Buku Ingatan

Seperti membuka sebuah buku ingatan. Membukanya mundur dari halaman terbelakang. Setiap halaman, setiap lembar, semakin jauh, menyajikan rentetan kenangan. Perjalanan hidup.

Beberapa lembar memberikan senyum dan tawa. Namun banyak juga terselip halaman duka, tangis, kecewa, serta amarah di antaranya.

Lalu kemudian makhluk itu muncul menghampiriku. Aku menyebutnya makhluk “seandainya”. Makhluk “seandainya” tidaklah sendirian, ada “penyesalan” yang mengikuti di belakang. “Penyesalan” memang selalu datang belakangan.

Aku harus waspada. Makhluk-makhluk itu tak boleh singgah terlalu lama. Sekali ku terlena bisa fatal akibatnya. Dunia kami berbeda. “Seandainya” hidup dalam dunia semu. Sebuah dunia dengan bayangan masa depan dari sebuah masa lalu. Sekali aku terjerat olehnya, siksaan berikutnya akan datang dari dia “penyesalan”. Aku tak melarang jika “penyesalan” singgah tapi tolong jangan terlalu lama. Bisa-bisa dia mencengkeram jantungku hingga menggembung, hampir meledak, memancarkan darahnya. Sakit. Bisa apa aku? Dalam diam saja sakit rasanya. Apalagi harus berjalan ke depan sana. Pesanku, cukup persilakan “penyesalan” mampir di serambimu, menyapa tetes-tetes air mata kesadaranmu.

Beruntung aku bisa melewatinya, hingga napak tilasku berakhir di sana. Beberapa lembar sebelum aku sampai pada halaman judul buku ingatanku.

Aku melihatnya.  Seorang anak laki-laki kecil. Hampir menginjak empat tahun usianya. Mengenakan kaos putih bergaris merah serta celana pendek warna coklat. Lucu sekali tingkahnya. Sebuah balon mainan berbentuk Batman.  Dia melakonkan tokoh superhero itu. Beberapa kali di pukulnya. Kemudian ditindih dengan kursi. Namun siapa mengira balon mainannya bocor. Dia berusaha meniupnya kembali, mengisi angin pada balon mainannya,  berharap mainannya bisa menggembung lagi. Sayangnya tidak bisa. Bocah itu menangis memanggil-manggil ibunya. Tapi ibunya tak datang, yang datang adalah seorang laki-laki berkumis, ayahnya yang menenangkannya.

Pada halaman sebelumnya, ayahnya membawanya ke sebuah tempat yang asing. Ruangan serba putih. Di tempat tidur yang juga berseprai putih itu ibunya berbaring, tapi dia tidak sendiri. Ada makhluk mungil yang tertidur di sampingnya. Bayi perempuan yang akan menjadi penghuni baru rumahnya. Adiknya.

Semua terhenti di sana. Aku masih berusaha membuka lembar berikutnya. Gagal. Harusnya masih ada ingatan yang tersisa. Lembar-lembar kehidupan sebelumnya. Bagaimana saat aku bayi, saat aku seusia bayi perempuan itu. Aku tak ingat saat aku kelaparan, menangis seperti kucing kecil mencari puting induknya. Aku tak ingat, apakah aku yang berkehendak, memutuskan untuk memasuki dunia baru ini, setelah sebelumnya sembilan bulan aku bersembunyi dalam ruangan bernama rahim, bersiap diri. Terlebih aku tak ingat saat aku hanya sebuah gumpalan daging yang berdenyut-denyut. Aku tak ingat saat pertemuan pertama denganNya, Tuhanku yang mengikatku dalam sebuah janji, menugaskanku, mengisi daging yang berdenyut tadi.

Aku tak ingat pertemuan pertamaku dengan Tuhanku. Apakah dia tersenyum padaku? Aku lupa semanis apa senyumnya. Apakah dia menjabat tanganku? Aku lupa seberapa erat genggamannya.

Akan ada saatnya kelak ku bernostalgia kembali dengannya. Mungkin itu akan tertulis di halaman terakhir buku ingatanku.

Suryawan Wahyu Prasetyo, Agustus 2011

19 thoughts on “Buku Ingatan

  1. Lalu kemudian makhluk itu muncul menghampiriku. Aku menyebutnya makhluk “seandainya”. Makhluk “seandainya” tidaklah sendirian, ada “penyesalan” yang mengikuti di belakang. “Penyesalan” memang selalu datang belakangan.

    Aku suka bagian itu.😀

    • makasih gha sudah mampir, tapi memang si penyesalan selalau datang belakangan ya, harus dikasih hadiah jam sepertinya..😀

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s