Agustus

Agustus sebelas tahun yang lalu aku berada di tempat ini. Sebuah ruangan yang penuh dengan kenangan masa lalu. Bukan pada sofa, perabot dan segala sesuatu yang mengisi ruangan ini. Namun kenangan-kenangan itu tersimpan pada ingatan penghuninya. Aku berada di sebuah panti wreda.

***

Oktober 2000

Hari ini ada karena mimpi seorang gadis 16 tahun pada waktu itu. Mimpi yang tetap menyala meski puluhan tahun berikutnya. Mimpi yang membuatnya bertahan dalam sisa hela nafas dan detak jantungnya.

Mungkin aku yang berlebihan, mengatasnamakan kekuatan cinta hingga akhirnya membawaku ke tempat ini. Bahkan aku sendiri tidak habis pikir dengan apa yang telah kulakukan. Jauh-jauh terbang ke negara orang hanya untuk mimpi seseorang. Mimpi yang luar biasa. Atau mungkin mimpinya biasa saja hanya aku yang sudah gila dan menganggapnya luar biasa. Apa yang istimewa dari mimpi seseorang untuk bertemu dengan cinta pertamanya.

Di sebuah apartemen di kota Tokyo, aku duduk bersama sepasang suami istri. Shigetada Nishijima nama lelaki itu, usianya hampir menginjak 90 tahun. Namun demikian, dalam tubuh lelahnya dia masih terlihat bersemangat menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

“Selamat datang..”

Kagum, begitu pertama kali mereka manyambutku dengan ramah. Bahasa Indonesianya masih lancar meski sudah sekian tahun tidak dipakainya. Sejarah yang membuatnya menguasai Bahasa Indonesia dan Belanda, selain Bahasa Jepang tentunya.

Shigetada Nishijima, penerjemah bahasa untuk Laksamana Maeda saat pendudukan Jepang di Indonesia. Lebih dari itu, dia adalah satu-satunya saksi hidup yang masih tersisa dalam perumusan teks proklamasi.

Dikeluarkannya beberapa lembar surat yang masih terawat. Beberapa surat aku mengenali nama yang tertulis pada amplopnya, Mr.Subarjo, Adam Malik dan Bung Hatta. Nama-nama pendiri bangsa ini. Sungguh aku pun tak bisa menerima kalau kemerdekaan negaraku dikatakan sebagai hadiah Jepang tapi bagaimanapun tak bisa dipungkiri ada andil dari beberapa orang Jepang atas kemerdekaan itu, salah satunya orang yang ada di hadapanku ini. Aku bahkan terharu ketika membaca kutipan surat Mr.Subarjo.

Percayalah bahwa sampai mati saya tak akan lupa teman-teman di Jepang yang dengan hati suci dan sungguh-sungguh membantu kami dalam melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Hanya orang sedikit saja yang tahu menahu akan seluk-beluknya di sekitar Proklamasi. Dan, sudah barang biasa dalam sejarah dunia bahwa di belakang kejadian-kejadian yang sangat penting masih terbenam beberapa faktor-faktor yang tak diketahui oleh umum.

Lancar diceritakan semuanya, siapa yang ada di rumah Maeda Tadashi waktu itu. Bagaimana suasana yang genting, pemuda-pemuda yang ingin ada perebutan kekuasaan secepat mungkin sedangkan golongan tua yang ingin memikirkan sebaik-baiknya langkah yang harus ditempuh. Perdebatan-perdebatan dalam pemilihan kata teks proklamasi tersebut. Kemudian diceritakannya pula bagaimana dia dan Maeda Tadashi akhirnya ditangkap Belanda dan disiksa, diinterograsi tentang kejadian perumusan proklamasi tersebut.

Begitu dia selesai bercerita, kukeluarkan sesuatu dari tasku. Sebuah hadiah untuknya. Kalung perak dengan leontin berbentuk matahari kusodorkan padanya. Sebuah nama dalam tulisan bahasa kanji di balik leontin itu. Shigetada Nishijima, nama yang tertulis di sana.
Tatapan matanya menunjukkan keharuan.

***

Kutekan tombol play pada alat perekamku. Suara seorang wanita yang sudah tidak muda lagi yang terdengar.

Namaku Sukesi, usiaku waktu itu 16 tahun. Saat itu aku bekerja untuk Nyonya Satsuki Mishima. Awal aku melihatnya adalah 16 Agustus 1945. Waktu itu aku bersama Nyonya Mishima datang ke kediaman Tuan Maeda untuk membawakan makan sahur untuk Bung Karno dan teman-temannya.

Saat pertama melihatnya, aku langsung jatuh cinta. Aku kagum padanya, Nishijima San. Meskipun dia adalah orang Jepang, tapi dia ikhlas membantu bangsa ini untuk mewujudkan mimpinya. Kemerdekaan.

Beberapa bulan setelahnya, aku menemuinya dalam kondisi yang menyedihkan, babak belur. Memar dan luka di sekujur tubuhnya. Bahkan dia bercerita padaku, bagaimana menyakitkannya siksaan di penjara oleh Belanda sampai dia harus mengalami kencing darah. Sungguh aku ingin menangis, tapi kutahan. Aku tak ingin membuatnya sedih, sudah cukup derita dia di dalam penjara, aku tak ingin menambahnya. Dia tetap tersenyum tulus, membuat matanya yang kecil semakin terlihat segaris saja. Aku jatuh cinta padanya.

Paling menyedihkan ketika akhirnya dia harus pulang kembali ke negaranya. Negara matahari terbit begitu katanya. Aku tak punya hak untuk menahannya. Sebuah kalung dengan leontin berbentuk matahari dikalungkan di leherku. Kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan isakku.
Kalo Tuhan mengijinkan, aku ingin bertemu dengannya agar dia tahu perasaanku..

Kulihat wanita yang baru saja suaranya terdengar dari alat perekamku duduk sendirian di sebuah kursi goyang. Matanya tidak lepas dari layar televisi. Detik-detik pengibaran merah putih di hari kemerdekaan yang ke 66 ini. Usianya sekarang 82 tahun. Usia yang membuatnya menyimpan ribuan kenangan. Mungkin hanya dia dan Tuhan yang tahu kebenaran kenangan itu.

Sebelas tahun yang lalu aku pergi ke Tokyo. Saksi hidup perumusan teks proklamasi menjadi alibiku agar surat kabar nasional ini mau mengirimku ke sana. Bukan itu tujuan utamaku. Semata-mata kisah romansa yang tertunda milik Sukesi remaja yang ingin kusulut kembali agar bias kukabarkan pada dunia. Sayangnya semua tidak seperti harapanku, bahkan Shigetada Nishijima tidak pernah mengenal seorang wanita bernama Sukesi dalam hidupnya.

Kudekati wanita yang sudah rapuh ini. Matanya terlihat basah. Pelan diseka sudut-sudut matanya dengan sebuah sapu tangan berwarna ungu.

“Dulu bapak yang memberikan sapu tangan ini. Bung Karno, cinta pertamaku. Kalau Tuhan mengijinkan, aku ingin bertemu dengannya agar dia tahu perasaanku..”

14 thoughts on “Agustus

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s