Kepulangan yang Kutunggu

Akhirnya hari ini datang juga. Suamiku menerima pesan dari wanita yang ia tunggu. Tiga tahun sudah ia gelisah.

***

Hari pernikahan, akhirnya. Melihatnya datang bersama rombongan keluarga besar, aku mengintip dari balik tirai kamar. Tak ada debar berlebih di jantungku. Hanya sedikit cemas, kalau-kalau semua tak berjalan sesuai rencana. Sisanya, kunikmati saja.

Kami memutuskan untuk menikah 3 bulan lalu. Cukup singkat persiapan yang dilakukan. Tapi itu tak masalah. Toh pernikahan kami juga entah akan berujung ke mana. Bukan pesimis atau skeptis, tapi memang perjanjian kami berbunyi seperti itu.

“Udahlah, gini aja, kita nikah, nanti begitu ada kesempatan kamu buat bersama perempuan itu, ceraikan saja aku. Pokoknya kita nikah buat membungkam mulut orang-orang itu. Aku capek juga dikejar-kejar terus, sementara aku masih belum bisa menerima kematian Henri,” aku tak percaya kalimat-kalimat itu keluar dari mulutku.

“Baiklah kalau itu kesepakatannya. Simbiosis mutualisme, aku pun butuh pegangan setelah semua kejadian ini. Melihatnya naik pelaminan bersama lelaki lain, hasil perjodohan yang dianggap layak dan sekelas dengannya,” Januar  menyetujui.

Kami bagaikan dua orang bodoh dan gila yang membicarakan pernikahan tanpa hati. Semua hanya demi melarikan diri dari masalah yang sebenarnya. Tak ada yang berminat untuk berpikir jernih. Ya, sudah diputuskan, kami akan menikah, kira-kira tiga bulan lagi.

***

Keluarga besar kami tak terlalu kaget dengan keputusan ini. Kami adalah teman lama yang cukup dekat. Wajarlah kalau sampai pada akhirnya kami saling menyadari bahwa kami berjodoh. Tak perlu mereka tahu latar belakangnya. Yang penting mereka senang dan berhenti membicarakanku.

***

Di balik itu semua, masing-masing dari kami menyimpan kegelisahan sendiri. Tiga tahun yang lalu, calon suamiku, Henri, meninggal dalam kecelakaan lalu-lintas saat arus mudik sedang ramai. Dia dalam perjalanan Jakarta-Surabaya, dari tempatnya bekerja menuju kampung halaman tercinta. Kami menjadwalkan bertemu di hari ke-3 lebaran, untuk saling mengunjungi orangtua. Tak disangka, pertemuan di Jakarta dua minggu sebelumnya merupakan pelukan terakhir kami. Sejak itu aku belum menjalin hubungan dengan pria manapun. Merasa tidak percaya diri, dan pastinya belum bisa menerima keadaan ini. Sementara waktu cepat sekali berlalu, tiga tahun waktu yang singkat tapi juga panjang. Keluargaku sudah gelisah, takut aku menjadi perawan tua. Mereka sibuk sekali mencarikan jodoh sana-sini. Daripada menikah dengan pria entah, lebih baik mengikat perjanjian dengan Januar. Perjanjian untuk melepaskan jauh lebih baik. Setidaknya, saat itu aku sudah terbebas dari ‘kewajiban menikah’.

Januar, mencintai wanita keturunan Arab yang sangat cantik dan luar biasa. Membandingkan diriku dengannya sama dengan bunuh diri. Wanita cerdas dan tak terkalahkan itu haram berhubungan dengan pria Jawa. Tak bermaksud SARA, begitulah kenyataannya. Wanita Arab haruslah menikah dengan pria Arab. Padahal wanita itu belum pernah berpacaran dan Januar adalah satu-satunya pria yang dapat meluluhkan hatinya. Betapa menyesakkan. Saling mencintai dengan sempurna, namun tetap saja tak bisa bersama. Mungkin itu karena di dalam hidup ini tak ada yang sempurna. Maka mereka pun saling berjanji, jika ada kesempatan untuk bersatu, mereka akan mengusahakannya. Itulah dasar dari perjanjianku dengan Januar.

***

Berlalu sudah satu tahun pernikahanku. Kami bisa melewati masa-masa ini dengan menyenangkan. Seperti sepasang sahabat yang tinggal serumah. Bersenang-senang. Semua aku lalui dengan bahagia. Aku mulai lupa perasaan ditinggal Henri. Aku belajar menikmati apa yang ada di depanku. Tentu saja, Januar sangat berperan dalam hal ini.

Aku tak tahu bagaimana dengannya, yang pasti, dia juga terlihat menikmati kebersamaan kami, walaupun beberapa kali aku menemukannya dalam kemurungan. Aku tahu pasti dia sedang memikirkan wanita itu. Wanita yang tidak mungkin aku saingi. Namun, aku memang tak berniat bersaing dengannya.

Yah, aku bisa bilang, pernikahan kami baik-baik saja. Perjanjian itu tetap ada.

***

Tahun kedua. Aku mulai gelisah. Ketakutan. Aku telah terbiasa dengan semua keadaan ini. Januar. Persahabatan kami dalam ikatan suami-istri. Rutinitas sehari-hari yang membuatku nyaman. Menyiapkan sarapan untuknya, mengecek keperluan-keperluannya, berangkat ke kantor bersama. Kadang ia juga memberiku kejutan. Membelikan CD band favoritku, menyiapkan makan malam istimewa, atau sekedar menjinjing kamera untuk mengabadikanku dalam lensa di taman-taman kota.

Mendadak aku merasa tak siap. Bagaimana jika dalam waktu dekat wanita itu menghubungi Januar? Lalu Januar akan pergi begitu saja meninggalkanku. Lalu aku harus beradaptasi lagi, sendirian. Aku sungguh dilema. Bukan ini yang aku harapkan. Bukan ini, ini tidak ada dalam kesepakatan. Aku benci perasaan-perasaan ini. Semakin lama semakin menggerogotiku. Perlahan tapi pasti, aku mulai posesif pada Januar. Selalu menanyakan jadwalnya tepat waktu. Tidak mau terlewat sedikit pun kegiatannya. Aku tak mau dilangkahi wanita itu untuk menghubungi Januar. Tidak sekarang. Aku berubah menjadi menyebalkan. Sedikit-sedikit bertanya, sedikit-sedikit curiga. Pernah suatu kali Januar menatapku bingung.

“Kamu kenapa sih? Baik-baik aja kan?”

“Emang kenapa? Nggak boleh gitu nanyain kegiatan suaminya? Emangnya kamu mau ke mana sih sampe harus dirahasiain gitu?”

Kemudian Januar hanya berlalu begitu saja. Meninggalkan aku yang tiba-tiba merasa bodoh.

***

Susah-payah aku meredam semua rasa yang menggebu-gebu. Aku tak bisa memberinya nama. Apakah ini cinta? Yang kata orang kadang datangnya tak selalu menyambar-nyambar seperti kilat saat hujan deras, tapi juga bisa meresap seperti gerimis yang abadi, perlahan rintiknya membasahi hati dan tak pernah kering lagi. Sampai-sampai aku tak sadar bahwa aku telah terperosok terlalu dalam sampai melakukan hal-hal di luar dugaan. Selama ini, semua hal selalu aku ceritakan pada Januar. Begitupun dengannya. Kami berdiskusi, berbagi. Tapi untuk yang satu ini, aku tak sanggup mengatakan padanya. Mengatakan apa? Bahwa aku mulai tergoda untuk melanggar janji? Bahwa aku mulai merasa tidak sanggup berpisah dengannya? Sudahlah, lebih baik aku mempersiapkan diri. Sewaktu-waktu bisa saja Januar pergi. Aku harus mematuhi kesepakatan. Titik.

Kemudian di suatu sore yang cerah, ponsel Januar berdering. Kami sedang duduk-duduk di kebun belakang ditemani pisang goreng serta teh hangat. Ia segera berlari ke dalam rumah, meraih ponselnya. Seketika wajahnya berubah.

“Siapa? Kenapa?”

Januar tak mengatakan apa-apa, matanya masih tertuju pada layar ponsel. Aku menghampiri dan membaca sendiri pesan itu.

Masih ingat perjanjian kita? Temui aku di tempat terakhir kita bertemu, besok jam 2 siang. – Najla.

 

Ini adalah mimpi buruk yang kutakutkan. Akhirnya tiba juga. Pesan singkat dari wanita luar biasa. Pesan singkat namun bisa menghancurkan hidupku selamanya.

Aku tak berani berkata-kata. Kutatap Januar yang juga masih terdiam. Entah apa yang ada di pikirannya. Seharusnya dia bahagia, bukan? Mendadak dadaku terasa sesak dan mataku menghangat. Aku buru-buru pergi dari situ. Masuk ke ruang kerjaku, mengunci pintunya dari dalam. Aku mendengar Januar membuka garasi, menyalakan motor, kemudian menghilang.

***

Semalaman aku tidak tidur. Masih mengurung diri di ruang kerja. Seperti berusaha mengulur waktu agar hari ini tak kunjung tiba. Aku sungguh tak siap menghadapi Januar yang akan pergi.

Akhirnya aku keluar sekitar pukul sebelas, setelah mendengar Januar pulang sekitar satu jam sebelumnya. Pasti semalam dia minum. Selama menikah denganku, kebiasaan minumnya berkurang drastis. Kalau benar dugaanku, berarti ini kali ke-5 dalam 3 tahun terakhir.

Aku berjalan menuju dapur, berpapasan dengannya di ruang televisi. Melihatnya tak karuan seketika mengiris-iris hatiku. Ya Tuhan, cukuplah air mata semalam, simpan dulu hari ini. Selamatkan dulu hariku sebelum ia pergi.

“Mau sarapan apa?”

Dia diam.

“Aku bikinin nasi goreng aja ya?”

“Makasih,” dia menatapku sambil tersenyum.

***

Pukul satu. Januar telah siap berangkat. Aku mengikutinya ke pintu.

“Aku pergi dulu ya.”

Mataku terpaku di matanya. Tetiba basah. Air mengalir deras tanpa bisa kutahan. Januar segera memelukku, erat. Tangisku makin parah. Satu menit, dua menit, tiga menit. Januar melepaskan pelukan dan mencium pipiku. Kemudian berlalu.

***

Ini hari ke-3 semenjak pertemuan Januar dengan Najla. Ini hari ke-3 pula aku tak melihatnya. Walaupun sangat khawatir dan tidak tenang, namun aku memutuskan untuk tidak menghubunginya ataupun mencari tahu tentang keberadaannya.

Barangku sudah ter-packing rapi. Aku memutuskan untuk cuti dan pergi mengunjungi salah satu temanku di Semarang. Menenangkan hati dan pikiran. Semoga recovery kali ini berlangsung cepat.

Taksiku telah tiba untuk mengantarku ke stasiun. Pikiranku tak lepas dari Januar. Sedang apakah dia, apakah dia mengingatku, apakah terpikir olehnya untuk memberi kabar padaku. Mendadak aku teringat, mengobrak-abrik tas untuk mencari ponselku. Ah benar saja, pasti tertinggal di meja ruang tengah. Aku pun segera meminta supir taksi untuk putar balik. Bodohnya aku, barang semacam ponsel saja bisa tertinggal.

Sesampainya di depan pagar, aku merasa aneh. Apa iya aku lupa mengunci gembok? Rasa-rasanya sudah. Tapi mungkin juga aku alpa, nyatanya ponsel saja tak terbawa. Aku langsung masuk dan menemukan pintu depan juga terbuka. Kalau ini aku sangat yakin sudah menguncinya. Jantungku berdegup kencang, siapa yang masuk rumahku tanpa ijin? Maling?

Seketika muncul sesosok pria. Januar. Aku terpaku sambil mengutuki diri.

“Eh, kamu baru aja dateng? Aku mau ke Semarang, liburan ke rumah Maya. Tadi udah di jalan mau ke stasiun tapi trus inget, handphone ketinggalan. Ah ini dia!” Segera kuraih ponselku sambil terus mengoceh, tak berani menatap Januar sama sekali.

“Nadh..” Januar membuka mulut.

Tak menunggu aku merespon, dia meneruskan, “Aku udah ketemu Najla kemaren, kami udah ngobrol panjang-lebar. Ternyata suami pilihan orangtuanya itu laki-laki yang nggak tanggung jawab, nggak berpenghasilan dan nggak pernah nafkahin Najla. Kerjaannya main perempuan. Setelah cukup lama bertahan, akhirnya Najla gugat cerai, baru minggu lalu keputusannya keluar.”

Hatiku tak karuan. Diam menanti lanjutan. Bagian ini yang paling penting. Aku menyiapkan mental. Paling tidak, setelah Januar selesai berbicara, aku bisa melarikan diri dengan bergegas ke stasiun. Semoga aku tidak terlambat.

“Kami membahas tentang kesepakatan awal dulu. Kalau saja ada kesempatan kami untuk bersama, kami akan memperjuangkannya. Dan sejak awal masalah ada di Najla. Sekarang kesempatan untukku terbuka lebar. Keluarganya pasti sudah tak menuntut ini-itu.”

Januar mengambil jeda lagi. Menarik napas panjang. Sementara aku tak berani bernapas.

“Kami mengobrol lama, menganalisis semuanya. Namun sebelum obrolan dimulai pun aku sudah mengambil keputusan. Perjanjian di antara kita kuhilangkan keberadaannya.”

Aku terbelalak, “Maksudnya?”

“Aku udah nggak punya keinginan untuk memperjuangkan hubungan bersama Najla. Dulu aku memang cinta sama dia. Tapi sekarang, kalau aku kembali sama dia, rasa-rasanya itu hanya obsesi belaka. Tiga tahun ini kamu yang nemenin aku, ndampingin aku jatuh-bangun, selalu berusaha jadi temen diskusi yang baik. Kamu yang selalu ada. Najla nggak pernah tau perjuangan-perjuanganku. Biarlah dia mencari takdirnya sendiri, dia wanita yang luar biasa, dia pasti bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dan sepadan dengannya. Aku sayang kamu, Nadh. Kamu adalah rumahku, tempatku pulang. Aku harap kita bisa bersama-sama menyongsong senja.”

Aku tak mampu berkata-kata. Januar memelukku. Aku luruh dalam pelukannya.

Almas Karamina, September 2011

15 thoughts on “Kepulangan yang Kutunggu

  1. “Wanita Arab haruslah menikah dengan pria Arab. Betapa menyesakkan. Saling mencintai dengan sempurna, namun tetap saja tak bisa bersama.”

    Ehm, been there.. sedikit banyak tau ttg itu. yang Arab pun belum tentu boleh dengan Arab lainnya, lihat dulu fam nya😀 tanpa bermaksud SARA juga, tapi ya memang begitu :’)

    endingnya melegakan, aku kira bakalan sedih😀

  2. semacam kawin kontrak tp tanpa tenggat waktu, namun tenggat hati.
    Tapi ternyata hatinya ingkar, ia cabut tenggat yang ada.
    Dan menikmati kebersamaan yang telah membiasa.

    Witing trisno jalaran soko kulino, iya kan iya kan iya kan???😀

      • hehe, sebenernya dibilang “harus” atau bahkan “tidak boleh” itu belum tentu juga benar. Karena itu permasalahan budaya, ada yang benar-benar mengikutinya karena ikut kepercayaan dari jaman dulu2nya, ada pula yang ngga. Tetapi tetap ada sanksi sosial dari keluarga (biasanya sih begitu ;p). Biasanya ‘mereka’ yang Arab kental, menyebut ‘kaum’ mereka sendiri dengan sebutan ‘jamaah’ (secara global) dan menyebut warga pribumi (Indonesia asli. Bukan keturunan Arab, Yaman dll) dengan sebutan -> akhwal🙂

        Aku ada kok contoh kerabat dekat, perempuan keturunan Arab menikah dengan pria asli Jawa dan punya anak yang lucu2😀

        Hehe, hanya buat sharing aja yaa.. kalo ada pendapat lain, monggo dengan senang hati. Pembahasan yang menarik😀 *mlipiiiirrrr :p*

        http://simplygonzi.com

    • wuaaahh..
      memang dinamika kesukuan itu masih seru aja ya Mbak🙂

      aku pernah tau ada kakak angkatan, ceweknya arab, pacaran sama cowok jawa tulen. kelakuan sebentuk2nya.
      bertahun2, akhirnya putus juga😦
      si mbak itu sampe bikin skripsi tentang penikahan arab-jawa. sedih deh😥

  3. Pontiiiii..!! ini bagus banget..!! bikin bilang “Ooohhh” di endingnya..!! aku suka..!!!🙂

    tapi, tetep perhatikan tanda baca ya.. ada beberapa bagian yang “tidak tepat”.. hehee.

    overall, I like this..!!🙂

  4. jaman dulu orang tua dijodohkan, dan mereka mampu hidup dalam satu atap dengan awalnya tidak saling mencintai, tapi tetap juga ada kehidupan yg berbeda yang tidak mampu disatukan, seperti cerita mereka di atas.
    anyway keren banget ceritanya…🙂
    *ehm….mau bilang sesuatu, tapi… ngak jadi deh😀

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s