Aku Takut Pulang

Siapa bilang pulang selalu menyenangkan?

Beberapa hari ini perasaanku tidak enak. Pikiranku kalut. Cemas. Aku takut.

Belakangan aku harus sering menoleh ke belakang tiba-tiba. Perasaanku mengatakan ada yang terus mengawasiku. Menguntitku kemana pun aku pergi. Bahkan ketika aku sendiri duduk di toilet, perasaan seperti itu justru kerap kali muncul. Namun, tiap kali menoleh, tak kutemukan siapa-siapa, kosong. Sejenak aku lega, tapi hanya sesaat saja. Ketakutan, kecemasan itu tak hilang begitu saja, sering datang tanpa terduga-duga.

Aku takut pulang. Aku takut sendirian. Akhirnya keramaian yang kujadikan pelarian. Hampir seluruh waktuku dalam sehari habis di keramaian. Coffee Shop, mall, bioskop, apa pun itu. Aku tak mau sejenak pun sendirian. Aku tak mau ketakutan ini menang, menemukanku dan menyiksaku. Nyatanya tidak, aku kalah. Rasa takut ini menemukanku, menderaku.

Semakin lama semakin menyiksa. Ketakutan ini mulai menunjukkan wujudnya.

“Kamu harus pulang..”

Suara asing yang terdengar. Melengking berulang-ulang, mendengung di gendang telingaku. Bahkan meski telah kututup kedua telingaku dengan tangan, suara itu tetap ada, tak juga hilang.

“Apa kaudengar suara itu?”

Pertanyaan yang sering kutanyakan pada mereka. Teman kantor, supir taksi, pelayan restoran, hingga orang yang tak kukenal di barisan antrian tiket bioskop, semuanya menggeleng. Memandangku dengan pandangan aneh. Bahkan mungkin teman-teman kantorku mulai berpikir aku sudah tidak waras.

Aku lelah berada dalam situasi seperti ini. Detak jantungku berdebar kencang. Nafasku sesak. Tanganku gemetar dan kakiku lemas. Seolah aku sudah tak punya tenaga untuk melarikan diri.

Seperti biasanya, jarum jam mengarah ke angka 3, pagi buta. Di waktu seperti inilah aku berani pulang. Masuk ke kamar dengan kelelahan yang tersisa setelah pelarianku seharian. Harapanku lelah menyelamatkanku dalam tidurku. Kemudian beberapa jam kemudian aku terbangun, siap untuk melarikan diri lagi.

Satu menit, dua menit, hingga enam puluh menit kemudian aku masih melihat jam dinding. Mengawasi gerakan jarum tiap detiknya. Sial, kenapa aku belum bisa tidur?

“Kamu harus pulang..”

Lagi-lagi suara itu. Jantungku seolah tak mampu lagi berdetak karena sudah dipaksa berdetak sangat hebat. Kuamatii sekelilingku. Seperti biasa. Kosong.

“Kamu harus pulang..”

“Hentikaaaaann..” aku berteriak. Kututup kedua telingaku.

“SUDAH SAATNYA KAMU PULANG!” kali ini suara yang terdengar semakin keras. Menggelegar, memekakkan telingaku. Kemudian telingaku berdengung hebat. Mungkin gendang telingaku pecah. Mungkin aku tuli.

Ketakutan ini punya wujud.

Bisa dibayangkan bagaimana hebatnya rasa takutku? Makhluk ini besar, mengawang di hadapanku dengan kedua sayap kokohnya yang mengembang. Dia memiliki empat wajah. satu di muka, sementara ketiga wajah yang lain di kepala, punggung dan telapak kakinya. Dari kepala hingga kedua telapak kakinya berbulu hitam. Di tiap bulu itu seolah kumelihat jutaan wajah dengan jutaan mata. Aku takut.

“Sia-pa-ka-mu..”

Entah dia bisa mendengar apa yang kuucapkan barusan atau tidak. Aku sendiri pun tak bisa mendengar suaraku sendiri. Lirih.

“Aku adalah yang kautakutkan. Aku kematian..”

Suryawan Wahyu Prasetyo, September 2011

2 thoughts on “Aku Takut Pulang

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s