Aku dan Diriku

Awan mendung menyelimuti hati seorang anak di sudut halaman itu.

     “Hai!” sapaku ramah padanya. Wajahnya murung, sikapnya sangat tertutup. Dia menggeser badannya membelakangiku begitu sadar aku mendekatinya. Seolah ada sesuatu yang tabu terlihat olehku.

     “Kamu kenapa?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.

     Ia hanya menjawab dengan kebisuan, tanpa kata.

    Ia menatapku sejenak, lalu kembali tertunduk ke tanah sambil melempar pandangan kosong ke dedauan kering di sela kedua kakinya.

     “Aku kecewa dengan Tuhan!”
Aku tercenung mendengar pernyataannya.

“Kenapa Dia menciptakanku seperti ini, tidak seperti anak lainnya?!” nada protes begitu kental terasa di sana.

     “Selama 21 tahun perjalanan hidupku, aku selalu dikungkung oleh aturan orang tuaku. Mereka selalu memaksakan kehendak mereka kepadaku,” semburat sedih terlihat jeals di wajahnya.

     “AKU MATI!!”

     “Hidupku tidak ‘hidup’, aku bosan!!” terasa hujaman sembilu di akhir ceritanya.

     Sejenak aku melihat dia. Secara fisik, ia sangat terpelihara. Kulitnya bersih, bajunya bagus. Sungguh kontras dengan jiwanya, gelap dan suram. Pandangannya kosong, jiwanya tak terlihat, jauh terkubur di dasar hati.

* * * *

     “Kau tampak bahagia,” dia melihatku dengan tatapan iri.
“Tidakkah Tuhan pernah mengecewakanmu juga? seperti halnya yang aku alami.”

Aku tersenyum simpul mendengar pertanyaannya. Mencoba menerka jawaban apa yang dia inginkan dari pertanyaannya itu .

     “Ya, Tuhan pernah mengecewakanku. Berulang kali.”

     “Aku pernah merasa Tuhan tidak adil padaku, pada peciptaanku. Bahkan seringkali aku mendamprat Dia dalam doaku. Sumpah serapah tak terbendung, keluar begitu saja dalam doaku pada-Nya kala itu.”

     “Dan pertanyaan ‘Kenapa Tuhan?’ selalu menjadi retorika tak berujung di dalamnya.”

     “Lalu?”

     Aku tersenyum simpul mendengar pertanyaannya.

    “Kau tahu? Tuhan punya cara sendiri melakonkan aku.”

     “Aku sama sekali tak bisa protes kepada-Nya. aku ini adalah propertinya, jiwa raga semua adalah miliknya. Ia punya hak prerogatif dalam menentukan setiap inci kehidupanku.”

     “Aku ini hanya lakon, namun punya kesadaran.”

     “Jadi, percuma saja aku terus protes kepada Tuhan. Aku tak bisa mengintip skenario yang dipegangnya. Aku tak tahu, lakon apa yg selanjutnya aku perankan. Bisa jadi aku akan menjadi jutawan, atau malah pesakitan di tahanan”

     “Sangat beralasan kalau aku mengkritik Tuhan, berpikiran bahwa Dia tidak bijaksana. Tapi toh pikiranku pun, Dia yang membuatnya. Tak akan mampu aku menjangkau-Nya. Sampai kapanpun.”

     Anak itu mengamatiku lebih dalam, dari ujung rambut sampai sepatuku ia telusuri lekat-lekat.

    “Hei, kau mirip sekali denganku!!” ucapnya tanpa ragu.

    “Sepatumu, bajumu, dan bahkaaan…. WAJAHMU?!” dia terhenyak.

    “Boleh aku lihat tanganmu, adakah bekas luka di sana?” tangannya berusaha meraihku.

     Tuk!! Ia terpatut pada lapisan tak tertembus, tak bisa meraihku.

     “Ketahuilah aku adalah kamu. Kita adalah orang yang sama. Yang beda dari kita hanya satu.”

sudut pandang tentang hidup”.

Candra Aji, Agustus 2011

16 thoughts on “Aku dan Diriku

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s