Senja untuk Candra

Hari ini ulang tahunmu. Setengah hari telah berlalu. Hampir senja, dan aku bahkan belum menemukan kado untukmu. Aku bingung, harus memberikan apa.

Kau ingat waktu dulu? Di setiap senja, kita selalu memanjat atap rumahku. Menatap mentari kembali ke peraduan. Kau tahu, aku tergila-gila pada senja. Aku sering mengajakmu berkeliling Jogja, hanya untuk mendapatkan view senja terbaik. Dan herannya kau selalu saja menemaniku. Buatku, hanya kau yang mengerti kegilaanku pada senja. Aku sudah berkeliling banyak kota dan negara hanya untuk menikmati senja terbaik, mengabadikan senja dalam kamera poket yang selalu kubawa ke manapun aku pergi, sesekali mengirimkannya padamu. Mungkin hanya kau yang mengerti kegilaanku pada senja, hingga saat ke manapun kau pergi, kau sudah tau oleh-oleh apa yang akan kuminta, dan sepulangnya kau dari perjalananmu, aku akan mendapatkan selembar foto ukuran postcard,  dengan foto senja yang kau abadikan lewat DSLR kesayanganmu.

Kau ingat waktu dulu? Di setiap senja, kita selalu memanjat atap rumahku. Menatap mentari kembali ke peraduan. Di senja itu pula, aku selalu bercerita tentang hidupku seharian itu. Kau hanya diam mendengarkan. Sesekali menimpali ceritaku, atau tertawa jika kebetulan aku bercerita tentang sesuatu yang lucu. Padahal aku juga ingin mendengarkan ceritamu. Tapi kau sangat jarang bercerita. Padahal aku juga ingin mendengarkan kisahmu seharian itu, melepas lelah bersamaku, sambil menikmati mentari kembali ke peraduannya. Tapi kau hanya lebih banyak diam, hanya mendengarkan ceritaku. Sesekali menerawang kosong. Hingga senja berakhir, selalu aku yang memulai dan mengakhiri pembicaraan. Lalu kemudian kau akan pamit pulang, karena maghrib menunggumu. Dan aku kembali merasa kesepian.

Kau ingat waktu dulu? Di setiap senja, kita selalu memanjat atap rumahku. Menatap mentari kembali ke peraduan. Di senja itu pula, aku selalu bercerita tentang hidupku seharian itu. Hidupku yang selalu tentang dia, ia, dan dirinya. Tentang aku yang sedang dan terus jatuh cinta padanya. Aku menunggu reaksimu tiap kuceritakan hal tentang dia. Kau mungkin tak pernah tahu, mengapa aku selalu mengajakmu memanjat atap rumahku kala senja. Kuberitahu, itu hanya agar aku bisa bersamamu, menikmati hal yang paling aku gilai selain dirimu. Ya, aku mencintaimu, sejak pertama melihatmu saat kita masih menjadi mahasiswa baru di kampus. Kau mungkin tak pernah tahu, mengapa selalu dia, ia, dan dirinya yang selalu jadi bahan ceritaku setiap senja. Kini kuberitahu, itu hanya karena aku tak sanggup mengganti “dia” dengan “kamu” karena kutahu ada dia yang menunggumu di sana. Ya, aku mencintaimu, tapi kau sudah punya kekasih hati, yang walau terpisak jarak yang  jauh, aku tau kau sangat mencintainya. Ya, aku jatuh cinta padamu. Sahabat terbaikku. Aku bahkan saat menulis inipun, aku sedang dan terus mencintaimu.

Hanya saat senja aku bisa merasa memilikimu. Bersamamu di atap rumahku, menatap mentari kembali ke peraduannya, adalah saat sakral untukku. Karena aku bisa bersama dua hal yang paling aku gila-gilai di muka bumi. Dan ketika senja berakhir, aku kembali pada kesepian yang membuatku hampir gila karena ditinggalkan kau dan senja.

Hari ini ulangtahunmu. Sudah setahun kau tidak menemaniku memanjat atap rumahku, menatap mentari kembali ke peraduannya. Kini aku sendiri, di atap rumahku. Cerita tentang dia sudah berakhir. Kini kau tau siapa dia, ia, dan dirinya yang sedang dan masih terus kucintai.

Aku menunggu senja.. Duduk sendiri di atas atap rumahku. Memegang kamera poket yang selalu  kubawa ke manapun untuk mengabadikan senja. Hari ini cerah, semoga senja hari ini pun sempurna. Aku menyiapkan kameraku. Menunggu mencuri moment untuk mengabadikan senja di hari ulang tahunmu. Satu, dua, tiga.. Aku terus memotret senja. Mencari view dan angle terbaik untuk mengabadikan senja di hari istimewamu.

Senja berakhir. Sekarang aku punya kado untukmu.

Selamat ulang tahun. Kali ini, aku mengirimimu senja dari atap rumahku. Senja yang hampir setiap hari kunikmati bersamamu. Tapi kali ini, aku menikmatinya sendiri. Semoga kau juga bisa menikmatinya lewat foto ini.

***

Buat Candra Aji yang berulang tahun hari ini..

Semoga selalu dilimpahi rahmat, rezeki, dan kebahagiaan..

Ucapkan semua doa baikmu, dan aku akan meng-amin-i semua doa yang kamu ucapkan..

HAPPY BIRTHDAY  CAN !!😉

photo by anggizoraya

***

side note dari http://berandarumahkoe.wordpress.com/  tertanggal 26 Mei 2010

Senja Biru

 

Kau ingat waktu dulu?

di setiap senja, Kita selalu memanjat atap rumahmu,

menatap mentari kembali ke peraduan,

di senja itu pula kau selalu bercerita tentang hidupmu seharian itu,

hidupmu yang selalu tentang dia, ia, dan dirinya

tentang kau yang sedang dan terus jatuh cinta padanya

#footnote

Anggi Zoraya, Oktober 2011

2 thoughts on “Senja untuk Candra

  1. Anggiiiii….. #spechless

    coretan sederhana setahun lalu, ga nyangka bisa jadi seindah ini olehmu.

    Senja. Untunglah Tuhan tidak menarik bayaran untuk setiap kali aku menikmatinya.
    Kalau iya, bisa teradiksi tanpa obat aku.

    Thanks a lot, Gi. Kadonya aku print ya!😀

    P.S. : Doaku banyak e Gi, aku bukukan lalu kamu bubuhkan amin di setiap halamannya ya :p

  2. met ultah buat Mas Candra yaa. hhe..

    dan sebagai penggila senja pula, rasanya aku dejavu dengan quote singkatku kemarin, yang sempat dikomentari oleh Mas Candra.

    ah, selalu saja aku tertampar oleh tulisan-tulisan di blog ini.
    sampe bingung, sumpah..

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s