Lelaki yang Membawa Bulan

Laki-laki itu telah mengukir kerut yang cukup pada wajahnya, kebijaksanaan yang terbaca. Pada langit, ia tengadah. Aku melihat bulan pada genangan kedua bola matanya, istimewa.

Oh, apakah kamu tidak tahu? Bulan pernah hilang dari negeri kami. Setelah matahari tenggelam, kegelapan datang membutakan. Udara malam seperti bisa membekukan. Kami sempat hilang arah ketika itu. Tidak tahu tujuan perjalanan, berjalan tanpa penglihatan sambil mempertahankan hangat tubuh yang sisa-sisa, kami tak bisa menghindar untuk tidak bertabrakan. Dan tak ada uluran tangan pada yang dipaksa kalah oleh kebutaan. Kami tak sempat memikirkan orang lain yang lebih dulu penting adalah keselamatan diri sendiri. Tentu tak bisa disalahkan, tak ada yang mau tersesat dalam kebingungan.

Kehilangan bulan, kehilangan penerang kami.

Bermasa-masa lewat kami berkumpul, bertukar pikiran dan pembicaraan, mencari cara mengembalikan bulan pada tempatnya. Tetapi bagaimana bisa mengembalikan bila kami tak tahu di mana harus menemukan bulan yang hilang itu.

Sampai seseorang membawa sumber api. Sejenak kami lupa butuh bulan. Kami punya api. Namun rupanya sesuatu terlupa oleh kami; bahwa api membakar. Tiba-tiba sumber api menjadi rebutan. Tiba-tiba setiap dari kami seolah tak puas dengan catunya masing-masing. Kurang terang! Kurang lama! Kurang banyak! Kurang hangat! Teriak kami. Semua orang ingin menguasai api. Kami lupa, api membakar. Dan negeri ini hangus dibakar api yang tadinya kami kuasai.

Hingga kami terpenjara di rumah-rumah yang sebagian hangus itu selepas matahari benar-benar tak menyisakan cahaya lagi. Tak ada yang berani keluar. Biar dimakan kegilaan berdiam diri dalam gelap di dalam rumah saja daripada menanggung resiko tersesat, ditabrak, atau mati menggigil dalam gelap. Dan kehidupan kami berjalan pincang.

Kami putus asa. Kami kehilangan bulan.

Lalu, lelaki dengan kerut yang cukup di wajahnya itu datang. Ia tak datang sendiri, di belakangnya bulan turut mengikuti. Berbondong-bondong dari segala sudut negeri, kami mendatanginya. Lelaki yang membawa bulan. Pertama-tama, ia hanya mendengarkan segala sambat, keluh kesah, derita kami. Hanya mendengarkan ratapan, tuntutan, kebingungan kami. Meski semua orang seperti berbicara dalam paduan suara yang rusak tanpa ada yang mau mengalah untuk diam sejenak, ia tampaknya mendengar seluruh suara dari tiap-tiap kami. Kemudian, ia menjawab semuanya, semuanya. Dengan ketenangan yang sulit dibandingi, ia memberikan jawaban yang menenangkan. Akhir dari perkumpulan yang ganjil itu, ia berkata; “Bulan selalu ada, ia tak pernah hilang seperti yang kalian kira. Kegelapan ini ciptaan kalian sendiri. Lalu kalianlah yang bisa mengembalikan penerang malam lagi.” Kami pulang ke rumah masing-masing sementara ia tetap di sana, dengan bulan yang turut di belakangnya.

“Kamu mengerti sekarang, anakku?” Tanya lelaki itu mengaburkan kenanganku. Aku masih menatap bulan pada genangan kedua bola matanya. Aku mengangguk.

***

Catatan: Bulan memberi penerangan saat gelap dengan cahaya yang sejuk dan tidak menyilaukan” Pemimpin berwatak bulan memberi kesempatan di kala gelap, memberi kehangatan di kala susah, memberi solusi saat masalah dan menjadi penengah di tengah konflik.

Dari buku Ramayana karya Yasadipura I (1729-1803 M) di keraton Surakarta mengenai “Hasta Brata” – etika kepemimpinan dalam masyarakat Jawa-

Untuk Candra Aji, yang namanya menggambarkan wataknya. Selamat merayakan hari kelahiran, Candra!

 

Amalia Achmad, Oktober 2011

2 thoughts on “Lelaki yang Membawa Bulan

  1. Amaaalll.. Double Thanks!🙂

    Dulu waktu SMP, ada pelajaran mulok Bahasa Jawa. Tentang arti sebuah nama.
    Dari sekian nama dari teman-teman sekelas, aku adalah salah satu yang dipanggil untuk mengartikan namaku di depan kelas.

    Candra artinya bulan. Aji artinya kekuatan. Mengingatkan kita dengan salah satu tokoh kartun Jepang ya? Dengan kekuatan bulan akan menghukummu.

    Tapi di sini, aku menemukan bahwa ternyata kekuatan bulan yang diharapkan orang tuaku saat memberi nama bukanlah untuk menghukum, melainkan untuk menjadi salah satu dari “Hasta Brata” yg kamu uraikan di atas. Semoga aku bisa mengemban amanah namaku ini.

    Mohon tegurannya saat aku salah, dan marahi aku bila aku marah atas teguranmu. Karena aku tak bisa melihat apa yang kamu lihat di diriku. Aku buta saat melihat diriku, maka aku butuh kamu sebagai cermin atas salahku.

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s