Pesan

Mimpi, aku yakin setiap orang pasti pernah bermimpi. Keluar sebentar dari alam kesadaran. Mengalami sensasi emosi yang begitu liar, emosi yang kemungkinan tidak pernah kita dapatkan ketika berada di alam kesadaran. Aku sendiri selama ini hanya pernah mengalami dua jenis mimpi (ini pembagian pribadiku), mimpi baik dan mimpi buruk. Dari dua jenis mimpi itu, beberapanya dapat aku ingat dengan sangat baik, beberapanya aku ingat samar-samar dan beberapanya lagi tidak dapat aku ingat lagi begitu aku sadar jika ternyata aku bermimpi.

Aku selalu tertidur dahulu sebelum bermimpi. Jika tidak dalam kondisi tidur, menurutku bukanlah mimpi itu namanya, tetapi gila. Bermimpi ketika berada dalam alam kesadaran? Tentu gila namanya. Beda lagi kalau itu cuma mengkhayal, berandai-andai atau apapunlah, tapi bukan mimpi, belumlah gila itu. Kalau bagian berandai-andai itu sering sekali aku lakukan. Sejak kecil aku suka berandai-andai menjadi super hero yang punya kekuatan super. Bisa terbang, kuat, menghilang lalu menyelamatkan dunia, aku suka mengandai-andai seperti itu. Mungkin karena pengaruh tontonan televisi saat itu. Mimpi, baiklah akan aku ceritakan sebuah kisah padamu. Tentang mimpi, mimpiku tentunya.

Saat itu aku berumur 22 tahun, masa ketika semangat masih menggebu, mencari cinta menggapai cita. Di suatu kota yang mataharinya sangat terik dengan berbagai bangunan beton yang tertancap ke bumi, aku bertemu dengannya. Seorang gadis yang kemudian aku ketahui penuh semangat dan kreativitas, ceria dan tidak pernah terlihat letih. Hampir sebaya usianya denganku. Setelah pertemuan yang singkat itu, mulailah kami berkenalan baik satu sama lain. Bersahabat raga, bersahabat rasa. Tentang bagaimana awal pertemuan kami yang singkat itu, tak perlulah kuceritakan padamu. Anggap saja itu menjadi bagian dari rahasia hidupku.

Beberapa lamanya waktu, akhirnya aku meninggalkan kota dengan matahari yang terik itu menuju kota yang lemah lembut penghuninya, kota tempat kelahiranku. Berpisah dengannya, gadis yang telah kujatuhkan pilihanku padanya, tentu membuat perasaanku gundah-gulana. Rindu juga cemburu tak kenal waktu menyapa namun hubungan kami tetap baik-baik saja. Melalui media apasajanya kami sering berhubungan telepon, sms, email bahkan surat kertas kami lewati. Pastinya, kami selalu terhubung dengan doa, saling mendoakan satu sama lain. Sekali masa, aku mengunjunginya melepas rindu. Sekali masa dia menyambangiku, mengubur cemburu. Ah, begitu indah rasanya hidup kala itu. Segala pahit menjadi manis setelah kami berjumpa, bertemu pandang, bergenggam tangan.

Hei kamu, pernah jugakah kamu merasa jatuh cinta? Aku anggap saja kamu pernah jatuh cinta sehingga kamu bakal mafhum dengan perasaan letih disekap rindu. Perasaan membuncah bahagia saat berjumpa tambatan hati.

Hampir tiga tahun lamanya kami berjalan beriringan, bergandengan tangan beriringan hati. Tiga tahun yang disambangi luka dan perih beberapa kalinya namun selalu berujung bahagia, gembira suka cita. Yup tiga tahun yang selamanya menghampiri aku setelahnya, dalam mimpi tentunya.

Suatu hari dalam waktu yang hampir tiga tahun itu, aku merasa benar-benar kehilangan pegangan hidup. Itulah saat ketika dia memutuskan untuk meninggalkanku, meninggalkanku dalam kesendirian. Aku tak begitu memperhatikan alasannya meninggalkanku, yang aku tahu dia juga terluka. Tak pernah kulihat pancaran matanya seredup itu, kesedihan yang memuncak kulihat di sana. Tak ada kata-kata pembelaan, tak ada alasan untuk membela diri, membela kami. Selalu ada ruang permakluman baginya, bagi dunia disekitarnya, selalu ada. Dengan luka yang membiak kami berpisah. Tak ada lagi komunikasi, tak ada lagi kabar terdengar, tak ada lagi dunia bagiku. Gelap.

Memulai segala sesuatu tanpa pegangan adalah sesuatu yang berat. Berjalan layaknya mayat hidup. Bersamaan dengan itu pula tiap tidurku tidak lagi nyenyak, seluruh mimpi yang hadir tentangmu adalah kepiluan, sedih, dan perih.

Seperti apapun kehidupanku yang serupa mayat, mana pernah bumi peduli, mana pernah waktu mengiba. Mereka terus berputar, berjalan tak mengenal perasaan. Bagaimanapun aku harus terus berjalan. Aku ingat pesannya saat hendak pergi meninggalkanku..

“Teruslah berjalan, jalanilah hidup dengan baik-baik saja. Aku yakin kita bisa saling merasa satu sama lain, melalui udara yang satu, yang sama-sama kita irup. Jika kita merindu, biarlah doa kita satu sama lain yang bercumbu di altar-Nya”

Benar, pesan itulah yang selama ini menguatkanku. Pesan itulah yang berhasil membuatku tetap bertahan, merasakan hadirnya dalam tiap embusan nafas. Merindunya dalam tiap doa yang kupanjatkan.

Setelah lewat setahun kami berpisah, aku menemukan cara untuk bertemu dengannya. Lewat mimpi tentu saja. Aku berhasil mengubah mimpi-mimpi buruk yang pilu menjadi mimpi yang membahagiakan. Dan mulailah aku hanya mengenal satu mimpi, mimpi baik, mimpi bahagia, mimpi tentangnya tentu saja.

Baiklah, karena kamu telah setia membaca ceritaku hingga saat ini, aku akan memberitahukan padamu tentang suatu rahasia. Rahasia membuat mimpi. Perhatikanlah baik-baik dan kemudian jagalah cerita rahasia ini dengan baik-baik juga.

Kebanyakan orang menganggap mimpi itu hal yang biasa saja, mengalir begitu saja tapi bagiku tidak. Setelah terus-menerus diserang mimpi buruk hingga tidak bisa tertidur dengan lelap, akhirnya aku bisa menghadirkan mimpi indah, untuk kunikmati.

Kunci dari menghadirkan mimpi itu adalah campuran pikiran acak, kenangan masa lalu, harapan masa depan dan kejadian hari ini. Sangat mudah sepertinya, tetapi pada kenyataannya sangat sulit untuk dipraktekkan. Sebelum beranjak tidur, aku akan merelaksasikan seluruh tubuhku termasuk pikiran dan hati. Setelah itu kuambil sedikit kenangan dari masa lalu. Dalam kasusku ini , tentu saja aku mengambil kenangan tentang dirinya, gadis tambatan hatiku. Kemudian aku tambahkan beberapa harapan di masa depan juga sebagian kejadian hari ini. Bimsalabiimmm….puufff…aku akan segera tertidur dan kemudian mimpi indahku tentangnya akan muncul.

Dalam mimpiku yang indah itu, kulihat lagi dia hadir menemaniku. Kami tinggal di dalam rumah sederhana pinggir danau dengan perabotan minimalis seperti yang pernah dia dambakan. Beranda belakang rumah, kami gunakan untuk menikmati senja dengan beberapa cangkir teh hangat. Di halaman depannya ada semacam bale-bale tempat kami menikmati kopi panas dengan beberapa buku bacaan di kala pagi dan siangnya biasa kami gunakan untuk tidur malas-malasan. Anak-anak sering bermain bersama kami, di manapun mereka mau. Kadang di bale-bale, rerumputan halaman depan atau bahkan di danau. Kami keluarga bahagia yang hanya bisa aku nikmati dalam mimpi.

Ah sudahlah Nak, sudah cukup aku ceritakan tentang mimpi-mimpiku. Buatlah mimpimu sendiri, dan semoga kamu benar-benar bisa menikmati segala mimpimu itu dalam dunia nyata. Wujudkanlah mimpimu karena betapapun indahnya mimpi, aku selalu saja merasa kekosongan membunuhku tatkala terbangun.

Oiya Nak, setelah kau baca tulisanku ini dan nanti kau bertemu dengan seorang yang seusia denganku. Ah, bukan, dia bukan seseorang, dia bidadari. Tetapi iya, dia seusia denganku, bernama Kanekawati. Tolong sampaikan salamku, katakan padanya betapa merindunya aku akan hadirnya, betapa dunia telah kuraih seisinya namun ruang di hatiku yang dulu diisinya masih tetap kosong, tak pernah bisa tergantikan oleh sesiapapun.

Nak, sungguhpun aku tak mengenalmu, kuucapkan terimakasih sebesar-besarnya telah sudi kiranya membaca tulisanku. Semoga kamu mampu menjadikan mimpi-mimpimu menjadi nyata. Pesanku, boleh kau turuti boleh juga tidak. Janganlah hanya menjadi pemimpi karena para pemimpi itu benar-benar sendirian dan kesepian.

– Arya Seta

***

Sebuah berita dalam suatu media kabar:

Seorang kakek berusia 83 tahun ditemukan telah meninggal dunia di beranda belakang kediamannya sendiri. Terdapat tulisan tangan beserta dua cangkir teh yang belum habis diminum…………

 ***

Sore itu langit mendadak gelap, hujan bagai ditumpahkan dari langit. Tak ada seorang dewa-dewi pun mampu menahan amuk Kanekawati di kayangan. Sambil menangis ia turun ke bumi menyongsong ruh Arya Seta.

Danu Saputra, Agustus 2011

4 thoughts on “Pesan

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s