Menjelajah Waktu

Anggaplah aku berteman dengan Doraemon. Oh, atau anggap saja aku Doraemon, supaya lebih mudah. Menurut petunjuk yang aku dapatkan dari bos-ku, sekarang ini aku ditugaskan menjadi penjelajah mesin waktu. Dia sudah menyiapkan sesuatu untukku, katanya. Rasanya aku bersemangat sekali, beraksi menjadi time traveler, seperti si ganteng Eric Bana.

Bos membekaliku dengan benda mirip jam tangan. Laci Doraemon sudah so last year. Sementara adegan Eric Bana terlalu ekstrim. Sepertinya ini penjelajahan waktu paling sempurna. Jam tangan itu yang akan membawaku berjalan-jalan, dan aku akan sampai di tujuan dalam keadaan berpakaian lengkap. Maaf ya Eric Bana, aku lebih canggih darimu.

***

“Aaaaaaaaakkk!!!”

Aku berteriak tak terkontrol. Aku belum menekan tombol apapun di jam tanganku, mengapa tiba-tiba aku mendarat bebas di tempat ini? Tempat macam apa ini?

Untunglah tak ada orang di sekitar, sepi sekali. Tunggu. Suara apa itu? Sepertinya bapak-bapak yang berkeliling ronda. Sialan, tengah malam begini aku mau apa. Pantas saja sepi.

Mendadak ada suara motor mendekat, lalu melewatiku begitu saja. Errr, apakah aku invisible? Sepertinya begitu. Baiklah aku akan mengikuti mbak yang baru datang ini saja.

Mbak ini menggunakan motor matic warna hitam, rambutnya panjang dan tergerai. Penampilannya asik sekali, sepertinya dia fashionista. Aku mengikutinya naik ke lantai 4, tempat kamarnya berada. Ternyata bangunan ini adalah kost-kostan.

Kamarnya rapi, dengan seekor anjing berambut lebat duduk manis di sebelah tempat tidur. Anjing itu menyambut majikannya, dan si mbak pun mengelus-elus sebentar, kemudian bebersih diri di kamar mandi. Setelah itu dia membuka laptop. Ya ampun mbak, masih ada tenaga buat kerja?

Aku mengamati apa yang dia kerjakan. Oh, draft untuk siaran pagi. Ternyata mbak ini seorang penyiar radio. Lalu, tulisan untuk blog. Sempat sekali menulis untuk blog, kalau aku pasti memilih tidur. Eh, sepertinya bukan blog pribadi, apa ya itu. Nantilah aku akan mengeceknya. Keren ini, dalam waktu satu jam saja dia bisa menyelesaikan dua tulisan. Semuanya bagus dan butuh pemikiran. Ahh aku suka mbak ini. Selera musiknya pun bagus, walaupun aku tidak mengenali lagu-lagu yang ia putar, namun semuanya enak didengar. Cocok untuk menemani bekerja tengah malam.

Beberapa kali mbak cantik ini berbalas pesan lewat ponselnya. Dia tersenyum setiap selesai mengirimkan pesan. Apakah semua temannya juga bekerja di pagi buta?

Ternyata tulisan untuk blog tadi bukan penutup malam ini. Dia pun membuka satu file lagi, dan mulai mengetik. Kalau melihat cara penulisannya, aku menduga itu adalah artikel untuk surat kabar. Hoaaahhhmm, aku mengantuk. Zzz.

***

Rasanya tak patut aku menyombongkan diri lebih canggih dari Eric Bana. Nyatanya pagi ini aku terbangun dengan kaget di tempat tidurku. Aku bahkan tak ingat apa yang terjadi sampai aku bisa terkirim pulang.

Eh? Bukan. Ini bukan kamarku. Di mana ini? Another kost-kostan? Dan positif ini kost laki-laki. Aku masih invisible kan?

Hmm, sepertinya mas ini pemilik kamar yang kutempati. Rapi sekali dia pagi-pagi begini. Seragam. Berarti bukan anak kuliahan. Laptop buatan Steve Jobs masih terbuka di meja. Kok aku merasa familiar dengan tampilan layarnya, merasa pernah melihat halaman itu. Di mana ya. Ah iya, itu halaman yang sama dengan yang dibuka mbak cantik semalam. Blog. Apakah itu blog bersama? Jadi mbak dan mas ini pacaran? Aduh, gatal sekali rasanya ingin mengutak-atik, penasaran.

Aku melihat sekeliling. Kamar yang tertata dan terpelihara dengan baik. Ada kamera SLR merek ternama yang duduk manis di salah satu sudutnya. Di meja sebelah tempat tidur, sebuah blackberry dan sebuah android tergeletak dengan lampu berkedip-kedip, tanda pesan belum terbaca. Di temboknya, tertempel karton hitam dengan tinta spidol berwarna emas menghiasi dengan indahnya. Ucapan ulang tahun dari teman-teman. Beruntung sekali mas ini. Barang-barangnya begitu lengkap, teman-temannya begitu baik. Senyumnya pun tulus. Sepertinya tidak pernah terbersit di benaknya untuk melakukan kejahatan.

Dia sudah selesai bersiap-siap, kemudian mematikan laptopnya, mengecek ponsel dan membalas beberapa pesan. Memasukkan laptop ke ransel hitam, lalu memakai perlengkapan mengendarai motor. Aku mengikutinya turun ke garasi. Motor yang digunakannya sama dengan motor mbak semalam, hanya beda warna saja. Apakah aku perlu mengikutinya sampai ke kantor? Bagaimana caranya? Duduk memboncengkah?

***

Belum sempat aku membuat keputusan, rupanya nasib sudah memindahkanku ke sini. Sebuah kantin. Kebetulan aku lapar. Tapi bagaimana caranya makan kalau terlihat saja tidak.

“Mau pesan apa?”

Eh? Itu ibu kantin bertanya padaku? Yang benar saja. Aku gelagapan karena kaget. Buru-buru aku melihat menu yang terpampang di tembok, dan memilih salah satunya dengan cepat.

“Rawon, Bu.”

“Minumnya?”

“Es jeruk.”

Mas-mas yang sedang berkumpul di meja sebelah mengarahkan pandangannya kepadaku. Aku menjadi salah tingkah. Ini pasti karena aku terlihat agak kacau saat berbicara dengan Bu Kantin tadi. Namun tak lama mereka kembali ke obrolan. Salah satunya sedang menjadi pusat perhatian. Dia sedang berbicara tentang rokok. Tentu saja sembari mengepulkan asap dari bibirnya.

Gaya sekali merokoknya, menggunakan pipa yang tampaknya terbuat dari tulang hewan. Entahlah, aku hanya menduga. Teman-temannya mendengarkan khusyuk kata-katanya, beberapa menanggapi dan kemudian terjadi diskusi serius. Rokok saja didiskusikan sebegitunya, batinku.

Selesai bab rokok, merembetlah pembahasan mereka ke hal-hal lain. Ini kampus sastra ya? Mereka membicarakan penulis-penulis, karya-karya lama yang akan didaur ulang, dan lain sebagainya. Mas itu tetap menjadi pusat perhatian. Bahasanya tinggi, aku tak mengerti. Tapi kelihatannya dia orang yang cerdas, pemikirannya liar dan lain. Aku tak terbiasa mendengarkan obrolan berat dan butuh pemikiran lebih seperti itu. Kemudian salah satu temannya menanyakan tentang blog barunya. Aku jadi curiga, apakah itu blog yang sama juga dengan yang kulihat sebelum ini?

Rawonku datang bersama es jeruk. Ibu-ibu yang mengantarkan pesananku meminta maaf karena terlalu lama, katanya gas habis jadi harus memasang baru. Aku tersenyum memaklumi. Kemudian aku tak sempat lagi memperhatikan meja sebelah. Aku makan dengan lahapnya sambil berpikir, ini tempat apa dan aku harus bagaimana. Dasar jam tangan tidak becus, fungsinya kacau. Memindah-mindahkanku seenak hati, dan tanpa instruksi. Aku jadi bingung dengan rencana-rencana semula.

Selesai aku makan, meja sebelah sudah bubar. Mendadak aku ingat. Aku tak punya apapun untuk membayar. Harus bagaimana ini. Aku mengedarkan pandangan, menemukan kamar mandi di dalam kantin. Untunglah es jerukku masih setengah penuh, jadi tidak terlihat melarikan diri.

Sampai di toilet, aku menekan tombol di jam tangan. Reaksinya lambat, aku khawatir dia tidak bekerja. Untunglah kekhawatiranku tidak terbukti, aku seketika berpindah tempat.

***

Malam hari. Aku tak pernah tahu waktu-waktu tempatku berada. Di mana pun, aku harus selalu menebak-nebak. Kali ini, sepertinya semacam café, tapi terbuka. Bukan, bukan café, ini tempat minum susu. Wow, susu bisa menjadi bisnis yang sangat menguntungkan seperti ini. Ramai sekali anak muda berkumpul.

Dari tempatku duduk, aku melihat sepasang muda-mudi mengobrol. Bukan pasangan kekasih, tapi dua sahabat yang sedang saling bercerita. Terlihat serius tapi santai, sepertinya salah satu sedang curhat.

Yang pria sipit dan cukup good-looking, perempuannya cantik berwajah keras. Mereka tersenyum dan tertawa-tawa, sambil sesekali mengomentari orang-orang yang berlalu-lalang. Yang perempuan beberapa kali mengarahkan kamera secara random, entah apa yang ia incar. Oh, mereka juga membicarakan tulisan. Katanya belum selesai menulis untuk blog. Aihh, mengapa di mana-mana aku mendengar pembicaraan ini.

Manis sekali mereka, membuat iri saja. Terdengar mereka saling bercerita tentang masa-masa buruk kuliah, rupanya yang satu sudah berhasil melewatinya, yang satu masih berjuang. Kemudian mereka berbicara masalah hati, masa lalu dan masa depan. Aku tidak dapat menangkap jelas apa yang mereka perbincangkan, namun di beberapa waktu, raut wajah si perempuan berubah tegas, dan di lain waktu, si laki-laki berbicara santai namun terlihat sedikit mengintimidasi. Lalu mereka berdebat, sambil menikmati snack yang tersaji dan menyesap susu dingin di gelas super besar. Malam yang indah.

***

Baru kali ini aku merasakan putaran-putaran yang membawaku menjelajah. Kepalaku berputar-putar, pusing sekali rasanya. Mual. Ingin muntah. Melayang-layang.

Terdampar di lorong tanpa akhir.

Rumah. Aku ingin rumah.

***

Almas Karamina, Oktober 2011

3 thoughts on “Menjelajah Waktu

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s