Mimpi | Karma

“Aku punya banyak mimpi. Salah satunya adalah hidup denganmu.”
Aku terkesiap mendengarnya. Sial, kenapa harus aku?! Dari sekian banyak lelaki yang kautemui dalam 22 tahun hidupmu, kenapa harus aku yang menerima pernyataaan itu?

Bahkan hidupku sendiri sangatlah absurd, bisa-bisanya kamu ‘menyerahkan’ mimpimu begitu saja padaku. Ini mengejek namanya, tak masuk di akal sehatku. Ini pasti ada yang salah.

***

Aku. Johan. Tinggi 173 cm. Berat badan 63 kg. Rambut ikal. Muka medog jawa. Hidung menukik ke dalam. Kulit hitam mengkilap. Fashion, jangan ditanya deh, nggak banget!

Kamu. Dea. Tinggi 170 cm. Berat badan 55 kg. Rambut lurus. Muka sedikit latin. Hidung mancung. Kulit kuning langsat. Ya, dan kamu trendsetter di kampus soal fashion.

Hei, dari deskripsi di atas, aku yakin semua orang tak akan kesulitan memahami keherananku atas ketertarikanmu padaku, bukan?! Kalau aku absurd, maka ketertarikanmu padaku adalah absurd level dua, terlalu absurd untuk bisa terjadi di muka bumi ini.

Duh mati aku, Yuuuung!! Bisa dituduh sebagai tukang pelet aku sama para cowok gaul di kampus ini. Aku tak mau mati dihajar massa dengan pencitraan sebagai tukang pelet. Terlalu menyedihkan untuk kemudian menjadi headline Koran Kampus edisi bulan depan. Damn!

***

Oke, mungkin akan lebih jelas kalau aku jelaskan duduk persoalannya kepada Anda sekalian, sebelum Anda semakin terbawa dalam ketidakjelasan tingkat dewa di sini. Mengapa aku sampai terdampar di kampus biru merona ini. Jurusan Akuntansi, angkatan 2005.

Aku terdampar di sini adalah buah dendam bapakku terhadap Sipenmaru tahun 1983. Bapakku tidak berhasil lolos masuk fakultas yang sudah berdiri dari 1955 ini. Dan saat menjelang SPMB, aku yang belum punya nafsu pada jurusan manapun untuk ditekuni, langsung saja diarahkan oleh beliau ke jurusan ini.

Aku yang tidak tahu apa-apa soal jurusan ini, langsung mengiyakan ketika diberi gambaran gaji seorang akuntan publik yang berkali-kali lipat gaji seorang guru honorer dengan masa jabatan puluhan tahun. Ya, guru honorer adalah profesi bapakku saat itu. Dengan polosnya langsung saja aku mengiyakannya. Tanpa sadar aku telah dijadikan alat balas dendam. Cih!

 ***

 Semua orang pasti tahu, tempat hangout paling asoy di Jogja, selain Ambarukmo Plaza adalah kampusku. Bagaimana tidak, muda-mudi belia dengan setelan modis nan manis bertebaran di sini. Dalam sepuluh langkah kamu berjalan di kampusku, kamu bisa menemukan sebelas makhluk berjenis kelamin wanita dengan deskripsi di atas.

Dea, itulah namamu. Kau langsung jadi trending topic di antara kami, kaum lelaki. Bahkan saat masih dalam masa orientasi. Kakak kelas, teman satu angkatan, bahkan adek angkatan  semua tak ada yang tak bersemangat kala namamu menjadi topik dalam setiap diskusi. Kecuali aku. Iya, aku.

Kenapa??

Hei, jangan berpikir yang macam-macam tentang aku. Aku bukannya tak tertarik pada wanita. Kutubku masih normal. Aku bahkan pernah pacaran sewaktu SMP, iya SMP, pacaran pertama dan terakhir sampai sekarang.

Alasanku menjadi ‘berbeda’ soal kamu, adalah… Gaji akuntan publik!

Aku ingin fokus pada kuliahku. Aku ingin segera lulus dengan predikat summa cumlaude, berkarier cemerlang, dan “akuntan” tertera sebagai pekerjaan di KTP-ku. Hidup berkecukupan, aman dari lilitan hutang. Impian yang tidak berlebihan bukan?! Untukku, anak dari seorang guru honorer di MTS Negeri di pelosok kampung Ngawen, Blora. Kota kelahiranku.

Eh, kau meremehkan aku dengan latar belakang keluargaku di atas?! Segera campakkan pemikiran itu kawan. Aku adalah pribadi yang kuat, berkarakter. Terlebih, aku sangat PeDe dengan otakku. Encer tiada duanya. IQ-ku adalah yang tertinggi se-Propinsi Jawa Tengah. Aku bahkan pernah makan malam satu meja dengan Bapak Bupati di rumah dinas beliau, saat aku memenangkan Olimpiade Akuntansi tingkat Propinsi tahun 2003 dulu. PeDe -ku tidak hanya 100%, jauh lebih dari itu kawan.

***

Semester VI. Pesonamu pada semua lelaki di kampus ini tidak juga pudar, semakin menggila malah.

Aku?? Tentu, tetap fokus pada… Gaji akuntan publik!

Kelas Akuntansi Perpajakan, kita satu kelas. Dengan Pak Prapto, dosen super killer yang ketiban sial mengajar di kelas kita, kelas para begundal. 

 Bagaimana tidak kelas para begundal, mengajar di kelas kita membutuhkan kesabaran tingkat nabi. Di saat Pak Prapto sedang seru menjelaskan soal Pajak Pertambahan Nilai, para begundal malah seru melempar lirikan dan senyuman padamu.
Kamu risih. Aku jengah. Pak Prapto murka!

“Cowok-cowok di sini sungguh norak!” tak ada angin, tak ada hujan. Kamu tiba-tiba berkeluh kesah padaku.

Aku yang kebetulan duduk di sampingmu mau tak mau harus meladenimu.

“Salahkan Tuhanmu menciptakanmu cantik,” aku memperjelas takdirnya.

Dea terkekeh, aku merasa tertipu.

“Pikirmu aku cantik?” Tanyamu retoris seolah kamu tidak punya cermin di rumah.

“Yah, setidaknya cowok-cowok di sini merujuk padamu soal definisi cantik.”

“Lalu kenapa kamu tidak tertarik padaku?” Eh, pertanyaannya kok seolah menghakimiku sebagai ‘abnormal’.

Sabar. Tarik napas. Cobaan memang sering datang dari sumber yang tak terduga. Makhluk cantik pun bisa menghina-dina dengan jumawa.

“Asal kamu tahu ya. Sejak datang ke kampus ini, cinta pertama dan terakhirku sampai saat ini adalah Profesi Akuntan Publik. Maaf saja, aku berbeda kiblat dengan cowok-cowok di sini.” Tak mau ditindas, jumawaku pun terekspos habis-habisan (secara tak sengaja).

“Hihi, kamu lucu!” ketawa renyah keluar dari mulutmu.

Aku melihatnya dari sudut mataku. Eh, kok hawanya lain ya?!

***

Semester VII, aku mengambil mata kuliah Pengauditan Internal sebagai mata kuliah pilihan sebelum aku mengambil KKN.

Sial seribu sial, kok bisa-bisanya kamu mengambil mata kuliah yang sama denganku. Dan lagi, kamu menjadi partnerku pada Kerja Praktek di “PT. ARKA JAYA”. Komplit paket sialnya.

Aku menyukai Akuntansi. Bukan, bukan lantaran aku sering membantu ibuku jualan cabai di Pasar Blora. Aku menyukainya lantaran Ibuku sering menyuruhku belanja sembako untuk dijual lagi di toko kelontong di rumah kami. Yah, sama saja ya.

Kamu pernah nonton Laskar Pelangi? Masa kecilku jaman dulu tak jauh beda dengan tokoh Lintang. Bedanya komoditi dia adalah ikan laut, sedang aku adalah sembako. Ok, out of the topic, mari kembali ke jalan yang benar.

Akuntansi adalah satu dari banyak kebetulan dalam hidupku, kebetulan dengan dendam bapakku, dan kebetulan aku di SMA dulu dari jurusan IPS.  Jadi tak ada kesulitan untukku belajar di sini.

Berbeda denganmu. Kamu mengambil jurusan IPA di SMA dulu. Dan Akuntansi adalah pilihan keduamu setelah kedokteran sewaktu tes ujian masuk universitas. Dan kamu lolos di pilihan kedua. Sial juga ternyata nasibmu.

Sial ketemu dengan sial. Ya, takdir Tuhan memang seringkali ajaib. Kesialan menjadi awal takdir kita bertemu. Nggak mbois memang, tapi itulah kenyataan.

Tentang Akuntansi. Aku cakap, kamu gagap. We’re such as a great partner, aren’t we?

 Dari sana kedekatan kita mulai terjalin. Aku yang dulu kekeuh untuk kuliah yang bener, kini aku mendapat cobaan maha berat dengan kehadiranmu.

Aku tidak terpesona dengan kecantikanmu. Oke, tidak sepenuhnya at least. Tapi lebih karena kedekatan kita. Dua bulan selalu bertemu, di kantor yang sama, diskusi bersama, bahkan bertengkar bersama. Itu semua ternyata meninggalkan jejak yang dalam di hatiku.

Semakin sering tertawa bersama, semakin terbawa dalam suasana. Oh, damn! Cepat sekali perasaan ini menghampiriku. Belum ada dalam schedule-ku untuk jatuh cinta. Aku harus fokus pada kuliahku dan cita-citaku sebagai akuntan andal. Dan kini mimpiku terancam kandas di ujung jalan saat aku hampir mencapai finish.

***

“Aku sayang kamu, Jo.”
” . . . ”

Aishhh…. kamu membuatku mati kutu, tak bisa berkata-kata.

Aku juga sayang kamu. Aku ucap pelan dalam hatiku. Tak bisa keluar dari mulutku.
I wish I could say the same,” ucapku lirih seraya menatap matamu.

“Kenapa tak bisa? Apa perasaanku salah?” kamu bertanya tak terima.
Kamu pasti bisa melihat dari mataku, aku memang sayang sama kamu. Tapi aku tak bisa bersamamu.

“Tak ada yg salah dengan perasaanmu, yang salah hanyalah keadaan,” aku tak percaya akan mengucapkan semacam dialog film romansa layar lebar dalam kehidupanku.

“Kamu tak seharusnya bersamaku. Masa depanmu masih panjang, cerah bersinar. ”

“Sedangkan aku? aku harus berjuang untuk hidup, aku harus mencari tambahan untuk biaya kuliah dan skripsiku tentu saja. Kamu layak medapatkan yang lebih baik dariku,” kenyataan hidup kadang memang sangat pahit dan kita harus melepaskan yang kita inginkan. Sakit.

Matamu sembab, menatapku tak terima. Keduanya seolah memelas, tak bisakah ini dikompromikan?

Aku tak kuasa menatap matamu. Aku menunduk, menggeleng pelan. Aku cukup tahu diri untuk tak melanjutkan perasaan ini.

Kamu anak seorang dokter spesialis jantung ternama di Jogja. Keluargamu, tak usah ditanya, apapun yang kamu minta kamu takkan sulit mendapatkannya. Walaupun aku tahu, kamu memilih untuk sederhana.

Dan aku, aku masih punya dua adik kecil yang harus aku hidupi. Tak elok rasanya kalau aku bersenang-senang di atas penderitaan bapakku menghidupi keluarga. Aku tak sejahat itu pada keluargaku.

Kamu pun pergi, membawa serta perasaanmu.

***

Tujuh tahun kemudian..

Toyota Fortuner warna putih milikku melaju pelan di Jl. Affandi. Aku hendak berangkat ke kantor, CV. Pelita Nusantara. Kantor akuntan publik milikku sendiri, dengan 10 karyawan yang bernaung di sana.

Ya, setelah dua tahun berpindah-pindah di beberapa KAP swasta. Aku akhirnya bisa memulai usahaku sendiri, atas namaku sendiri. Dan aku membuktikannya, anak ingusan dari pelosok Blora bernama Johan ini, bisa menjadi sesuatu atas jerih payahnya.

Aku pun bisa mengangkat keluargaku bersamaku.

Adikku Lisa, seorang Master Psikologi UGM dan Tia seorang Sarjana Teknik Kimia UI. Bapakku sudah mendapatkan ‘pensiun’ yang layak di hari tuanya, pensiun dariku. Dan Ibuku, aku yakin pasti beliau tersenyum melihat kami di surga. Aku menyesal kenapa Beliau tak sempat menikmati hidup berkecukupan di sini, beliau pergi terlalu cepat saat melahirkan Tia.

Dan sekarang, di sinilah aku. Profesi Akuntan Publik ternama di Jogja, rumah di Merapi View, Mobil tak hanya satu. Semua terasa lengkap dalam hidupku, kecuali satu. Pasangan hidup.

Aku memang profesional sukses, namun aku sadar telah terlambat mengelola kehidupan pribadiku. Profesiku sudah menyita waktu dan pikiranku. Pekejaan di KTP-ku tertulis Akuntan, namun isian status di atasnya masih belum berubah, masih ‘belum kawin’. Sampai umurku menginjak kepala 3, aku masih belum punya siapa-siapa untuk menemani hidupku.

Tragis?? Memang. Mungkin aku terkena karma. Karma karena menolak cinta yang sebenarnya aku juga merasakannya.

***

Di sinilah awal karma itu terjadi. Hidupku sendiri, sejak peristiwa lima tahun lalu..

Aku menerima sepucuk surat undangan siang itu di kantorku dulu. Inisial D&V tertulis dengan font Edwardian Script ITC di cover depannya. Font batik khas orang yang berbahagia.

          “Mohon kehadirannya dalam syukuran pernikahan kami :

                         Dea Ananda, S.E, MM & dr.Vicky Notonegoro, Sp.An

             Pada hari :  ………

 
Lanjutan dari undangan itu tak masuk lagi dalam pikiranku. Aku terhenyak.

Kamu mengirimkan sepucuk surat tepat saat aku baru saja ingin mencarimu, mengucapkan dengan lantang, aku juga sayang padamu.

Aku melirik kotak merah tua di sudut meja kerjaku, berisi cincin perak bertuliskan namamu yang aku beli saat aku menerima gaji pertamaku .

Kamu tahu? Kamu pun adalah mimpiku, dan kotak itu adalah target tak tertawar yang harus kutepati, hidup bahagia bersamamu.

Dan kini kotak itu hanya akan jadi barang pajangan menyakitkan untuk disimpan. Sakit!

     P.S. :  Ucapkan cinta tepat pada waktunya, Kawan. Tuhan telah menjamin hidupmu,               namun waktu takkan pernah menunggu.

Candra Aji, Agustus 2011

19 thoughts on “Mimpi | Karma

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s