Kabar dari Kampung Kami

Aku tinggal di mana kau harus berjalan kaki setidaknya lima belas kilometer jauhnya untuk melihat jalan mulus teraspal. Di perjalanan itu kau, mau tak mau, harus menyebrang sungai setinggi dada airnya, juga merelakan kaki telanjangmu gatal dihampiri rumput liar sepanjang jalan tanah liat setapak yang membelah kebun-kebun lada. Kadang kau akan bertemu anjing-anjing liar yang tersesat di dalam kebun hingga kelaparan, kau harus bersiap, untuk lari atau sembunyi di atas pohon lamtoro, tempat merambatnya lada. Itu belum seberapa, kakekku bilang sewaktu ia seusiaku, beruang yang kerap menghampiri. Sayang, kini tak lagi bisa kau temui beruang hutan di sini. Jika lelah, kau bisa singgah di dangau-dangau yang sengaja didirikan para petani lada, kadang kau bisa saja jumpa dengan mereka. Beruntunglah jika di dangau itu ada penghuninya, kau akan ditawari makan singkong bakar dan minum teh pahit dari teko kaleng mereka, jangan kau tolak, ya. Oh ya, tak perlu memakai sepatu yang bagus atau baju licin habis disetrika karena akan sia-sia ketika kau terjun ke dalam sungai dan belepotan tanah liat nanti. Nah, sekolahku kira-kira sepuluh kilometer lagi dari ujung jalan setapak tempat bertemunya tanah liat basah dan aspal keras itu. Nanti, kalau ada kendaraan lewat aku bisa menumpang sampai sekolah, jika tidak ya tinggal lanjut berjalan saja.

Aku duduk di tangga kayu rumah panggung itu, mendengarkan baik-baik cerita penghuninya, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun. Kampung ini kecil, aku bisa mengitari keseluruhannya bahkan sebelum ia selesai bicara. Hanya ada tujuh rumah panggung, sebuah langgar dan balai pertemuan dengan jarak yang dekat-dekat saja satu sama lain. Mengelilingi kampung ini, hutan dan kebun lada lebat menaungi. Bau sangit terbakar, sisa-sisa hangusnya hutan masih mengepung di udara.

Dulu, sebelum hutan terbakar, Ibu Guru rajin mengunjungi kami. Aku tak perlu susah-susah berjalan. Tapi sejak bapak-bapak bersenjata senapan itu datang, Ibu Guru takut kemari. Ia tak mau mengatakan sebabnya tapi yang kutebak, bapak-bapak bersenjata itu mengancamnya atau ia pernah terjebak dalam kebakaran. Oh, aku pernah merasakan itu, terjebak dalam kebakaran hutan. Bapak-bapak itu membicarakan tentang membuka lahan, tentang para petani lada yang tidak mau tanahnya ditukar uang, tentang membakar hutan. Ya, aku tahu, hutan tak dengan sendirinya terbakar. Aku tahu mereka penyebabnya.

Tenang, aku ada di sini.

Kau bisa apa? Bapak-bapak itu bersenjata!

Tenang, aku pun bersenjata. Ini senjataku.

Aku mengeluarkan kamera, mengabadikan anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu di depan rumah panggungnya. Pembukaan lahan paksa dengan cara membakar hutan yang membahayakan hidup banyak orang ini harus dikabarkan. Ia tersenyum, subjek fotoku, kulihat kejernihan pikiran di sinar matanya. Tenang, aku ada di sini.

***

Empat tahun setelah hari itu, surat itu sampai di mejaku. Isinya pendek saja namun berhasil membawa genangan pada mataku. Bertahun kuperjuangkan cerita ini agar semua orang tahu bahwa dalam jarak enam jam perjalanan menggunakan mobil dari rumah-rumah nyaman mereka, ada manusia yang sedang dijajah kesewenang-wenangan.

Bang, terimakasih. Sekarang di atas sungai ada jembatan dari beton yang lebar dan kuat, juga tanah liat di jalan yang membelah kebun-kebun lada berganti aspal yang mulus. Kendaraan umum bisa masuk sampai pinggir kampung, aku tak perlu berjalan terlalu jauh. Oh ya, bapak-bapak bersenjata itu sudah pergi dan Ayahku kini sedang mengurus surat-surat kepemilikan tanah kami. Ibu Guru bilang, surat kabar nasional memberitakan kampung kecil tempatku tinggal ini. Ia bahkan menunjukkan surat kabar itu di kelas tadi, ada fotoku di sana. Rasanya aneh karena aku sudah tak lagi begitu mirip dengan anak laki-laki di foto itu, sudah empat tahun. Senjatamu memang tak ada bandingannya Bang, bahkan senapan pun tunduk. Kelak, aku berharap bisa menyandangnya di bahuku, seperti kau menyandangnya di bahumu. Sekali lagi, terimakasih Abang Danu.

***

Untuk Danu Saputra yang sedang merayakan hari kelahirannya. Selamat!

Amalia Achmad, September 2011

One thought on “Kabar dari Kampung Kami

  1. Jadi ingat senjata DSlR pertamanya danu😀 goodjob dan, semoga sukses slalu dg senjata itu, tunjukkan foto dapat lebih berbicara🙂
    @amalia : ceritanya keren, asli?

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s