Akhir 31 di Lantai 31

Layar monitor PC-ku masih menyala. Secangkir kopi, bukan kopi hitam, menemani malamku. Baru saja senja berlalu dari pandanganku. Ya, ini senja terakhir di tahun 2009. Kalender di meja kerjaku masih memajang kalender 2009. Aku belum punya kalender tahun 2010, padahal 2010 hanya tersisa beberapa jam lagi.

Kulirik jam dinding di sudut ruang. Masih pukul 22.25 WIB. Tugas aku belum selesai dan masih lama menuju pukul 24.00 WIB. Aku kembali menekuni dokumen dengan PC-ku.

Suara televisi di sudut kantor sedari tadi menyuarakan lagu Gugur Bunga dan Innalilahi-nya Bimbo. Seolah mengingatkanku bahwa ajal bisa menjemputmu kapan saja. Ya, bila ada awards top hits akhir tahun, kurasa dua lagu tadi akan menjadi pemenangnya. Sedari kemarin Indonesia memang berkabung atas meninggalnya Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid aka Gus Dur. Tak apalah, yang penting ruangan ini tidak sepi, batinku.

Last sunset 2009, dari lantai 31

Cukup gila memang bila mengingat ini adalah penghujung tahun 2009. Di luar sana arak-arakan motor atau suara-suara terompet tahun baru mulai terdengar riuh. Padahal waktu belum menunjukkan pergantian hari.

“Belom pulang?”

“Belum.” Aku menjawab singkat.

“Kok?”

“Kok??” Aku bertanya balik.

“Ya, maksudku kok belum pulang?”

Pertanyaan yang membingungkan dan berulang-ulang, pemakaian kata yang tidak efektif.

“Ya emang belum waktuku pulang.”

“Ow, sama donk.”

“Ow gitu?”

“Iya, masih hujan.”

“Itu bukan alasan sama denganku.”

“Ya, at least aku masih belum pulang juga.”

“Terserah deh.”

Lalu aku kembali meneruskan pekerjaanku. Beberapa dokumen ini sebenarnya tidak terlalu banyak jumlahnya dan ini bukan hal yang baru bagiku. Tapi entah malam ini waktu terasa berjalan terseret-seret bagiku.

“Uda makan?” Dia bertanya lagi.

“Belum.”

“Ow, sama donk.”

“Oo..” Aku mengernyitkan dahi, tak banyak berkomentar.

“Tanya donk kenapa.”

“Kenapa?” Jawabku sekenanya.

“Nungguin kamu biar bisa makan bareng.”

“Oo…” Aku tak meneruskan kalimat tanggungku.

“Kamu nggak tahun baruan?”

“Enggak.”

“Kenapa?” Tanyanya

“Nggak penting.”

“Masih lama?”

“Apanya?” Tanyaku

“Kamu, masih lama nggak di situ.”

“Masih.”

“Aku tungguin kamu deh.”

“Nggak usah.”

“Kenapa?”

“Ya nggak usah aja.” Jawabku malas.

“Kok gitu?”

“Gitu gimana? Uda ya, aku off dulu.” Aku gerah meladeni pertanyaannya yang tidak penting sedari tadi. Mungkin dia berusaha mencari tahu tentang kondisiku saja. Ah entahlah.

Aku segera me-log out akunku. Aku tak mau terusik, dan kembali berkutat dengan dokumen. Tak terasa, kulihat jam sudah memasuki menit ke 31 dari angka 11. Sebentar lagi tanggal 31 akan habis. Aku berkemas. Memindahkan semua barangku yang tergeletak di atas meja kedalam tas. Tak lupa aku membenahkan posisi pigura yang berisi foto tepat di sebelah kalender 2009ku. Ya,seperti hatiku. Kali ini aku sedang menata hati. Terlebih jelang tahun yang akan berganti. Aku siap pulang, meninggalkan lantai 31 tempatku bekerja.

1 Message Received

Aku uda dibawah, kutunggu ya.

Ini akhir tahun, tapi aku justru akan memulai hal baru. Ya, dengan dia yang mengirimkan pesan singkat. Bukan dengan dia yang mengajakku chatting.

***

Galuh Parantri, Desember 2009

Galuh Parantri adalah penulis tamu pertama di Kopi Manis Tanpa Gula.

Perempuan sederhana lulusan Arsitektur yang bekerja di media online ini adalah seorang #Hermesian, penggiat komunitas penulis The Hermes.

Prinsipnya: apapun, yang penting punya hati.

Mention @galoeh11 atau kunjungi galoeh11.blogspot.com

8 thoughts on “Akhir 31 di Lantai 31

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s