Kamu.

Aku menemukanmu dalam uraian air mata.

Dalam tatapan meminta, dalam derai putus asa.

Dalam ketidakmampuan untuk berbicara.

Dalam keinginan untuk memburai lara.

Kau memelukku dalam ketidakberdayaan.

Dalam kehancuran mimpi-mimpi yang kaubangun dengan darah.

Dalam tetes-tetes peluh tanpa keluh.

Dalam dunia nyata yang sesungguhnya maya.

Harapan tak ada yang tersisa.

Aku tahu tugasku di situ.

Menenangkanmu, merangkulmu, menguatkanmu.

Selalu itu.

Ini adalah kau paling remuk yang aku tahu.

Maka aku mengeluarkan ekstra energi untuk kusalurkan padamu.

Berhari-hari aku menikmati ketergantunganmu ini.

Dalam hati aku tersenyum, mungkin inilah akhir dari penantian panjang yang telah aku daki.

Aku masih mampu menanti sampai kau siap berbagi hati.

Ya, aku yakin tak lama lagi.

Hingga pada suatu sore, ketika kita sedang berbagi tawa, (mantan) bidadarimu itu tiba.

Seketika perhatianmu terbawa, tiada lagi aku di sana.

Lalu aku tahu, tak pernah ada kata ‘mantan’ di dalam kamus sang bidadari.

Kemudian kau pun pergi, sembari sekilas mengecup pipi.

Berbinar-binar, mengucapkan kata terima kasih yang terpaksa aku balas dengan kembali.

Lalu kutambahkan sedikit kalimat basa-basi, selamat ya, dia telah datang lagi, semoga bahagia selalu menghampiri.

Almas Karamina, Agustus 2011

7 thoughts on “Kamu.

  1. Pingback: Kamu. | almaskaramina.

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s