Cerita dari Kampung Kami

Biar kuceritakan sebuah peristiwa, duduk-duduklah tenang di sana.

 

“Sudah Magrib… Cepatlah masuk… “ seruan itu hal yang jamak terdengar di kampung itu. Kampung kecil dengan rumah-rumah panggung besar dan halaman luas yang jumlahnya tak sampai sepuluh. Kampung dimana Ibuku dibesarkan, yang sekali-sekali kukunjungi menjelang Lebaran. Di rumah kami, enam jam perjalanan dari kampung ini, Ibuku pun kerap memekik gusar tiap kali sudah dekat waktu Magrib dan aku belum pulang. Dulu, kukira itu semata karena ia tak mau aku meninggalkan shalat dengan gampang. Sampai suatu hari di usiaku yang kedua-belas.

“Sudah Magrib… Cepatlah masuk… “ Nenek memanggil-manggil dari atas beranda. Kami, empat orang cucunya pura-pura tak mendengar, sibuk dengan kelereng kami di halaman. Pada usaha Nenek yang ke-sekian meneriaki kami untuk masuk, sekilas kulihat Ibuku menarik Nenek ke dalam rumah. Kami aman, bebas bermain sampai lupa waktu.

 

Biji kelereng kesayanganku menggelinding ke balik tumpukan batu-batu sungai yang disusun menyerupai pagar tanda batas antara halaman dan jalan setapak di depan. Aku berlari mencari. Sayup-sayup kudengar bedug ditalukan dan azan berkumandang, malam menghampiri, menelan pelan cahaya sore, lampu-lampu beranda dinyalakan.

 

“Ketemu!” aku berseru senang, berbalik mencari tiga sepupuku tapi mereka tak lagi ada di halaman. Aku merasa sedang dipermainkan, mereka pasti diam-diam meninggalkan aku sendiri. Aku menggigil, udara malam yang dingin dipadu lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari langgar dan rumah-rumah sementara di sekelilingku, kampung ini mendadak seperti mati. Setengah berlari aku menuju rumah, lampu gantung di beranda mengayun pelan.

 

“Sari!” seseorang memanggil namaku. Aku menengok dan mendapati Nenek berjalan pelan ke arahku. Entah ia baru saja tiba dari mana, bukankah tak lama tadi ia masih berdiri di beranda memanggil-manggil cucunya?

 

“Nenek?” ragu, aku memastikan ia adalah Nenekku. Sampai akhirnya sosok itu berdiri tepat di hadapanku, ia memang Nenek.

 

“Aku dari langgar” ucapnya tanpa kutanya. “Ayo, masuk, sudah malam. Nenek sudah memasak mi untukmu.” Ia menuntun tanganku, dan aku menuruti kemana ia melangkah.

 

Rumah panggung itu tak mungkin begitu jauh, mungkin hanya lima langkah melintasi halaman luas ini, namun kurasa kami tak sampai-sampai. Aku lelah dan mengantuk. Nenek tersenyum padaku, rautnya aneh tak bisa kujelaskan.

 

“Sabar, ya” ia berkata seolah mengerti apa yang kurasakan. “Nenek sudah memasak mi untukmu.”

 

Kami sampai juga di ujung tangga kayu, jumlahnya tak sampai sepuluh undakan, namun kurasa kami tak sampai-sampai. Seperti sewaktu aku mendaki bukit di hutan belakang, rasanya tak sabar ingin tiba di puncaknya.

 

Di rumah, tak kujumpai Kakek, Ibu dan Ayahku, Paman dan Bibiku, bahkan Sepupu-sepupuku. Kata Nenek sambil membawakan sepiring mi dari dapur; “Mereka di langgar, mungkin masih mengaji selepas Magrib. Sari, ayo makan… “

 

Aku tiba-tiba merasa lapar, menghabiskan mi yang dibawa Nenek dalam hitungan menit, lalu memintanya membawakan makanan yang lain. Beberapa kali Nenek keluar masuk dapur dengan buah, kue kering, susu, dan banyak lagi. Aku makan sampai kekenyangan, dan akhirnya rebah di pangkuan Nenek.

 

“Sari…. Sudah benar kau di sini, bersama Nenek. Tak usah pulang, ya… “ ucapan Nenek yang terakhir kudengar sebelum aku ditelan kantuk lalu tertidur.

 

***

 

Aku terbangun oleh kentungan bambu yang ditalu-talu, ramai sekali. Dan yang paling mengejutkan, setelah berhasil kukumpulkan kesadaran, aku mendapati diriku tertidur di antara akar-akar besar pohon beringin. Lamat-lamat, di antara bising tabuhan kentungan, aku mendengar namaku diteriakkan oleh banyak suara.

 

“Aku di sini… “ aku ingin berteriak tapi rasanya lelah sekali. “Aku di sini… “ Tiba-tiba sesuatu yang dingin menggeliat-geliat di bawah betisku, cacing! Bau buah-buahan busuk dengan ulat menyembul membuatku ingin muntah. Botol gelas berisi susu yang kuminum semalam berganti cairan semacam nanah. Sementara kue-kue kering itu terbuat dari tanah. Lalu aku tak merasakan apa-apa lagi.

 

***

 

“Ini pernah terjadi… “

“Iya, dua puluh tahun yang lalu… “

“Bibinya… “

“Kalau Bibinya masih hidup, mungkin seusia Ibunya sekarang… “

“Bibinya sempat hidup setelah kejadian itu… tapi sakit berbulan-bulan lalu mati… “

“Semoga Sari tidak… “

“Kukira mereka, orang-orang di balik bukit, sudah punah… “

“Tampaknya belum… “

 

Bisik-bisik itu terbawa melewati celah-celah pada dinding kayu, sampai di telingaku. Aku terbaring di tempat tidur pada sebuah kamar yang kukenali sebagai kamar Ibuku. Aku begitu lelah, dan tak sepenuhnya paham.

 

***

 

Entah apa yang sebenarnya terjadi padaku saat itu. Aku sakit berbulan-bulan, tapi tak seperti Bibiku yang akhirnya meninggal, aku hidup untuk meneruskan cerita ini. Cerita yang mungkin terdengar bukan dari dunia ini, tapi aku mengalaminya sendiri. Ibuku yang akhirnya terpaksa bercerita panjang lebar akan sebuah rahasia kampung yang bertahun-tahun dikubur dalam. Orang-orang di balik bukit itu adalah sekelompok manusia manusia, bukan lelembut, dengan ilmu menyerupa bentuk-bentuk tak terduga. Ilmu turun temurun dari masa yang belum tertera sejarah. Mulanya, orang-orang di balik bukit disewa untuk menjaga ladang-ladang jagung milik penghuni kampung. Mereka akan menyerupa serigala atau harimau untuk menakut-nakuti pencuri usil, hanya sebatas menakuti bukan membunuh. Sampai suatu saat, seorang pemuda mabuk ditemukan tewas tercabik-cabik binatang buas di antara tingginya barisan pohon jagung, dan orang-orang di balik bukit jadi tersangka utama. Perburuan pun dimulai. Manusia memburu manusia. Orang-orang di balik bukit pelan-pelan habis, menghilang. Hingga datang suatu waktu, orang- orang di balik bukit yang tersisa tak seberapa menggerayangi kampung di waktu malam, mengambil paksa anak-anak, kabarnya untuk dipelihara dan diwariskan ilmu menyerupa. Itulah balas dendam mereka.

 

Ya, aku mengerti, kau tak percaya. Cerita yang terdengar bukan dari dunia ini, tapi aku mengalaminya sendiri. Dua puluh tahun sesudah hari itu, setiap Magrib tiba, pada anak-anakku selalu kuteriakkan; “Sudah Magrib… Cepatlah masuk… “

 

***

 

Terinspirasi dari kisah nyata.

 

Amalia Achmad, September 2011

One thought on “Cerita dari Kampung Kami

  1. dulu familiar banget dengan “mboten pareng dek, ga elok iku”

    ga elok yang mungkin menurut pemikiran orang modern adalah kuno, namun memang ternyata sering ada cerita nyata di balik kekunoan itu. bukan hanya mitos, namun legenda.

    hal ini pernah terjadi pada kakak sepupu saya, dia di temukan di atas pohon, seperi orang linglung. dan yang aneh adalah, pohon tempat ia ditemukan itu sudah beberapa kali dilewati oleh orang-orang yang mencarinya tadi, namun ia tak terlihat.

    ia ditemukan saat para pencari menggunakan “dok dok ting” (memukul2 ember dan panci) yang katanya untuk mengusir gendruwo, dan memang alhamdulillah si kakak akhirnya ditemukan dengan cara itu. saya ga tau apakah “dok dok ting” ini cuma kebetulan atau tidak.

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s