Lintas Benua

The Beginning
“Anak-anak, Selain Indonesia, manakah negara favoritmu?”
“Jerman! Saya pengen nonton FC Bayern Munchen di Jerman.”
“Jepang! Saya ingin makan nasi Onigiri.”

SMA 3 Yogyakarta, tanggal 11 bulan terakhir tahun 2002, Pelajaran Seni Budaya, Pak Mustoko mengawali semua cerita.

Cerita Eldo
MUNCHEN, Jerman. Suasana riuh begitu semarak di kawasan pedestrian. Ini adalah Oktoberfest, festival dua-mingguan yang diadakan setiap tahun di München, Bayern, Jerman, pada akhir September dan awal Oktober. Festival ini adalah salah satu acara paling terkenal di kota ini dan juga merupakan festival terbesar di dunia dengan sekitar enam juta pengunjung setiap tahunnya.

Nice picture.” Tiba-tiba seorang perempuan Jerman di samping gue membuka percakapan.

Huh?

Your Shoot,” ujarnya. Ada jeda sebentar sebelum kemudian ia melanjutkan, “You are a good photographer.”

Sesaat kemudian gue baru menyadari siapa dia. Seorang wartawan. cocard bertuliskan Frankfurter Rundschau (surat kabar harian Jerman, bermarkas di Frankurt am Main) menggantung apik di leher jenjangnya. Dia menenteng pocket camera di tangan kanannya.

“My name is Gina.”

 “Eldo.” Gue membalas jabat tangannya seraya tersenyum ramah.

Kemudian kami tenggelam dalam percakapan tentang festival Oktoberfest ini. Kebetulan gue belum lama tinggal di Jerman, ini adalah hari ketiga gue tinggal di Berlin. Dari ceritanya pusat perhatian utama dalam festival ini adalah bir, dan pembukaan festival ditandai oleh pembukaan tong bir oleh Walikota München dengan mengatakan “O’zapft is!” (Bahasa Bavaria untuk “Telah dibuka!”). Bir istimewa Oktoberfest yang memiliki rasa dan kandungan alkohol yang lebih pekat dan keras juga disiapkan untuk acara ini. Bir ini disajikan dalam gelas berukuran satu liter yang disebut Maß.

“hehe..,” gue terkekeh. “It’s beer. In my country, this festival will be dissolved by a religious organization

“Yeah, I know.. your country is known as a fanatic country lately (Indonesia)”

 See? Karna aksi sekelompok orang berjubah putih, dunia lalu memandang Indonesia sebagai negara fanatik. Gue sering sedih melihat kenyataan ini. Banyak prestasi kita terlewatkan pemberitaan, karena tenggelam oleh berita suram pemboman dan aksi teroris konyol di negara kita. Akibat nila setitik, Rusaklah susu sebelanga. Gue benci kalau pepatah ini berlaku dalam hidup Gue.

Oya, sampai mana tadi? sampai pada cerita bir. Pernah lihat video klip Syalalala-nya Vengaboys? Yap, di festival ini kita serasa berada dalam klip tersebut. Puluhan wanita mengenakan Dirndl (pakaian khas Jerman) dengan pita bertali bertaburan di festival ini. Ehm.. Soal dada dan pantat penuh di video klip, it’s true guys, they are Germany. Eh, ngelantur malahan..

 “She’s still single if you wanna date!” Gina menunjuk salah satu gadis Jerman di depan kami.

“Huh?” gue heran, jangan-jangan dia seorang Cenanyang. “How do you know? 

Gina tersenyum simpul, “she tied the ribbon on the left.”

Ternyata letak simpul pita dari Dirnl yang mereka (perempuan Jerman) kenakan, ada maknanya. Finger weg (red: untuk kanan bagi yang sudah menikah, harap tidak diganggu). Schleife links: noch ledig, flirten erlaubt (red: kiri bagi yang belum menikah, boleh digoda), Schleife vorne mittig: Jungfrau, vorsicht! (red: bagi perempuan yang masih perawan, biasanya tali diikatkan di bagian tengah depan, hati-hati porselen), dan Schleife hinten: verwitwet, tabuzone! (red: tali dibelakang bagi mereka yang menjanda, tabu).

I have to go , press conference the mayor has begun.” Gina mengemasi notes-nya dan bergegas seraya melambaikan tangannya.

“Good Luck!” gue acungkan jempol ke Gina.

“You too for your date!” dia memalingkan muka dan berjalan mundur sambil mengarahkan ibu jarinya ke kerumunan perempuan ber-Dirndl.

 Yup, Here I am. Munich, German. Berada di sini adalah cita-cita gue sejak tujuh tahun lalu. Dan untuk bagian cita-cita ini jadi bukan sekedar cita-cita. Salahkanlah temen gue, Frisa. Dia penanggung jawab bahwa Jerman adalah suatu keharusan buat gue.

 Cerita Frisa
“Kenapa teater?” tanya Eldo tujuh tahun lalu pada hari Kamis, pukul sepuluh pagi di tanggal 26 Oktober (terlalu detail ya? Hehe, saya memang memiliki ingatan yang kuat).

Terasa aneh mungkin, di antara teman-teman cewek lain yang memilih memasak, seni tari atau menjahit. Saya memilih teater sebagai ekstrakurikuler saya. “Di teater, saya bisa menjadi orang lain.”  Jawaban saya kepada Eldo.

Saking sukanya saya dengan dunia teater, saya sampai minta ke ayah untuk dibuatkan satu kamar khusus di rumah. Kamar dengan cermin di semua sisinya. “Himitsu no heya” begitu saya menamainya. Bahasa Jepang, yang artinya ruang rahasia. Ya, selain penyuka teater, saya juga penggemar Jepang.

Kalau anak lain memilih pergi jalan-jalan ke mall setelah pulang sekolah, saya lebih senang segera pulang dan menghabiskan waktu berjam-jam di Himi —kependekan dari Himitsu no heya. Di sana saya belajar dialog, akting, menjiwai peran bahkan tak jarang pula diskusi dengan teman-teman teater saya.

***

TOKYO, Jepang. Saya sedang mengantri tiket pementasan Kabuki, Seni teater tradisional khas Jepang. Aktor kabuki terkenal dengan kostum mewah dan tata rias wajah yang mencolok.

Kementerian Pendidikan Jepang menetapkan kabuki sebagai warisan agung budaya nonbendawi. UNESCO juga telah menetapkan kabuki sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia. Saking populernya kabuki ini, pemerintah Jepang sampai mendirikan gedung teater khusus kabuki yaitu Gedung teater Kabuki-za di Tokyo.

Setengah jam sudah saya berdiri di sini. Saya menoleh ke belakang. Di belakang saya sudah ada puluhan orang berbaris rapi. Inilah salah satu kenapa saya suka dengan Jepang, masyarakatnya cekatan, ramah dan  seperti ini, tertib. Pantas saja Jepang menjadi salah satu negara Asia dengan pertumbuhan ekonomi yg mengagumkan di dunia. Contoh simple, sebutan motor di kampung saya dulu adalah “Honda” , which is adalah sebuah merk motor Jepang.

Indonesia juga bisa seperti Jepang, batin saya. Kalau kurikulum pendidikan dibuat lebih applicable. Kalau anggaran kendaraan dinas pejabat tidak memangkas anggaran pendidikan, kalau profesi ilmuan dihargai dengan layak, kalau pemimpinnya lebih sering merapatkan industri perdagangan daripada politik praktis, kalauu…. ah, masih terlalu banyak PR kita untuk bisa mengejar kemajuan Jepang.

 “Next..!! This is your ticket, miss.”

Seat 9C
Wednesday, January 09, 2009
09.00 a.m. Kabuki-Za teather

Tiket saya sudah di tangan, sekarang saatnya mengisi perut yang sudah mulai berdendang. Saya membuka bungkusan kecil di tas saya, nasi onigiri buatan sendiri. Di sini saya belajar banyak hal, termasuk belajar membuat nasi onigiri.

Saya duduk di taman kota di pusat kota Tokyo. Di temani YUI yang mendendangkan “Life” di headseat, saya menikmati suasana. Di Jepang, pusat kota ga cuma sekedar alun-alun kecil dengan pohon beringin berdaun lebat di setiap sudutnya. Tata kota di sini sungguh keren. Misalnya saja taman kota ini, dengan keluasan yang ga lebih dari 30 meter persegi ini, Pemerintah Jepang mampu memadupadankan berbagai kepentingan dalam keserasian. Jangan heran kalau kita menemui banyak ‘kehidupan’di sini. Ada yg jogging, membaca, skateboardingmeeting, melukis bahkan surfing internet!

Yup, taman kota ini, Wifi area.

Saya membuka laptop, mengecek email gratisan. Di tengah penat rutinitas kantor, saya sering mengandalkan email sebagai sarana penghibur. Di Milist SMA, anak-anak sering bertukar cerita tentang ‘dunia’ mereka masing-masing. Ya, selain saya ada beberapa teman lain yang hidup dalam perantauan. Salah satunya Eldo, teman sebangku saya pas SMA dulu. Dan sebenarnya dari dialah awalnya, saya bisa terdampar di negeri matahari terbit ini, negeri para pesumo.

SMA, masa para Begundal.
Gue baru aja ditegur Pak Joko gara-gara mengamati kitab gue –sebuah album postcard hasil gue ngumpulin dari segala penjuru Jogja– saat Beliau menerangkan Hukum Newton.

“Eldo, coba sebutkan bunyi hukum newton?”

“Kalau sebutkan ibukota Jerman, saya tahu Pak. Berlin!”

Sontak tawa anak-anak satu kelas  membahana. Dan sontak pula Pak Joko menjewer gue.

Gue selalu apatis dengan pelajaran sekolah, apalagi ilmu pasti. Buat gue, satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian. “Kurikulum sekolah kita itu harusnya dinamis, update setiap saat. Lha ini hukum newton masih aja dibahas dari kita kelas satu” Tukas gue saat Frisa – teman sebangku gue- menanyakan kekonyolan gue tadi. Frisa sebenarnya juga bukan penikmat ilmu eksak, tapi dia lebih toleran dalam kepura-puraan. Dia rela mengesampingkan sementara mimpinya sebagai aktris teater untuk memenuhi tugasnya mewakili sekolah dalam Olimpiade Fisika tingkat Nasional, dan di luar dugaan gue, dia menang.

“Gila lo ya, Beasiswa Fisika Murni ITB lo tolak, sebenernya lo tu pengen jadi apa sih?” di sudut ruang ekstrakurikuler teater, pertanyaan itu gue lontarkan ke Frisa.

Dia menatap gue, menerawang ke langit-langit, lalu tersenyum simpul, “Saya ingin jadi aktris teater…, Saya senang memainkan karakter… di teater, saya bisa menjadi seseorang yang galak, baik, ramah, pencemburu, menjadi siapapun sesuai dengan peran yang dikasih ke saya.”

“Lalu kenapa lo mau mewakili sekolah kita dalam Olimpiade kemaren?”

“Fisika adalah kemampuan saya, Teater adalah kecintaan saya. Di Fisika, otak saya maksimal. Di teater hati saya maksimal.”

“Lo tu manusia kontroversial deh,” tukas gue.

“Salah, yang bener saya ini manusia multitalenta, hehe..” dia terkekeh lalu bergegas kembali ke stage latihan sembari melempar handuk ke muka gue.

Dia pergi, namun sesuatu tertinggal di samping gue. Wangi aroma tubuhnya.

 Metamorfosa
“Lo suka Jepang, Gue suka Jerman.”
“Ehem..”
“Gimana kalau kita taruhan.”
“Maksud kamu?”
“Siapa di antara kita yang bisa sampai ke negara favoritnya lebih dulu, sebelum usia 30 th, dia boleh minta apa aja.”
“Dan yang kalah?”
“Yang kalah, tentu saja dia harus memberikan apa yang diminta yang oleh menang.”
“…”
“OK, DEALL!!”

Kata orang bijak, motivasi dan keadaan kepepet membuat kita action, membuat kita mengerahkan segala daya upaya untuk mewujudkan apa yang kita pengen, kita perlu situasi yang genting. Dan dari taruhan inilah, cita-cita saya bermetamorfosa menjadi “ga sekedar” cita-cita. Namun target untuk dikejar.

On The Move
Yahoo Messager
Frisa : “Do.. saya keterima KBRI dan ditempatkan di Jepang berangkat bulan depan.”
Eldo : “ WAAAHHH.. selamat ya, Sa!!
Frisa : “Kamu gimana?”
Eldo : “Gue? Ehm… sekarang gue di bandara, bentar lagi take off, ke Munich. Gue keterima sebagai fotografer di National Geographic sebulan lalu dan sekarang mendapat tugas mengabadikan Oktoberfest”🙂
Frisa : “Sialan kamuuuu!!”
Eldo : “Hehe…, siap-siap menerima request gue ya!”
Frisa :”…. Iya, Awas ya kalau susah-susah.”
Eldo : “🙂 “
Eldo : “Pesawat gue dateng, GTG. Bye!”

Gue buka twitter. Munich.. I’m coming #dreamlist . update!

Postcard
“Kenapa Fotografi?” di kantin sekolah, sambil membolak-balik kamera baru yang gue pamerkan, Frisa bertanya waktu itu.

Dulu pas ultah gue ke 16, bokap kasih gue kado kamera analog. Tau kan kamera analog, yang mana setiap habis jepret kita harus tarik tuas untuk memajukan film ke frame selanjutnya baru siap digunakan memotret kembali. Sekali jepret, ga bisa dihapus dan kita harus menuju ke studio foto untuk mencuci film dan melihat hasilnya. Saat menunggu hasil cetakan selesai, rasanya deg-degan gila. Lalu setelah hasilnya tercetak, sensasinya luar biasa. Dari sanalah gue cinta mati sama fotografi.

“Foto adalah moment. Saat melihat album foto, gue seperti dibawa meliuk-liuk dalam kereta waktu, such as Times Traveler. Nih ya, seberapa kali pun gue melihat foto masa kecil gue pas nendang bola, gue tetep aja senyum-senyum sendiri.”

“Kenapa?”, Frisa menggeser posisi duduknya, matanya memicing, menyimak gue lebih seksama.

“Karena di moment itu, gue memecahkan pot bunga yang baru dibeli mama. Bola yang gue tendang, mengenai pot tersebut.Hehe.. , lalu mama marah besar, gue dimarahin sampai nangis.. tapi malam harinya, tetep, gue ndusel-ndusel tidur di pelukannya.”

“Karena foto itu bercerita, Sa. It tells more than words.” pungkas gue ke Frisa.

“Here you are, Sir. Your photographs.” panggilan petugas studio foto menarik gue back to reality.

Gue sedang berada di Bild, salah satu studio foto di bilangan Innere Wiener Street, Munchen. Gue mencetak beberapa foto hasil gue hunting di Oktoberfest kemarin, dan satu foto special untuk kemudian gue jadiin postcard dan gue kirim ke Jepang, kepada salah satu pemegang pasport Indonesia beraroma tubuh wangi di sana. Frisa Lumbarta.

Gue akan mengirim permintaan ‘hadiah’ gue ke dia, lewat ini, kartu Pos. Ya, gue tahu, kalian semua pasti pada nanya kan, kenapa ga gue bilang by phone aja sih yang cepet. Jawabannya simple aja, gue ga mau ‘hadiah’ gue instant, karena ‘hadiah’ ini terlalu berharga untuk berlalu begitu saja. Gue mau, ‘hadiah’ gue punya cerita.

Kotak Surat
Air raksa bertengger gagah di angka 5 termometer ruangan. Yap, it’s winter.  Suhu lima derajat celcius cukup untuk membuat saya jadi ondel-ondel di sini, memakai coat lima lapis untuk atasan dan dua lapis untuk bawahan. Selain kabuki, Musim dingin adalah yang benar-benar saya nantikan sepanjang hidup saya bercita-cita tinggal di luar negeri. Saya ingin merasakan, Salju!

Semuanya menjadi putih. Jalanan, langit dan nasi onigiri! (Okelah, nasi onigiri memang selalu putih). Saya suka saat pulang kantor, berjalan di pedestrian menuju apartemen dengan hamparan salju putih di sepanjang jalan yang saya lalui, berasa gimanaaaaa gitu. Saya merasa seperti tokoh Lucy Pevencie yang tersesat di negeri Negeri Narnia, hehe..

“Frisa konnichiwaaaaaa…, anata no tame no tegami arimasu!”

*PROOK!!*

Jantung saya seperti mau copot saja. Seorang remaja Jepang anjrot tiba-tiba di depan saya saat membuka gerbang apartemen. Aya Ueto namanya, remaja Jepang yang ga bisa diam, tetangga sekaligus sahabat saya di apartemen ini. Dasar bocah cilik, batin saya. Pantas saja orang tuanya menamainya Aya (artinya warna-warni), cocok sekali dengan style harajukunya, nabrak sana-sini ngejreng hore.

Aya bilang ada surat untuk saya, dia bilang dengan setengah berlari, sepertinya dia sedang buru-buru. Pasti terlambat les lagi dia, saya menduga. Saya lalu melongok ke kotak surat di samping gerbang. Iya ada, saya mendapati sebuah amplop putih di kotak pos untuk ruangan saya.

“To : Frisa”

Tulisan tangan ini, saya sudah tahu siapa pengirimnya tanpa perlu melihat bagian belakang amplop. Eldo.

 

Jawaban
Pertama kali saya menginjakkan kaki di Negeri Sakura ini, Eldo adalah orang pertama yang saya hubungi, “Oke Eldo, kamu menang. Apa yang kamu minta dari saya?”. Eldo hanya terkekeh di sana, “Nanti, tunggulah saat yang tepat, gue akan tagih hadiah gue ke lo.”

Sesampainya di kamar, saya langsung duduk di balkon belakang dan membuka amplop Eldo. Tak ingat lagi suhu 5 derajat celcius yang menyekap hebat. Amplop ini, muara dari taruhan saya dengan Eldo, sebuah taruhan yang kemudian menjadi trigger saya untuk mengejar cita-cita ke Negeri Sakura ini.

Sebuah postcard, eh bukan. Ini foto yang dijadikan postcard. foto ratusan gembok di sepanjang dinding anyaman kawat batas sebuah jembatan. Saya ga mengerti apa maksud foto tersebut. Saya lalu membalikkan postcard..

Munchen, 14 Feb 2009

Hadiah taruhan yang aku minta :
..Maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku?

Love You (since 7 years ago),
Eldo

Selembar tulisan tangan menyertai postcard ‘hadiah’ ini.
TENTANG GEMBOK. Ratusan (bahkan ribuan sebenarnya) gembok di foto ini adalah gembok cinta. Gembok-gembok di sepanjang jembatan yang menghubungkan Koln dengan Kolnmesse di atas sungai Rhein, Koln, Jerman ini dipasang terkunci oleh pasangan-pasangan kekasih di Jerman, untuk kemudian kuncinya dibuang di sungai Rhein. Gembok yang tak bisa dibuka lagi itu adalah lambang cinta mereka yang telah terkunci, takkan pernah terlepas lagi. Lewat potret gembok-gembok ini, aku ingin mengunci hatiku padamu. May I? 

Pandangan saya kosong, tapi pikiran saya tidak.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tiga puluh menit.

Akhirnya saya mengambil handphone, menghubungi seorang teman yang jauh di sana. Jauh, namun anehnya setiap hari saya selalu merasa dekat dengannya.
Eldo Nababan.

Candra Aji, Oktober 2011

10 thoughts on “Lintas Benua

  1. dem!!!
    gilak, suka banget sama tulisan ini!!

    aku suka jalan2 dengan tulisan, aku juga suka kalo penulisnya bermain2 dengan hati/semangat para tokohnya😀

    keep up the good work!🙂

  2. Pingback: God is a Director | Kopi Manis Tanpa Gula

  3. Pingback: Kubikel Cinta | Kopi Manis Tanpa Gula

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s