Namaku Sauh

Petualanganku entah dimulai sejak kapan, entah dari mana, akan sampai kapan, akan sampai mana?

 

“Sauh..Cepatlah kemari..” wanita paruh baya itu melambaikan tangannya.

“Iya..Mak Cik..” seruku.

 

Sauh. Aku sudah terbiasa dengan panggilan itu. Sauh berarti mengangkat jangkar. Pertanda kapal siap berangkat meninggalkan  dermaganya, menuju lautan.

Aku pun berlari meninggalkan kerumunan anak-anak kecil yang sedang bermain di pinggiran pantai, bergabung dengan sekumpulan pria dewasa dan pemuda yang tengah berkerumunan membuat miniatur perahu sepanjang 3 meter dari kayu jeruk. Jong, begitu mereka menyebut miniatur perahu itu. Sementara belasan wanita tak jauh dari kami sedang bersendau gurau. Tangan mereka sibuk membungkus penganan dan kue dengan daun. Salah satu di antaranya adalah wanita yang tadi kupanggil Mak Cik.

 

***

 

Saat yang ditunggu akhirnya tiba. Tengah malam ini, Jong telah berisi dengan berbagai penganan dan kue. Belasan pria siap mengangkatnya, memanggul jong menuju lautan. Sementara aku dan beberapa pemuda-pemudi berpasang-pasangan. Kulitku terlihat kontras dibanding kulit mereka yang terlihat lebih gelap, khas kulit pesisiran. Kami menarikan tarian dengan gerakan seperti orang mendayung sampan, seirama dengan gendang yang ditabuh oleh tiga orang pria yang sudah berumur. Ketiga pria tersebut adalah tatua dari kampung ini, mereka membacakan doa dan mantra. Berbagai ritual dilakukan hingga menjelang subuh.

 

Akhirnya Buang Jong pun siap dilangsungkan. Melepas miniatur perahu ke tengah laut sebagai perlambang rasa syukur kepada sang pencipta, juga sebagai permohonan keselamatan selama melaut. Aku dan penduduk yang lain beriringan mengikuti di belakang hingga bibir pantai. Tiga hari ke depan kami tak boleh melaut, bagian dari perayaan ini. Sedikit membuatku lega karena belakangan ini ombak begitu ganas pengaruh angin musim timur. Salah satu alasan perayaan Buang Jong ini.

 

***

 

Sudah enam bulan aku berada di tempat ini. Hidup bersama penduduk suku Sawang di pinggiran Belitung Selatan. Yang aku ingat sejak enam bulan yang lalu mereka memanggilku dengan nama Sauh. Mak Cik yang memberikan nama itu. Aku pun tinggal di rumah panggungnya, menemaninya yang hidup seorang diri. Katanya aku ditemukan pingsan oleh para nelayan, terombang-ambing di tengah lautan, memeluk kayu potongan dek kapal. Sebuah bekas luka di kepala yang sampai saat ini masih terasa sakit membuatku tak ingat apa-apa tentang hidupku sebelum enam bulan yang lalu. Yang tersisa hanya tulisan “Ekspedisi Nusantara” pada bekas dek kapal itu. Beberapa bulan ini aku hampir gila, berusaha mengingat masa laluku. Nihil, tak ada ingatan yang tersisa. Namaku Sauh, aku siap mengarungi lautan, meninggalkan dermagaku, meninggalkan hidupku sebelum enam bulan yang lalu.

 

Suryawan Wahyu Prasetyo, Oktober 2011

One thought on “Namaku Sauh

  1. wah aku anak pesisir lho yu. Waktu aku masih kecil, aku dan kawan-kawan sering bersepeda dari rumahku sampai laut, menyusuri tambak dan sungai. Tapi sayangnya laut yang aku tuju itu tak berpantai, cm “galengan” tambak yang berbatasan dengan laut.

    ceritamu ini mengingatkanku dengan tradisi sedekah laut di kampungku🙂

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s