Merindumu

Mailbox. Sudah beberapa hari ini, handphone-mu sulit kuhubungi.

“Maaf Ai, aku lagi ada meeting tadi di kantor. Sudah beberapa hari ini, aku sibuk dengan project ini. Nanti kalau kosong, aku telepon kamu.”

Tuuut…. Telepon terputus.

***

Dua tahun sudah kau tinggal di sana, Jakarta. Tempat semua jenis manusia bermuara. Sejak panggilan kerja di salah satu perusahaan event organizer itu menyapa. Kau lebih memilihnya daripadaku.

“Kita pasti bisa melaluinya,” ucapmu penuh kesungguhan.

“Aku sudah bosan bertarung dengan jarak, Gre. Kita sudah pernah merasakannya dulu, dan kau pun tahu itu sangat menyiksa.”

LDR. Tak ada yang salah dengan jenis hubungan ini. Banyak pasangan terpaksa menjalaninya karena berbagai hal, terutama karena pekerjaan. Dan kau adalah salah satu darinya.

“Aku janji ini tak akan lama. Aku ingin belajar di sana, setelah cukup aku akan keluar dan mendirikan usaha sendiri. Aku bosan jadi karyawan, Ai,” janjimu suatu waktu di masa itu.

Aku mengerti obsesimu menjadi pengusaha. Kamu bertekad untuk tidak menjadi karyawan, setelah kejadian itu. Orangtuamu bercerai. Ibumu pergi dengan lelaki lain, sementara ayahmu di tengah samudra mengebor minyak bumi demi dollar yang dikirimkan pada keluarga.

“Aku ingin punya keluarga yang utuh, Ai. Aku ingin anakku mengenalku, dekat. Aku ingin berlibur bersamamu dan anak kita kapanpun aku mau. Tanpa gangguan pimpinan ataupun klien.”

Atas nama keluarga kita kelak, aku merelakanmu. Mewujudkan mimpi kita, kebersamaan tanpa jeda.

***

Telepon yang anda tuju sedang sibuk..

Belakangan ini, suara itu lebih sering terdengar daripada suaramu. Cerita yang sudah aku persiapkan untuk kubagi denganmu, semangat, rasa rindu, bayangan dirimu tiba-tiba meredup hilang saat mendengar suara perempuan itu yang menjawab teleponku, bukan kamu.

“Sudah dua tahun kamu belajar di sana, belum cukupkah?”

“Masih banyak yang harus aku pelajari di sini, Ai. Bekalku belum cukup untuk memulai mimpi. Mungkin setahun lagi aku baru bisa keluar kerja.”

Aku bosan dengan janjimu. Kau mengucapkan hal yang sama setahun lalu, dan tahun ini pun kamu belum kembali.

***

“Kapan kamu menikah, Rin?” Pertanyaan menusuk itu terdengar lagi dari ibuku. Aku hanya tersenyum.

“Doanya saja ya, Bun.”

Aku mengerti kegundahan bundaku. Usiaku tak muda lagi, 26 tahun. Dan aku butuh seorang suami, bukan sekedar tunangan.

***

Aku membuka profil facebook-mu. Di sana baru saja ada upload foto baru di wall-mu. Seperti sebuah acara gathering perusahaan. Aku melihat satu per satu foto-foto itu, aku mencermati sosokmu.

Hey, siapa perempuan ini..

Ada perempuan sunda dengan rambut sebahu di sebelahmu, berwajah manja dengan tangannya menyimpul erat di lenganmu.

Aku langsung menutup foto itu, wall-mu, lalu sign out. Aku tinggalkan laptopku yg masih menyala di meja untuk menuju ke wastafel, mencuci muka, meredam emosi yang datang tiba-tiba.

“Kita takkan kesulitan, Ai. Teknologi memudahkan kita, kamu bisa menghubungiku kapanpun kamu mau, kamu bisa telpon aku saat kangen aku, melihat kondisiku dari jejaring sosial, kau bisa BBM aku kapanpun kamu mau. Teknologi memudahkan kita.”

Teknologi memudahkan kita. Kau menggunakan teknologi untuk melunakkan hatiku. Ya, teknologi memang memudahkan kita untuk mengakali jarak hati. Namun teknologi juga lah yang dengan mudah meremukkan hatiku. Aku tahu kamu bisa menjelaskan apapun keadaan yang aku lihat, tapi bukankah hati ini sudah terlanjur sakit dibuatnya?

***

From : Airinda < airinda@gmail.com >
To : Gredika < gredika@gmail.com >
Subject : Pulang

Aku ga bisa kayak gini terus, Gre. Jarak ini membunuhku. Setiap hari aku bangun, setiap hari pula kecemasan menggelayutiku. Aku dituntut siap dengan semua kejutan darimu. kejutan yang mungkin tidak kau sengaja, namun amat dalam meninggalkan luka. fb dan twitter-mu, mereka semakin memperburuk hatiku. Aku butuh sesuatu yang nyata, yang bisa aku sentuh, yang bisa aku peluk, yang bisa aku bersandar secara fisik di sana.

 Aku butuh kamu pulang.

 [ send ]

* ** 

 Kriiinnggg…

Dengan malas, aku lirik layar ponselku. Gredika, namamu terpampang di sana.

“Ya Gre?”

“Soal email-mu. Bukankah kita sudah sering membahasnya?”

“Memang, dan selalu berakhir dengan kebuntuan, bukan?”

“Ayolah, Ai. Aku baru pulang kerja, aku capek. Aku ga mau berdebat lagi soal ini.”

Dead air.

“Bunda menanyakanmu. Menanyakan kita, hubungan kita.”

” …. ”

” …. ”

“Aku akan melamarmu, Ai. Tapi ga sekarang, perjalananku masih panjang di sini.”

“Aku sudah menduga jawabanmu itu, selalu sama.”

 Tak ada lagi perbincangan berarti, aku butuh waktu sendiri.

*** 

Cling..

Blackberry-ku berbunyi nyaring saat aku sampai di rakaat kedua shalat malamku, aku lupa mematikan suaranya. Kemesraanku dengan Tuhan selesai sudah, konsentrasiku buyar seketika. Entah kenapa, aku langsung berpikir kaulah tersangka utamanya, Gre.

Benar saja, Gredika.  Tak biasanya kau BBM aku selarut ini.

G: Ai, aku ingin meminta izinmu
A: Izin apa?
G: Besok aku ada tugas survey lokasi ke pelosok desa di Bandung
A: Lalu, kenapa kali ini harus ijin?
G: Karna aku survey berdua, dengan Cece rekan sedivisiku

Aku terhenyak. Cece Padmadinata, gadis sunda yang menyimpulkan tangannya erat di lenganmu. Kau cerita sekilas tentangnya dulu, saat aku bertanya tentang foto mesra itu.

typing..  hilang
typing..
hilang
typing..
send! 

A: ya, jaga diri dan hati ya🙂
G: Terima kasih,  Ai

Hatiku tak terima sebenarnya. Tapi aku tak boleh memenangkan rasa cemburuku. Aku memilih percaya padamu, lelakiku.

***

@gredika: @tjetje aku jemput jam 5, selepas kantor ya #surveylokasi

Tweet-mu layaknya lampu kuning traffic light di hatiku. Sinyal waspada, akan semua ‘kejutan’ setelahnya.

Aku tak kuasa menahan jemariku. Aku klik view conversation.

@gredika: @tjetje aku jemput jam 5, selepas kantor ya #surveylokasi – in reply to tjetje
@tjetje: @gredika ntar berangkat jam berapa, Gre? #surveylokasi – in reply to gredika
@gredika
persiapan survey ke Bandung

Lega, setidaknya bukan Gre yang menyapa cewek sunda itu duluan.

Hatiku masih belum puas, tanganku mengarahkan kursor ke profil Cece, lalu aku klik follow.

Sial! Aku tak bisa menahan diri. Jarak ini membuat insting suudhon-ku semakin tinggi. Kini aku resmi jadi pacar posesif. Aku jadi ingin tahu setiap detail apapun yang mereka lakukan.

***

Jumat malam. Aku habiskan malamku dengan mengaji di masjid sebelah rumah. Aku butuh Tuhan lebih daripada aku butuh kamu saat ini. Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku tak ingin sayangku padamu melebihi sayangku pada-Nya.

Bismillaahirrahmaanirrahiiim – dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Aku kosongkan pikiranku darimu, aku ingin bermesraan dengan penciptaku. Semua adalah titipan, pun hatiku padamu tak akan selamanya. Aku tak mau diperbudak olehnya.

Ayat demi ayat aku lantunkan dengan hati, kucermati setiap arti dan aku resapi setiap cerita yang terurai di dalamnya. Dan aku sampai pada satu ayat dari surat An-Nahl, ayat 72:

“Dan Allah telah menjadikan jodoh-jodoh kamu sekalian dari jenismu sendiri, lalu menjadikan anak-anak dan cucu bagi kamu dari jodoh-jodohmu.”

Aku terdiam, mataku menghangat. Bulir bening air mata, mengalir tiba-tiba. Aku tak kuasa menahannya.

Aku kembali teringat padamu. Gredika, tunanganku. Dan aku berharap kaupun adalah jodohku kelak.

Aku melirik jam lantai di sudut masjid. Gerakan pendulumnya seolah bicara padaku. Waktumu mulai habis. Usiamu menua, kau harus bergegas, Airinda!

Kuseka air mata yang berurai. Aku rapikan mukena, Al-Qur’an dan sajadahku. Lalu beranjak melangkah keluar masjid, menuju rumah menghadapi kenyataan.

Sampai rumah, aku cium tangan bunda lalu memeluknya erat.

“Kamu kenapa, Rin?”

“Rinda nggak apa-apa, Bun,” aku membalas keheranan bunda dengan senyum simpul. Hatiku sedikit lebih tenang sekarang.

Aku beranjak ke kamar. Ingin segera mengambil blackberry, dan berkirim kabar padamu.

Lampu merah kedip-kedip di blackberry-ku. Ada 8 panggilan tak terjawab. Gredika.

Tuutt.. Tuuutt.. Aku telepon balik nomermu. Satu kali, dua kali, tiga kali, semuanya nihil, hanya mailbox yang terdengar di ujung sana.

Aku panik. Aku BBM, SMS pun, semua tak berbalas.

Usaha terakhir, aku buka timeline twitter-mu untuk mengetahui kondisi terakhirmu.

@gredika: @tjetje terima kasih #FF nya🙂 – in reply to tjetje

view conversation

@gredika: @tjetje terima kasih #FF nya🙂 – in reply to tjetje
@tjetje: #FF @gredika pendengar yang setia, sosok yang perhatian dan pribadi yang penuh kharisma. selalu menghadirkan kehangatan dalam setiap keadaan.

Aku lempar Blackberry-ku sembarangan, lalu membanting diri di kasur. Dadaku terasa sesak tiba-tiba.

Aku hujamkan mukaku ke bantal, lalu berteriak sekuat tenaga. Bukan suara yang keluar, hanya air mata yang kembali membanjiri. Tuhan, aku tak sanggup.

*** 

Aku butuh kau pulang, Gre.

[send]

SMS, BBM, DM, email, message facebook. Aku kirim sebaris kalimat itu lewat semua teknologi yang menghubungkanku padamu. Lewat mereka yang kaubilang sebagai penyingkat jarak hati kita.

Sehari kemudian – 08/10/2010
Pagi hari..

Pesan balasan atau telepon yang kuharapkan tak ada. Aku semakin gelisah. Tidak biasanya kau mengabaikan kegundahanku seperti sekarang ini.

Malam harinya..
Tak ada juga kabar darimu. Pikiran macam-macam sudah menggelayutiku erat. Biasanya saat-saat seperti ini, kau memberi kabar, menjelaskan keadaanmu sebenarnya.

Apa kau terlalu sibuk di Bandung? Ah, masa iya sesibuk itu sampai tak sempat kaubalas sebaris kalimatku itu?

@tjetje: dia sungguh romantis #nomention

Glek. Inikah jawaban dari pesan tak berbalasku?

*** 

Dua hari kemudian.. – 09/10/2010

Maaf banget, Ai. Seharian ini aku sibuk banget ngurus ijin sana-sini untuk acara klien. Semalem aku telpon kamu tapi mailbox. Aku kehabisan pulsa reguler. Aku cuma bisa balas sms sekarang. Lusa, aku akan pulang, Ai.
08/10/2010 11:45 PM via sms

Problem jaringan memang force major dalam LDR, SMS-mu pending satu hari. Dan itu sudah cukup membuatku berpikiran ngelantur ke mana-mana. Ah, aku sudah berdosa telah su’udzon padamu.

Lalu kicauan twitter Cece kemarin?

***

@detikcom: Kecelakaan Minibus di Jalur Selatan, Pengemudi diduga mengantuk de.tk/nE2tj

Tanganku tergerak begitu saja untuk membuka link di belakang.

Mengantuk, Minibus Ringsek di Jalur Selatan
Pagi hari ini, warga dikejutkan dengan kecelakaan tunggal sebuah minibus. Diduga mengantuk, sebuah minibus dengan nomor polisi AB 9123 GH menabrak pembatas jalan di jalur selatan, kota Purwokerto…

Keringat dingin keluar dari keningku. Sesuatu mrembes mili seketika, terasa hangat di mataku. AB 9123 GH, aku hafal betul plat mobilmu.

Aku telepon handphone-mu, mailbox. Aku tak menyerah, aku telepon kantormu, mereka belum tahu keadaanmu.

“Kenapa kamu, Nda?” tanya bunda yang memergoki linangan air mataku.

“Gre.. Bunda. Mobilnya kecelakaan di Purwokerto pagi ini.”

Beberapa saat kemudian, datang telepon dari ayah Gre. Beliau baru saja mendapat kabar dari Kepolisian Lalu Lintas Purwokerto tentang kecelakaan naas itu. Beliau mengajakku ke Purwokerto, Rumah Sakit Soepomo.

                                                            ***

Aku melihatmu di sana. Seperti tertidur, berselimut putih sampai ke dada. Cairan merah kental masih belum kering di kening kirimu. Kau di sana, menutup mata, terbujur kaku, tak bernyawa. 

Innalilahi Wa Innailaihi Roji’un

Aku serasa bermimpi, tak percaya apa yang aku lihat sekarang. Masih hangat dalam ingatanku, penggalan SMS-mu yang terakhir.

Lusa aku akan pulang, Ai..

Iya, kau menepati janjimu. Kau pulang. Namun bukan kepadaku, melainkan kepada-Nya, haribaan Sang Khalik.

Sungguh, aku mencoba ikhlas, Gre. Aku sangat merindumu. Namun mungkin Tuhan merindumu lebih daripadaku. Dan di sinilah, Dia memanggilmu, untuk Pulang.

                                                                 ***

Dari dalam mobil ditemukan sebuket bunga mawar putih, dengan selembar ucapan tulisan tangan di sana:

“10/10/2010
Happy 3th Anniversary, Airinda.
Terima kasih atas perhatian dan kasih sayangmu tiga tahun ini.
Maaf sering membuatmu cemas.

Love you as always,
Gredika”

Gredika Ananda. Kau bahkan masih menyajikan keindahan untukku di saat terakhirmu.

“Love you too, Gre..” . Aku seperti merasakan kehadiranmu di sampingku.

 

Candra Aji, September 2011

16 thoughts on “Merindumu

  1. ngak sadar sampai ikutan meresapi isi ceritanya, dalem banget.
    pernah sebuah kebetulan pulang ini mirip dengan cerita seorang kawan tentang temannya berpulang memberikan isyarat “kepulangan”nya, dan LDRnya hmm, mirip, mirip dg… ah sudahlah….
    Nice post, two thumbs up🙂

  2. makasih Arull🙂

    Ya ampun, Turut berduka ya, Arul. Wah, jadi bikin Arul sedih ni.
    Semua akan berpulang kan, cuma cara dan waktunya yang kita nggak tau.
    semoga teman dari kawannya Arul diberikan tempat terbaik oleh Tuhan ya. Amin :’)

  3. candra aji???pernah denger nama dri seorng tman tpi tak thu rupa
    baca tulisanmu dan komentarnya,,,,
    keren,,,krena dikutin dgn pendlaman terlebih dhlu..

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s