Allah adalah dzat yang menciptakan Frisa.”
“Dzat itu apa, Bun?”
Bunda tersenyum hangat kepada saya, “Yuk, mari kita masuk, Frisa berkenalan sendiri dengan Allah.”

Saya melangkah masuk, mengamati sekeliling. Saya mendapati ruangan yang sangat luas, mungkin karena saya masih kecil waktu itu. Ada empat pilar penyangga di ruangan itu, di tengah ruangan ada lampurobyong yang sangat besar.

Banyak orang berkumpul di sana, ada yang membaca (Al Qur-an) dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Ada yang memutar-mutar kalung di tangan (bertasbih). Dan ada pula teman-teman saya yang berlarian ke sana ke mari. Di luar, orang-orang pun masih tidak berhenti berdatangan dari segala penjuru. Suasana di dalam begitu ramai, banyak sekali orang di sana.

“Allah yang mana, Bunda?”

” … ”

Dua Versi
“Eldo, ayo pakai dasinya, sudah jam setengah tujuh ini, mama tunggu di luar ya!” ujar mama sembari membuka pintu garasi.

Tampil rapi, itulah yang gue lakukan setiap hari Minggu. Sedari kecil sampai 24 tahun hidup gue, hari Minggu adalah hari terganteng gue setiap minggunya. “Bertamu ke rumah Tuhan, Eldo harus tampil sebaik mungkin ya. Tuhan harus Eldo jadikan yang utama!” Ujar mama sembari menyisir rambut gue di mobil waktu itu. Ucapan yang selalu gue ingat dan praktekkan sampai sekarang. Gue siap, mama menyambut gue dengan kecupan di pipi, “muach.. cakepnya anak mama, hehe..”

Mobil mengarah ke Jl. Katedral, dengan mama di belakang kemudi.  Hari Minggu adalah hari tersibuk untuk jalan ini, puluhan mobil berjejalan rapat di sepanjangnya. 

“Papa kok ga ikut, ma?” gue belum mengerti apa-apa waktu itu.
“Papa di rumah, sayang. Papa tidak sama dengan mama.”
“Tidak sama gimana, ma?”
“Kalau Papa perginya setiap hari Jum’at siang. Eldo juga pernah diajak papa kan?”
“Iya, Eldo memakai kain kotak-kotak dan topi hitam aneh kemarin. Kenapa Papa tidak sama, Ma?”
“Karena Papa Islam, Mama Kristen.”
“Eldo apa?”
“Eldo, nanti pilih yang Eldo cocok ya.”

Mobil sudah sampai di parkiran, mama memarkirkan mobil di sisi timur sebuah bangunan besar, Masjid Istiqlal. Ya, kami yang akan pergi ke gereja, namun parkir di pelataran masjid. Hal ini ternyata sudah menjadi kebiasaan sejak lama, saling berbagi tempat parkir antara keduanya, Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal. Berbeda namun rukun berdampingan, seperti halnya Papa dan Mama.

Dan gue adalah anak yang sangat beruntung, bisa mengenal Tuhan dari dua sisi. Gue mengenal Tuhan Yesus, Tuhannya mama dan Allah SWT, Tuhannya Papa. Tuhan gue? Nanti gue kasih tau.

Eksistensi
Dini hari saya baru sampai apartemen. Kantor saya kedatangan tamu (lagi) rombongan Panitia Kerja (Panja) Pramuka Komisi X .

Belajar Pramuka saja sampai ke Jepang, tak ada proker (program kerja) yang lebih urgent ya?

Kantor saya, KJRI sering mendapat kunjungan kerja dari berbagai instansi dari tanah air, namun paling sering adalah para wakil rakyat ini. Dalihnya sih studi banding, memang benar mereka melakukannya, tapi kenapa setelah kunjungan singkat mereka di KJRI selalu berakhir di Shibuya Tokyu ya? Wisata belanja berselingkan studi banding. Cih!

Politikus mengingatkan saya dengan Eldo. “Sampai kapanpun, gue ga akan mau jadi politikus.” Ujarnya saat kami menonton berita tentang skandal Bank Century di rumahnya. “Kenapa?” saya tertarik dengan sinisnya dia. “Hidup mereka tu palsu, sibuk cari muka biar banyak yang dukung. Setelah terpilih, ya jadinya kayak gini ini. Korupsi!”

“Coba kalau mereka takut dosa, pasti mereka ga berani korupsi gini ya.”
“Frisa, jangankan dosa. Tuhan saja mereka tak punya, yakin gue.”
“Hush, kok ngomongnya gitu?”
“Ya mungkin mereka beragama di KTP, tapi tidak di hati. Hati mereka kosong.”

Hati mereka kosong, itu yang dibilang Eldo. Beragama tapi hatinya kosong. Mungkin benar apa yang dibilang Eldo. Bahkan kadang saya sering berpikir, apa sih esensi agama sebenarnya? kenapa agama saya Islam dan Eldo Kristen? Dan mengapa Atheisme itu ada?

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. (source :http://id.wikipedia.org/wiki/Agama)

Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi[1]ataupun penolakan terhadap teisme.[2][3] Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Ateisme)

Sampai sekarangpun pikiran saya ga pernah mampu menggapainya, Eksistensi Tuhan. Saya meyakini Tuhan saya ada, namun judgment terhadap orang yang beda agama, never thinked of me.  Karena buat saya, Tuhan itu sangat pribadi, dan tak ada yang tahu kehadirannya selain diri kita sendiri, Dia bisa berada sangat dekat atau sangat jauh dengan kita. Tuhan itu soal Hati.

| Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh — Albert Einsten


Sang Sutradara
Membaca textbook memang ga pernah lebih baik dari real experiences. Kalau gue ketemu dengan Saint Augustine, di mana doi pernah bilang, “The World is a book, and those who don not travel read only one page.”  Dengan jumawa gue akan samperin doi, dan bilang “Hei Uncle, I had reached page 3, where are you now?” Tapi karena Paman gue itu sudah meninggal, mungkin dia akan jawab “I’m already khatam! Hurry up son, i’m in heaven now. I’m waiting for you. ” Crap!

YUNGAS, Bolivia. Gue sedang di mobil perjalanan dari  La Paz to Coroico. And You know what, gue lagi melintasi Camino de las Yungas a.k.a Road of Death alias Jalan Kematian. Jalan ini adalah salah satu dari beberapa rute yang menghubungkan Hutan Amazon wilayah utara Bolivia, atau Yungas, ke ibukota provinsi. Nama seram untuk jalan ini bukan diberikan tanpa alasan. For your information aja, diperkirakan jalan ini memakan korban 200 sampai 300 wisatawan tewas setiap tahun di sepanjang jalan. Ga heran kenapa jalan ini dijuluki the most dangerous road in world.

Dan ditolak Frisa, seharusnya bisa jadi alasan valid buat gue untuk loncat dari mobil dan menghujamkan diri ke jurang sedalam 15.260 kaki di bawah sana. Thanks God, it’s not really happen. Gue urungkan niat itu, gue belum bernafsu buat nyusul Saint Augustine sekarang.

Ini adalah negara ke-2 yang gue kunjungi setelah Jerman kemarin. Bolivia nan eksotis. Gue di sini untuk meliput Cal O’rko, largest collection of dinosaur footprints in the world. Sebuah tambang semen di dekat Sucre yang merupakan rumah terbesar di dunia bagi dinosaurus T-rek, yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai Orko Cal.

Back to Frisa. Jujur saja, saat gue menulis permintaan gue ke Frisa. Gue berekspektasi lain, gue kira  Frisa bisa satu sudut pandang dengan gue.

“Frisa sayang Eldo, tapi Frisa ga bisa.”

Perbedaan Agama, itulah yang alasan kenapa dia menolak gue. Ya, Islam agama Frisa, Kristen Agama gue. Kami meyakini Tuhan itu ada, tapi kami memanggilnya berbeda.

“Bagaimana kalau Eldo masuk Islam, agar bisa menikah dengan Frisa? Eldo pernah diajak Papa ke Masjid, ikut shalat Jum’at waktu kecil.”

“Tuhan itu soal hati, kalau Eldo pindah agama karena ingin menikahi Frisa. Tuhan Eldo akan mati seiring dengan kematian rasa cinta Eldo ke Frisa. Terlebih lagi, Eldo berarti menomorduakan Tuhan setelah Frisa, dan Frisa ga mau Eldo seperti itu. Tuhan harus Eldo jadikan yang utama, begitukan pesan mama Eldo?!”

Gue terdiam, semua penjelasan Frisa benar, tak terbantahkan.

Gue jadi inget ceita mama, Beliau dulu pernah cerita kenapa, Papa dan mama memutuskan untuk menikah walau berbeda agama. “Karena papa mama saling mencintai, kita hidup berdampingan. Namun karena papa mama berbeda(agama), kami harus saling menghormati. Itulah yang Papa dan mama lakukan, kami saling menghormati (agama masing-masing). ”suatu ketika saat gue dan mama menunggu papa yang sedang Shalat Jum’at.

Dengan saling menghormati, rasa cinta tak pernah memisahkan mereka dari Tuhan mereka. Mereka bahkan saling mengisi dan menyayangi. Papa dan Mama adalah bukti nyata, bahwa Tuhan memang Sutradara Handal!

Sebenarnya gue dan Frisa juga same case dengan papa dan mama, settingan kami sama cuma bedanya gue dan Frisa dibawakan Tuhan dengan skenario yang berbeda. Kami ga (atau lebih tepatnya ga akan) ada pernikahan di antara kami.

“Ladies and Gentlement, We’re arrived. Cal O’rko! Thanks for travelling with us.”  Dengan wajah ceria, sang pemandu perjalanan menutup perjalanan sekaligus  dialog monolog gue. Oke, mungkin sekarang saatnya gue konsen ke cinta gue yang lain, kamera gue!

Walimahan
“Muhammad Fikry bin Ghazali Ahmad, anda saya nikah dan kawinkan dengan saudari Frisa Lumbarta binti Faisal Amri dengan mas kawin kitab Tafsir Fidzilalil Qur’an, Kitab Fiqih Sunnah dan sebuah cincin, dibayar tunai.”

“Saya terima nikah dan kawinnya Frisa Lumbarta binti Faisal Amri dengan mas kawin kitab Tafsir Fidzilalil Qur’an, Kitab Fiqih Sunnah, dan sebuah cincin, dibayar tunai.”

“Sah?”

“Sah!”

“Alhamdulillaah..”

***

“Bunda, Kenapa kita beragama?”
“Karena agama menuntun hidup kita, nak. Tanpa agama, hati kita akan kosong, hidup tanpa punya arah dan tujuan.”

***

“Pernikahan itu sebaiknya satu agama, anakku. Satu panduan, agar dasarnya sama. Agar kelak anak-anakmu tidak bingung menentukan Tuhan mereka. Dan agar doa yang mereka panjatkan kelak, benar-benar sampai padamu. InsyaAllah sakinah, mawaddah, dan warrahmah.”

  

  Candra Aji, Oktober 2011

16 thoughts on “God is a Director

  1. waaaaa, lanjutan postingan Lintas Benua🙂 keren as always!
    dan nonton film cin(T)a banyak hal2 yang bisa direnungkan, banyak kalimat2 yang ngena bgt.. andaikan film Indonesia berani mengangkat tema seperti itu dengan bijak (ngga hanya film festival), walaupun topiknya agak sensitif untuk kebiasaan Indonesia😀

    hey.. keren tauuu tulisannya😀

  2. dan kasian deh gue, belum nonton ci(n)ta :p
    sibuk e aku :p

    lampu robyong itu *nek nang omahku, nyebut e lampu rombyong*, mending di note deh, karena ga semua pembacamu tu orang jawa, ga semua pembacamu itu tau artinya apa, dan ga semua pembacamu itu orang pati #eh

    trus… kok aku berasa alurnya terlalu cepet ya, terlalu terburu buru *apa cuma perasaanku aja*
    misalnya ni ya :
    “Hati mereka kosong, itu yang dibilang Eldo. Beragama tapi hatinya kosong. Kadang saya sering berpikir, apa sih esensi agama sebenarnya? kenapa agama saya Islam dan Eldo Kristen? Dan mengapa Atheisme itu ada?”
    seharusnya ada adegan seperti ini yang dilakukan berulang ulang pada kedua tokoh itu, atau minimal sudah pernah dilakukan/didiskusikan sebelumnya, sehingga ada alasan yang kuat kenapa Frisa harus berpikir sedalam itu.
    Pada saat Frisa tidak punya alasan yang kuat untuk berpikir sedalam itu, maka alurnya menjadi seperti dipaksakan oleh si penulis, jadinya nggak natural masnya.

    secara keseluruhan *kalo aku ya*, messagenya nyampe kok :))
    Good Job, Candra Aji *memuji sepenuh hati*

  3. Ada nilai yang berbeda antara Spiritualtias dan Religiusitas.

    Baru saja saya membaca sebuah kutipan di http://niniesrina.tumblr.com. Begini kutipannya “…Karena cinta membutuhkan kebahagiaan dalam ketenangan, sebuah kemampuan untuk menikmati ‘proses menjadi’ daripada ‘bertindak’, ‘memiliki’, atau ‘memanfaatkan’.” (Rainer Funk dalam pengantar editorial buku Cinta, Seksualitas dan Matriarki: Kajian Komprehensif tentang Gender karya Erich Fromm.).

    Setelah membaca ini saya kemudian menyimpulkan hanya dengan cinta maka seseorang akan bisa berproses untuk menjadi spiritualis dan atau religius.

    Terimakasih Candra atas pencerahannya melalui tulisan ini. #Sungkem

  4. Cinta beda agama memang sulit..setuju banget sama kalimat penutupnya..harusnya mereka tau sebelum memulai dan memilih jatuh cinta (haa..milih jatuh cinta yg ini yg sulit..hehee)
    Bagusss dech..suka ^_^

  5. can, kpn punya inspirasi nulis buat “njedokin kepala” para wakil rakyat yang gemar Wisata belanja berselingkan studi banding itu ????

    tulisan2 di blog ni ‘ich mag’ lah….udah ada yang mengagas utk membukukan tulisan2 ini??
    recommended🙂

    • njedokin kepala mereka? -> merasa tertantang :p

      kadang saat hukum tidak memihak, saat kebenaran jadi bualan bahkan jualan, saat kekuasaan lebih bicara daripada nurani, saat tabu tak membuat malu, saat kita kesel dengan drama kehidupan. Sindiran adalah salah satu cara untuk meraih mereka, para pemangku amanah. Kalaupun nurani mereka sudah mati, paling ga kita masih belum bosan mengingatkan.

      wah, amin!😀

  6. wikipedia itu udah lama ditinggalkan sebagai bahan referensi. in my not humble opinion. lainnya keren. walaupun source dalam kurung ditengah2 cerita ganggu. sukses terus🙂

  7. Tuhan pasti ada, “setiap desain mempunyai desainer”
    Tuhan itu satu.. Tuhan menciptakan akal dan hati. Tuhan mempunyai selera, buktinya manusia dibuat dengan desain yg berbeda-beda. Tuhan sudah menciptakan cara, tentang segala urusanya. Segala macam cara tadi sudah disampaikan kepada utusanya, dan utusanya sudah menyampaikan secara sempurna kepada seluruh manusia bahwa cara-cara menyembah Tuhan dengan hati, tindakan, pikiran, perkataan, tingkah laku sudah ada dan originally made by god. Karena Tuhan memiliki selera dengan cara apa Dia di ibadahi, so just do that. Hikmah terkandung dalam setiap cara tersebut. Jika akal manusia bertentangan dengan cara & ayat Tuhan, maka curigailah akal.

    *really nice post Bung!

  8. Pingback: Jodoh | Kopi Manis Tanpa Gula

  9. Pingback: Kubikel Cinta | Kopi Manis Tanpa Gula

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s