Ditinggalkan Itu Tidaklah Menyakitkan

Aku duduk di sudut ruangan di lantai dua dekat dengan jendela. Dua gelas coklat panas ada di atas meja. Ini tempat favorit kita, melihat jalan di luar halaman cafe, menikmati pemandangan kendaraan yang lalu lalang sambil menyesap minuman kesukaan kita, coklat panas.

Temui aku di tempat biasa jangan kau terlambat waktuku tak banyak..

Sayang, kamu dengar kan lagu ini? Bahkan band cafe ini pun seperti sedang mengejekku yang sendiri di sini. Kamu cepatlah datang, jangan biarkan personil band cafe ini tersenyum senang karena merasa menang.

Sial. Hujan tiba-tiba turun.

Sayang, kamu dengar kan tetes-tetes hujan itu? Mereka seperti sedang bernyanyi, riuh bersahutan di dalam ruang kesepianku. Aku juga ingin bersuara, aku tak ingin kalah. Tapi sayang, aku tak punya teman bicara. Kamu cepatlah datang, aku ingin kita berbalas suara, kalahkan nyanyian hujan .

Butiran-butiran kecil air hujan membasahi mejaku. Angin yang membawanya.

Sayang, kamu bisa merasakan hawa dingin ini? Kurang ajar memang angin malam, dia tak mau kalah ikut menggangguku. Kamu cepatlah datang, aku ingin sebuah pelukan, kita taklukkan kedinginan.

Mobil-mobil berhenti di parkiran.

Sayang, bukan kamu yang kulihat turun berlarian sambil menutup kepalanya dengan tangan, keluar dari mobil-mobil itu menuju tempat ini. Orang-orang yang tak kukenal.

Dua gelas coklat panas yang tak lagi panas.

Sayang, pelayan sudah datang memberikan bill-nya. Cafe ini akan segera tutup. Dua gelas coklat panas yang tak lagi panas belum tersentuh. Kamu tak datang.

Jarum jam telah melewati angka 12.

Sayang, hari telah berganti. Sudah hampir tiap hari aku datang ke sini semenjak hari itu. Sebulan yang lalu, kau bilang tak lagi bisa bersamaku. Kemudian tak pernah lagi kulihat dirimu. Kau meninggalkanku.

Sayang, kamu ingat? Bukankah aku tak menangis saat perpisahan itu, saat ku melihatmu untuk terakhir kalinya. Aku menangis sehari setelahnya, kemudian setelahnya, dan setelahnya lagi, saat aku tak bisa melihatmu lagi, hingga hari ini.

Sayang, kamu tahu? Ditinggalkan itu tidaklah menyakitkan. Harapan untuk tetap bersama, itu yg menyakitkan.

Suryawan Wahyu Prasetyo, September 2011

Ditulis untuk hari istimewa teman seorang Danu, terinspirasi oleh tweet @danusaputra_ 17 September 2011 19:27 >> “Ditinggalkan itu tidaklah menyakitkan. Harapan untuk tetap bersama, itu yg menyakitkan. Sesungguhnya.”

2 thoughts on “Ditinggalkan Itu Tidaklah Menyakitkan

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s