Kosong Adalah Isi, Isi Adalah Kosong

“Pernah nggak sih kamu ngerasa kosong?”

“Kosong adalah isi. Isi adalah kosong. Begitulah kata Tong Sam Chong.”

“Wen, kamu sehat kan?” tanya wanita yang duduk tepat di depanku.

“Sehat” jawabku sekenanya.

Kemudian dia tiba-tiba berdiri dan memeriksa dahiku dengan punggung tangan kanannya. “Nggak panas kok..”, lanjutnya.

“Kan sudah kubilang, Mel. Aku sehat. Sehat banget malah”, sahutku sambil mengangkat kedua tanganku berpose ala binaraga.

“Oh, baiklah. Walaupun sebenarnya aku tambah nggak yakin sih..”, serunya sambil kembali duduk dan menyeruput teh botol di depannya.

Mela, nama gadis manis yang duduk tepat di hadapanku. Sudah dua tahunan ini kami berteman. Sudah dua tahunan ini pula aku selalu menjadi pendengar setianya, hampir di tiap jam makan siang. Mendengarkan kisah tragis kehidupan cintanya. Setidaknya tragis bagi dia, sedang menurutku biasa saja. Iya, dua tahun menyandang status jomblo membuatnya berlebihan dalam segala hal, termasuk dalam memposisikan dirinya sebagai wanita kesepian, tidak ada sosok pria yang mendambakan.

“Aku capek, Wen. Capek.”

“Ya udah sih, istirahat kalau emang capek.”

“Kamu teman macam apa sih? Nggak ngertiin aku.”

“Lah, terus aku musti bagaimana?”

“Dua tahun Wen, dua tahun aku sendiri. Aku butuh ada yang mengisi kekosongan hati ini. Aku butuh pacar..”

“Buat apa?”

“Biar ada yang nemenin malam minggu, nonton, makan bareng, pokoknya bareng terus..”

“Itu doang?”

“Iya.”

“Emang selama ini kamu masih ngerasa sendirian, bukannya biasanya kutemenin. Nonton, makan, jalan, kita selalu bareng gitu..”

“Tapi beda, aku mau pacar, yang mengisi kekosongan hatiku..”

“Liat ini toples,” kugeser sebuah toples berisi kerupuk udang ke depannya. “Ada isinya nggak?”

“Iya, tinggal dua kerupuk.”

“Ambil deh kerupuknya.”

Mela mangambil dua kerupuk udang yang tersisa di toples dengan kebingungan.

“Terus diapain?”

“Diapain? Ya dimakan lah. Mari kita makan kerupuk.” Kuambil satu kerupuk dari tangannya langsung kumakan. Mela pun akhirnya mengikutiku, menghabiskan satu kerupuk udang.

“Sekarang liat toplesnya, ada isinya atau nggak?”

“Nggak ada. Kosong,” jawabnya.

“Kasihan ya udara. Jelas-jelas dia ada di sana, mengisi toples kaca. Sayangnya udara tak terlihat.”

“Maksudnya? Aku nggak ngerti.”

Kamu memang nggak bakal ngerti Mel, karena kamu juga nggak pernah melihatku. Aku cuma udara buat toples kacamu.

Suryawan Wahyu Prasetyo, Oktober 2011

3 thoughts on “Kosong Adalah Isi, Isi Adalah Kosong

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s